Diriku, kesempatan baik seorang hamba itu berbeda porsinya. Ada kalanya kita diminta berhenti, bukan untuk menjadi manusia paling akhir dalam pencarian, tapi manusia yang sedang diajari arti berhati-hati dan sabar menempa harapan.
Diriku, untuk menuju sesuatu, jalan yang kita lalui tidak akan semudah seperti saat kamu kecil. Masih menjadi manusia yang serba ditumpu dan dibimbing dengan apik oleh orang tua. Dipeluk dengan dekapan paling hangat oleh orang-orang terkasih, juga lebih coba di mengerti oleh banyak orang. Sekarang tidak begitu, kita sudah menuju dewasa, nuansa dan kondisi kian berbeda. Kamu tak jarang berseteru, menerjang bala dengan kaki sendiri, tidak ada lagi peluk hangat yang saban hari datang saat pelupuk ingin menemui pulang. Maka, mohon lebih tangguh dalam menuju, ya.
Diriku, terhadap orang-orang yang kian hari kian memiliki harapan kepadamu, mohon bersabar dan hargailah. Pertama, itu adalah petunjuk untukmu terus memantapkan hati dan berupaya tetap hidup dengan prinsip yang kamu miliki. Kedua, itu adalah pupuk kesabaran untuk kamu tetap hidup dengan tidak tergesa-gesa dalam mengambil setiap putusan dari jalan penantian yang kamu rapihkan habis-habisan. Kamu, perlu lebih selektif tentang siapa yang diizinkan untuk memasuki hidupmu dan siapa yang kamu izinkan namun hingga hanya ambang pintu.
Diriku, tolong untuk tetap siap dan sigap dalam tiap keputusan yang perlu diambil dengan tindakan yang bijak, jangan sampai menyakiti dan merugikan orang lain bahkan menyalahi aturan dari Sang Maha Bijaksana.
Diriku, untuk segala sesuatu yang telah dimulai langkahnya, tolong laksanakan dengan bertanggung jawab dan penuh perhatian. Katakan dengan penolakan halus jika kamu tidak sanggup menjalaninya. Dan katakan iyah dengan penuh pertimbangan jika kamu yakin akan banyak mengambil hikmah dan pelajaran darinya.
Diriku, ingat siapa kamu didunia. Manusia yang tidak punya siapa-siapa dan tidak akan hadir selamanya. Maka buatlah jejak yang meskipun tidak akan sempurna namun ia dapat berguna dan berkesan selamanya. Namamu harus dapat tertinggal di bumi dan tersimpan pada banyak hati terbaik.
Jagalah dirimu, beri banyak kebaikan pada duniamu.
Diriku, aku sayang kamu. Selamanya.
Penghujung sore, di tempat aku biasa menghabiskan waktu. Bandung 28 Agustus 2022
Barangkali, sesuatu hilang dari genggaman kita karena ada sesuatu lain yang seharusnya tidak kita punyai, tapi kita tetap ambil, kemudian diambil lagi oleh Sang Pencipta, bisa dalam bentuk kehilangan, barang yang rusak, atau harga yang naik.
Tapi sering kali, respon kita justru mengeluh dan menyalahkan yang lain sampai lupa introspeksi, begitu bukan? :(