Biarlah, biar saja kita tidak mengambil kesempatan untuk dikenal lebih banyak orang. Asalkan kita tidak melanggar aturan Allah.
“Kan hanya salaman?”
“Hanya? Hmmm”
Xuebing Du

JVL

bliss lane
taylor price

oozey mess
Misplaced Lens Cap
RMH
Mike Driver

No title available
No title available
noise dept.
wallacepolsom
Game of Thrones Daily

ellievsbear
d e v o n
$LAYYYTER
we're not kids anymore.
Jules of Nature
tumblr dot com
Sweet Seals For You, Always

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Germany
seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from United States

seen from India
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
@unurulafifah
Biarlah, biar saja kita tidak mengambil kesempatan untuk dikenal lebih banyak orang. Asalkan kita tidak melanggar aturan Allah.
“Kan hanya salaman?”
“Hanya? Hmmm”
Membaca tulisan yang baik adalah salah satu cara agar bisa menulis dengan baik.
Tulisan seperti apa?
yang memberi tahu kebenaran tanpa menghakimi yang salah yang memberi tahu pilihannya tanpa menyalahkan pilihan orang lain yang memberi kabar bahagia tanpa melukai yang sedang bersedih yang memberi tahu kebaikan tanpa menyakiti yang masih belum baik
yang seperti itu... semoga bisa kita temui karena sering kali perbincangan pertemuan diganti dengan tulisan, maka tulisan juga menjadi lisan
Barangkali, sesuatu hilang dari genggaman kita karena ada sesuatu lain yang seharusnya tidak kita punyai, tapi kita tetap ambil, kemudian diambil lagi oleh Sang Pencipta, bisa dalam bentuk kehilangan, barang yang rusak, atau harga yang naik.
Tapi sering kali, respon kita justru mengeluh dan menyalahkan yang lain sampai lupa introspeksi, begitu bukan? :(
Mas, tenang aja. Kita tidak sedang merelakan apa-apa. Biar orang lain berkata "eman" dan menyayangkan keputusan ini. Tapi aku percaya mas, kita udah minta sama Allah untuk ditempatkan di tempat terbaik. Yang buat iman kita bertambah, insyaallah. Aku bakal jadi supporter terdepan mas dan akan selalu bilang, mas ga salah ngambil keputusan ini. Karena mas sedang melakoni kewajiban sebagai suami. Karena Allah ya mas.. Terima kasih mas.
karena aku sangat mudah untukmu
karena aku sangat mudah untukmu.
kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.
kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.
kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.
kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.
karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.
semoga aku sangat berarti untukmu.
Mana bisa aku menolak saat itu? Sementara kamu datang dengan segudang kepastian, pengorbanan, dan tentu saja tanggung jawab.
Tidur
“Kan lebih baik tidur dari pada bergosip, lebih baik tidur dari pada mencuri..”
Pernah dengar kalimat seperti itu? Aku pernah, di dalam pikiranku sendiri. Pada intinya, ini adalah kalimat pembenaran. Kita merasa benar melakukan sesuatu kemudian mencari pembanding lain agar kita lebih yakin. Padahal bagaimana kalau kalimat itu diubah menjadi: “Kan lebih baik berdzikir dari pada tidur, kan lebih baik tilawah dari pada tidur”
Hayo.. Skakmat kan?
Beberapa hari ini jatah tidur saya banyak, kelewat banyak malah. Sampai kepala pusing dan pundak linu.
Padahal puasa begini kita harus produktif. Bahkan di jaman Rosul dulu, pejuang islam berperang ketika Ramadhan. Sebut saja perang badar, perang kemenangan kaum muslimin di waktu ramdhan.Dan apakah mereka lemas, capek, ngantuk? Enggak 😢 Mereka percaya Allah menguatkan.
Astagfirullah.. Di kondisi skrg ini saya sedikit2 saja sudah lemas. Nyuci piring saja langsung lemes. Padahal pengen ngerasain berkeringat kayak dulu. Tapi ya sudahlah, karena amanah dari Allah yang ada di perut, saya harus ekstra hati-hati.
Kabar buruknya, saya jadi kebanyakan tidur. Dan saya rasakan dampaknya sekarang. Sakit banget badan ini. Padahal saya tahu, tidur bukan solusi yang tepat. Jadi teringat cerita ketika liburan kuliah dan saya pulang kampung dulu ..........
