"Kebahagiaan dan keceriaan mungkin bisa dicari tetapi orang yang memberikan kebahagiaan dan keceriaan itu tidak bisa dibeli."
Mungkin itulah yang kamu rasakan saat ini, kehilangan seseorang yang bahkan tidak akan bisa dibeli atau digadai oleh apapun di dunia ini. Seseorang yang paling dekat denganmu, mengerti dan peduli terhadapmu, menjadi teman curhatmu, menjadi sosok yang memberikan sebuah pelukan dan kehangatan ketika di rumah. Itulah yang mungkin bisa sedikit kusimpulkan tentang beliau bagimu ketika mendengarmu bercerita tetapi aku yakin dia lebih dari apa yang aku dapat simpulkan bagimu. Ya dia adalah ratu yang amat kamu sayangi dan cintai, Ibundamu.
Kehilangan seorang Ibu di usia beliau yang masih tergolong muda dan dipanggil di waktu yang tidak sama sekali disangka itu pastilah sangat berat bagimu dan aku bisa mengerti perasaanmu itu.
Saat berkunjung ke rumahmu dan melihat sosokmu, aku tahu dan dapat melihat dari raut wajahmu. Itu adalah raut wajah yang masih kaget dan tidak menyangka, wajah yang masih menyimpan sedih yang mendalam, kantung mata yang sembab akibat telah meneteskan banyak air mata, itu semua bisa kulihat dari wajahmu.
Lalu disaat yang lain bertanya ingin tahu bagaimana kejadiaan yang terjadi, lalu dirimu mulai bercerita saat itulah aku benar-benar tidak berani menatap wajahmu dan terdiam, ditambah dengan suaramu yang agak sedikit berat dan sesak seolah menahan agar tidak ada air mata yang keluar dan menangis. Maaf bukan karena maksud apa-apa tetapi aku memang tidak bisa, jika hanya mendengarmu bercerita dengan nada suaramu yang masih terdengar sangat sedih itu saja bisa membuatku membayangkan dan merasakan bagaimana khawatirnya dirimu saat itu, lalu kesedihan ketika mengetahui bahwa Ibumu telah berpulang, aku bisa merasakan juga kesedihan itu. Jika saat itu aku juga melihat ekspresi wajahmu ketika bercerita mungkin air mataku ini tidak bisa lagi kutahan dan dalam pikirku, aku dan teman-teman berkunjung ke rumahmu bukan untuk menambah kesedihanmu, tetapi ingin setidaknya bisa meringankan kesedihanmu walau hanya sedikit.
Disaat telah selesai bercerita, barulah aku bisa sedikit tenang karena teman-teman bisa membuat suasana yang lebih enak dengan guyonan dan candaan mereka dan melihatmu juga ikutan bercanda, tersenyum dan juga ikut tertawa, dalam hati aku sungguh berterimakasih kepada mereka yang bisa dan berhasil membuat suasana lebih enak dan membuatmu bisa tersenyum dan tertawa seperti itu karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, semuanya karena mereka hehe ^__^.
Lalu selepas dhuhur sempat berbincang sedikit dengan Bapakmu, mendengar beliau juga bercerita tentang kejadian saat itu, aku juga bisa melihat dari raut wajah beliau bahwa itu ekspresi yang sama dengan dirimu, ekspresi yang masih tidak percaya dan memendam kesedihan yang mendalam, akhirnya memutuskan tidak ingin bertanya lebih jauh tentang kejadian saat itu karena tidak ingin melihat beliau tambah sedih. Dan setelah itu apa yang dibahas adalah topik lain dan beruntung juga karena ada sosok teman laki-laki sehingga topik yang dibahas bisa sampai pesta durian Wonosalam, yang entah mengapa aku baru tahu bahwa ada event pesta durian tahunan seperti itu (apa event itu memang terkenal ya atau aku saja yang kurang gaul? Hehe), maklum bukan penikmat durian hehe. Melihat beliau bercerita bisa sampai tersenyum dan tertawa, aku berterimakasih dalam hati dan beruntung teman laki-laki bisa ikut ke rumahmu. Aku bahkan tidak melakukan apa-apa, semuanya karena dia hehe ^__^.
Lalu saat ingin ijin untuk pamit pulang barulah aku bisa melihat sekilas ekspresi wajah dari adikmu karena sedari tadi belum melihat sosoknya. Saat itulah aku juga mengerti bahwa itu sama dengan ekspresi darimu dan juga dari Bapakmu pada saat awal tadi. Bahkan mungkin dialah yang masih sangat sedih saat itu dan aku bisa mengerti itu.
Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa-apa dan maaf aku juga bukan orang yang pandai menyemangati seseorang.
Tapi yang aku tahu, Allah tidak akan memberikan ujian kepada seseorang melebihi batas kemapuannya dan Allah memberikan ujian kepada orang yang dicintai oleh-Nya. Karena itu aku percaya Allah mencintaimu dan memberikan ujian yang beruntun padamu untuk meninggikan derajatmu, aku percaya kamu perempuan hebat, perempuan kuat dan bisa melalui ujian yang sangat berat ini, karena kamu masih punya keluargamu, Bapak dan adikmu dua sosok yang paling berharga bagimu saat ini, lalu sosok teman dan saudara yang dengan mereka kamu masih bisa berbagi senyum dan tawa bahagia, lalu rekan kerja yang bisa menjadi penghibur lara sekaligus menjadi sahabat ketika jauh dari rumah, dan yang paling utama kamu masih memiliki-Nya, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sediakanlah tempat terbaik dan ternyaman untuk beliau, Ibundamu, karena tempat terbaik dan ternyaman bagi seseorang adalah ketika namanya disebut dalam setiap lantunan do'a yang dipanjatkan. Do'akan lah selalu beliau dalam setiap lantunan do'a mu.
"Tugasku telah selesai untuk membahagiakan beliau, tetapi lantunan do'a ini tidak akan berhenti sampai disini. Tugasku telah selesai untuk menjaga beliau, tapi aku yakin dan percaya bahwa penjagaan-Nya lah sebaik baik penjagaan."
Aku sangat suka dengan kalimat yang kamu tulis itu ^__^
Tetap semangat, yang sabar dan tabah. Lalu tetaplah berusaha untuk tersenyum dan tunjukkan bahwa kamu telah menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya ^__^
"Semoga segala amal kebaikan beliau semasa hidupnya diterima oleh Allah dan mendapat kebaikan di sisi-Nya. Lalu segala dosa dan kesalahan beliau dapat diampuni oleh-Nya. Dan semoga beliau mendapat terbaik di sisi-Nya. Aamiin"
Maaf apabila semua ini hanya dapat kusampaikan lewat sebuah tulisan karena kemampuanku berbicara di depan orang tidak sebaik dan selancar dibanding dengan saat aku menulis (walau kebanyakan tulisanku masih juga belepotan sih, termasuk tulisan ini juga keliatan belepotan kayaknya hehe maaf)
Tetap Semangat, untuk Kamu Perempuan Kuat ^__^
09-07-2019, tulisan dikala gemerlap bintang malam.