"Silence speaks, but sometimes it hurts."
Tepat 24 jam berlalu, dan yang kuterima hanyalah secuil kabar.
Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa. Tapi bagiku, ketika sebuah kesepakatan untuk saling memberi kabar dan berdiskusi sudah dibuat, lalu tidak dijaga, yang terasa bukan sekadar sepi—melainkan mulai muncul pertanyaan.
Apa aku terlalu banyak berharap?
Apa ekspektasiku yang terlalu tinggi?
Atau memang komunikasi yang sehat belum menjadi prioritas yang sama bagi kami?
Aku tidak ingin menjadi perempuan yang menuntut perhatian setiap saat. Aku hanya ingin merasa dihargai. Sebab bagiku, kabar bukan sekadar pesan singkat. Kabar adalah bentuk kepedulian, penghormatan, dan usaha menjaga kepercayaan.
Hari ini aku belajar, sebelum melangkah menuju pernikahan, bukan hanya rasa yang perlu diyakinkan, tetapi juga cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan saling menghargai.
Ya Allah, jika ini adalah jalan yang baik untuk agamaku, lapangkan hatiku dan mudahkan urusannya. Namun jika Engkau sedang menunjukkan sesuatu yang perlu kuperhatikan sebelum mengambil keputusan besar, berilah aku kebijaksanaan untuk melihatnya dengan jernih, bukan hanya dengan air mata.
Aku tidak ingin memutuskan karena emosi. Aku juga tidak ingin bertahan hanya karena takut memulai lagi.
Bismillah. Semoga Allah membimbing setiap langkahku menuju keputusan yang paling diridhai-Nya.