Jadi, waktu Faiz masih kelas 2 SD, dia sedang belajar peran keluarga dan aktivitas sehari-hari. Di sekolahnya, si Faiz diminta menyebutkan nama-nama anggota keluarga beserta kegiatan sehari-hari. Saya baru tahu ketika dia bercerita ke Ibuk sepulang sekolah dan menunjukkan bukunya.
“Ibuk, tadi Faiz dikasih tugas ini. Coba dilihat” (dengan bahasa jawa)
Ibuk ketawa..saya jadi penasaran dan melihat isi tulisan Faiz, kurang lebih seperti ini:
Bapak: kerja
Ibuk: Menjahit
Mbak Yaya: Belajar
Mbak Uyun: Tidur
Yap, dia menuliskan kalau saya kegiatannya tidur! Ya Allah jujur banget adek mbak ini. Dia menunjukkan ke gurunya seperti itu dan sudah dinilai tentu saja. Malu sih malu, tapi ternyata tidur memang yang sering aku lakukan ketika liburan semester di rumah. Bisa jadi karena sebelumnya kan ujian, otomatis jarang tidur. Jadilah di rumah hanya tidur saja (alasan). Dan anak kecil memang kelewat polosnya tak terkecuali adekku.
Aku sudah merasa bahwa kebanyakan tidur ini sudah gak sehat lagi. Semoga setelah nulis ini saya jadi produktif, setidaknya kalo gak bisa pekerjaan rumah yang berat, minimal dzikir lah. Ya Allah, semoga amanah ini tidak membuat saya bermalas-malasan.
Kepada setiap jiwa yang peluh oleh keringat: aku kagum. Aku kagum sekaligus berharap, Yang Maha Kuasa akan menggantinya dengan butir-butir pahala keikhlasan. Kau tahu? lelahmu, kerja kerasmu, dan setiap inchi kemacetan yang kau tempuh bernilai pahala. Semoga Jakarta sore ini tidak kelewat macet lagi
untuk suamiku tercinta
Ketika Allah memberi cobaan, tandanya Dia sedang sayang. Atau...Selama ini kita sudah terlalu jauh dari-Nya. Oleh karena itu, saking baiknya Allah, Dia merangkul kita lagi agar kita dekat. Karena Allah....selalu dekat, selalu
Adek sayang, kita berjuang bersama ya. Saling memudahkan, Adek yang sholih/sholihah buat Ibuk selalu sehat ya. Kita sama-sama kuat ya, Nak
Berdiri Sendiri (1-Bersyukur)
“Kamu, adalah yang menentukan perjuangan tentang kemana dan bagaimana perjalanan hidupmu, terlepas seberapa besar peran orang lain, tetap kamu yang akan mengendalikannya, dengan ijin Allah”
Munculnya “dua garis” di benda kecil yang sedang saya pegang saat itu sungguh telah mengubah banyak hal. Awalnya, saya hanya bisa diam sejenak kemudian duduk di tempat tidur, linglung. Masih belum percaya dan bingung, kemudian segera ingin menghubungi suami.
Saya sadar, ada dua hal besar yang harus saya lakukan dimulai di detik itu juga: (1)bersyukur dan (2)bersabar
(1) Saya bersyukur dan mengucap Alhamdulillah sebagai bukti rasa terima kasih saya kepada Allah. Bagaimana tidak? Dengan frekuensi pertemuan kami yang bisa dihitung dengan jari dan berlangsung hampir setahun terakhir ini ternyata diberkahi Allah. Saya menyebutnya sebagai berkah yang luar biasa. Saya termasuk perempuan yang tidak teratur dalam urusan haid (kemungkinan besar karena Ibu saya juga demikian) dan waktu bertemu suami yang tidak bisa diatur-atur seenaknya kami. Kadang saya bertemu di masa saya hampir haid, bahkan pernah sedang haid. Pertemuan kami, selain ada pembatas biaya, ada juga pembatas lain yang sulit dikendalikan: waktu. Kami punya tanggung jawab dengan pekerjaan dan amanah kami dari gaji yang kami terima setiap bulannya, dan juga ijin dari atasan. Tapi luar biasanya Allah, tidak sampai empat bulan kami ikhtiar (sebelumnya kami belum berencana memiliki anak dulu) Allah Yang Maha Baik menunjukkan kekuasaannya. Entah saya harus bagaimana berterima kasih kepada Allah, padahal saya sudah mulai over thingking dan tidak percaya diri dengan kondisi kami yang serba sulit untuk bertemu. Sampai kemudian kami memohon dengan sungguh dan berserah:
“Ya Allah, kami siap untuk diberikan amanah anak sholih dan sholihah”
Dan Allah memenuhi janjiNya. Saya percaya Allah memberikan kami amanah ini tidak lain karena kami sudah berani menyatakan siap. Seperti deklarasi kami kepada Allah, bahwa kami telah merasa siap. Kami mengambil komitmen itu.
Pandai-Pandai Bersyukur
Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmat-Nya Alhamdulillah, beribu terima kasih saya dipertemukan lagi di bulan ramadhan ini. Tentu saja ini hal yg luar biasa dan patut saya syukuri karena kali ini Allah membuka pintu surga seluas-luasnnya. Allah memberi kesempatan lagi kepada saya untuk memperbaiki dari kesalahan dan maksiat di tahun lalu. Ramadhan kali ini sangat berbeda menurut saya, sepertinya Allah melatih diri saya untuk pandai dalam bersyukur. Kali ini Allah menitipkan amanah yg luar biasa besar: hamil. Alhamdulillah sudah memasuki minggu ketujuh. Amanah ini saya anggap cukup berat terutama di bulan suci ini. Tapi saya sangat percaya dengan janji Allah yang tidak akan memberi ujian melewati batas kemampuan hambaNya. Rasa ingin diperhatikan lebih dalam kondisi hamil relatif muda ini sering datang. Tapi Allah sedang mengajarkan untuk bergantung hanya padaNya. Sedangkan suami dan keluarga berada di pulau yang berbeda dengan saya. Dalam kondisi ini saya bisa dikatakan harus melakukan semuanya sendirian. Termasuk menyiapkan makan dan mengurus semuanya, plus masih ngantor. Kalo tidak karena bantuan Allah sudah pasti saya menyerah. Tapi dengan segala "ketidaknyamanan" kondisi ini Allah menjaga saya untuk tidak mual berlebihan hingga muntah selama kehamilan awal ini. Allah memberikan suami yg bisa dipercaya disana, dan mandiri tanpa harus diurus istrinya. Allah memberikan keluarga yang hangat meski jauh. Dan Allah memberikan rizki agar disini saya bisa mencukupi segala kebutuhan selama ada calon anak sholeh sholihah di dalam perut. Syukur itu harus kita cari, agar kita tidak terjebak dalam kufur. Bismillah semoga ramadhan kali ini iman saya bertambah.
Ujian Terberat
Duhai Rabb-ku, yang dengan kekuasaan-Nya mampu menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Engkau adalah saksi bagaimana air mata ini bahkan telah kering. Ya Rabb, barangkali ini adalah ujian terberat hamba di 23 tahun terakhir Engkau berikan nyawa : berpisah dengan suami. Dan semoga benar ini adalah ujian ya Allah, supaya hamba bertambah keimanan kepada-Mu Selama ini, ujian tidak pernah seberat ini. Ujian sekolah, ujan kuliah, ujian skripsi, bahkan ujian sakit tidak pernah sesakit ini. Engkau Maha Melihat bagaimana dada ini sesak menahan rindu pada suami. Hingga isak tangis di ujung sepertiga malam-Mu tak terbendung Sungguh Allah, tidak sedikit pun aku mencintainya lebih dari cintaku pada Rabbku, Engkau Yang Maha Penyayang. Aku mencintainya karena-Mu insyaallah. Ya Allah Yang Maha Cinta, permudah hamba untuk taat kepada suami seperti yang Engkau perintahkan. Berikan hamba rasa sabar yang berlimpah dan rasa syukur yang mengucur. Saksikan kami, yang dengan ijinMu akan lebih taat jika bersama. Ampuni dosa kami yang telah menjauhkan kami dari Mu. Duhai dzat Yang Maha Pengasih, kami telah berikhtiar dan sungguh hanya Engkau Yang mampu menolong kami. Tempatkan kami bersama ya Allah, dimana kami akan lebih dekat kepada Mu. Amiin....
Belajar Melihat Sesuatu
Begitu banyak hal yang bisa kita lihat di sekitar kita, salah satunya adalah materi yang dimiliki orang lain. Barangkali kita keliru memandang apa yang dititipkan Allah kepada mereka, maka dalam “melihat” pun, kita perlu belajar.
Jangan melihat dari seberapa tinggi nilai dan prestasinya, tetapi lihatlah apakah ilmunya bermanfaat kepada orang banyak.
Jangan melihat dari merek dan bagusnya sepatu, tetapi lihatlah kemana sepatu itu dilangkahkan. Ke majelis ilmu kah? Ke rumah Allah kah?
Jangan melihat bagus tidaknya baju seseorang, tetapi lihatlah bagaimana ia bisa menggunakan baju tersebut untuk menjaga kehormatan dengan menutup auratnya.
Jangan melihat dari motor atau mobilnya yang keren, lihatlah kemana motor dan mobil itu dibawa. Apakah untuk beribadah atau justru ke tempat2 yang dibenci Allah?
Jangan melihat status rumah dan mewahnya rumah yang ia miliki, lihatlah bagaimana ia berusaha untuk tidak mengambil jalan riba (meminjam dengan bunga) karena sungguh ia sangat takut dengan azab Rabb-nya.
Janganlah melihat seberapa gendut rekeningnya, lihatlah berapa banyak yang disisihkan untuk mereka yang lebih membutuhkan.
*terkisah sahabat Rasul, Ali bin Abi Thalib, beliau lari terbirit-birit saat ditunjukkan Istana megah yang dipersembahkan untuk beliau tinggali ketika beliau menjadi Raja/Khilafah kala itu. “Sungguh, dunia selalu mengejarku dan menginginkanku tapi aku selalu berusaha lari dari padanya dan tidak menginginkannya dalam genggamanku”
Debu Debu
Ada yang sudah dijamin masuk surga oleh Sang Pemilik Surga, tapi beliau masih menjalankan sholat malam menghadap Rabbnya hingga kakinya bengkak saking lamanya beliau berdiri
Ada yang sudah disabdakan Rasul bahwa ia termasuk ahli surga tetapi beliau di setiap tahajudnya menangis memohon ampun kepada Allah hingga matanya bengkak dan cekung oleh genangan air mata
Ada pula yang digelari Shiddiq oleh Rasul, juga termasuk satu diantara sahabat yang masuk surga, tapi beliau tetap sholat witir, yang di satu rakaatnya beliau mengkhatamkan satu Al-Quran
Duhai Yang Maha Besar, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu di langit dan bumi, lantas apa yang perlu saya sombongkan? Dijamin surga tidak, tapi sering kali bermaksiat kepada-Mu, masih minim beribadah kepada-Mu
Bahagiaku Bahagiamu Bahagia kita
Bahagia
Ada orang yang hobi belanja dan jalan-jalan, maka ia akan bahagia begitu masuk mall, pusat perbelanjaan, foodcourt. meskipun ia harus bersusah payah menuju kesana Apakah orang yang tidak ke mall lantas dibilang tidak bahagia? Tentu saja tidak, karena ternyata ada juga orang yang hidup berdampingan dengan mall tetapi tidak ke mall. Kenapa? karena bukan mall yang membuatnya bahagia. mungkin nasi uduk sebelah rumah sudah membuatnya bahagia.
Ada orang yang suka sekali membagikan moment2 setiap waktu ke medsos, barangkali untuk membuat orang lain ikut bahagia. Begitulah caranya agar dia bahagia. Hei, apakah orang yang jarang upload di medsos, bahkan yang tidak punya medsos bisa dibilang tidak bahagia? Tentu saja tidak, kan? Karena bisa jadi orang itu sibuk bahagia sehingga sampai lupa untuk update di medsos. #Dan boleh jadi ia memang tidak punya kuota (ini sih saya sendiri wkwk)
Ada orang yang hidupnya serba ada, terlihat bahagia dengan semua fasilitas. Sebut saja apa yang dibutuhkan, maka semuanya bisa ia punya. Tapi ternyata ada juga yang memilih untuk hidup sederhana, karena dia memilih bahagia dengan seberapa banyak yang dia berikan kepada orang lain.
Bahagia bukan sesuatu yang bisa dipukul rata, tidak bisa diukur dengan indikator yang sama. Setiap orang memiliki definisinya yang tidak bisa dibandingkan. Lain halnya dengan data BPS, sudah bisa dibandingkan #eh
Tidak ada yang salah dengan yang suka ke mall dan tidak, pun yang suka share "their best moment" ke medsos atau yang memilih menikmati sendiri. Yang jelas, kita tidak bisa menilai kebahagiaan orang lain. Tidak bisa bilang si A lebih bahagia daripada si B karena eh karena mereka memiliki definisi bahagianya sendiri.
Dan dari kesemuanya, saya percaya ada bahagia yang memiliki level paling tinggi. Kebahagiaan yang sempurna. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan-Nya. Menaati semua perintahNya dan menjauhi semua Larangan-Nya. Orang-orang ini yang paling patut kita contoh kebahagiannya karena mereka dekat dengan surga.
Allah loves you
“Kebahagiaan itu hadir ketika kita tak membanding diri kita dengan orang lain. Kita beda cita, beda jalan, beda kesempatan, beda kelebihan, beda kekurangan. Maka tak perlu banyak membandingkan jika itu hanya akan membuat pesimis dan rendah diri. Jadilah diri sendiri, syukuri semua karunia yang di peroleh, dan kerjakan yang terbaik yang kita mampu, insyaAllah dengan itu kita menjadi pribadi yang berkarakter.”
Dont Cry, Allah Loves You
Apa lagi yang bisa kulakukan jika ini adalah hal terbaik yang mampu kuperbuat. Maafkan bila lisan ini tak cukup membuatmu bahagia. Semoga doa bisa menggantikan kehadiranku disana.