Rasisme, kelas sosial & minimnya privasi saat bekerja Kuwait
Tepat di lantai 7 sebuah apartemen di Sabah Al-salem aku menghabiskan hari-hariku. Mulai dari mempersiapkan diri untuk bekerja, memasak makanan untuk bekal, & aku slalu memaksakan diri makan sebelum pergi bekerja. Komitmenku adalah, aku tak boleh membawa penyakit ketika aku pulang ke Indonesia nanti.
Saat musim dingin tiba, aku membuka jendela kamar untuk melihat pemandangan laut yg tak jauh dari tempatku tinggal. Siapa sangka, aku yg begitu ingin berada di dekat laut kini mimpi itu menjadi kenyataan. Sepoi-sepoi angin masuk ke jendela kamarku, sesekali mobil lewat, orang-orang berlalu-lalang. Kehidupan yg lebih individualis ini, aku syukuri. Ada saat dimana beberapa bulan aku tinggal bersama seorang temanku dari Indonesia, bekerja sbg barista di perusahaan yg sama. Ada saat, selama berbulan-bulan aku sendiri, slalu menutup pintu, bergaul seperlunya.
Langit yg tak pasti warnanya, kadang biru atau putih. Musim ekstrim adalah alasan aku merindukan Indonesia. Di sisi lain banyak hal yg aku syukuri. Namun, bukankah manusia diciptakan dengan emosi?
Manusia adalah makhluk bercerita. Di sinilah aku belajar bahwa apa yg kamu rasakan, tidak membutuhkan validasi dari siapapun. Bedanya, aku cukup vocal di tahun aku kedua di Kuwait. Jauh dari orang-orang terdekat justru membuat daya bertahanku jauh lebih baik.
Aku melihat tak sedikit orang yg slalu memuji apa yg aku posting di media sosial. Rata-rata mereka bertanya bagaimana aku bisa kelur negri, & di tambah dengan hal-hal baik yg aku tunjukan ketika aku tinggal di sana.
Sebelumnya aku sudah menulis hal-hal menarik dari negara gurun ini. Kali ini, aku mencoba menjelaskan fakta-fakta yg aku lihat, & alami selama bekerja di sana.
Rasisme, & kelas sosial di Kuwait
Sebagai salah 1 negara penghasil minyak, orang pasti tahu negara ini sangat kaya. Tak segan-segan para pengusaha berani membuka loker bagi orang-orang asia, & mampu menanggung banyak fasilitas seperti visa kerja, apartemen, transportasi, & bahkan tiket pesawat gratis. Tentu saja ini menjadi kesempatan besar bagi pencari kerja. Entah berapa banyak orang yg berasumsi jika gaji orang asia di sana besar. Faktanya gaji orang asia, & orang arab berbeda jauh. Bagaimanapun juga expat bukan penduduk asli & orang-orang asli sana mendapat privilege. Hal yg tak kalah mengejutkan adalah, orang berkulit putihpun mendapat gaji lebih tinggi. Ini sudahku buktikan di tempat kerjaku sendiri. Walaupun gaji di sana lebih tinggi dari pada di Indonesia.
Sesama orang asia selatan & asia tenggara rasis. Karna tingkat individualis lebih tinggi di sana. Lebih mementingkan kepentingan sesama orang 1 negara. Keterbatasan bahasa membuat orang-orang di sana lebih nyaman bersosialisasi sm sesama negara. Di Kuwait, tak perlu lancar bahasa inggris, sudah bisa ke sana. Maka jangan heran kalau kesalah-pahaman sering terjadi karna bahasa. Saat di sana aku mengerti sedikit bahasa tagalog, & hindi. Bagaimana tidak, mereka sering berbicara bahasa mereka depanku bahkan di saat jam kerja. Kemudian, saat aku ke restoran/cafe, mereka selalu menatapku & bertanya apakah aku orang filipina atau bukan. Karna aku orang asia, mereka seringkali tidak memperlakukanku dengan baik sbg customer, seperti kejadian aku sedang makan, bbrp staf berbicara di dekatku & menyebutku chilli girl. Saat aku complain melalui pesan lewat instagram, memang di tanggapi namun tak banyak yg bisa mereka lakukan.
Tak banyak orang asia bergaul dengan orang arab. Rasa minder, & tidak akan di anggap salah 1 alasannya. Belum lagi kelas sosial yg seolah membatasi mereka. Faktanya, aku merasa beberapa orang arab yg ku kenal baik, & ramah. Tak semuanya sombong Aku tak heran, saat aku menjadi bahan obrolan teman-teman kerja karna aku kenal beberapa orang arab, jalan bersama mereka, & makan bersama.
Superiority complex yg dimiliki orang arab (aku tekankan, tidak semuanya) membuat mereka kadang bisa seenaknya memperlakukan para expat). Beberapa kali aku membayar makanan customerku karna ada kesalahan seperti rambut, salah order, bahkan keterlambatan. Ya saat ada tips, di bagi bersama namun ketika ada kesalahan hanya 1 orang yg menanggung.
Saat aku bekerja di cabang salhiya, ada seorang hostess/manager Arab yg dia tidak akan ikut bekerja sama sekali bahkan ketika para waitress sibuk & sangat lelah. Seberantakan apapun keadaan di dining, dia hanya akan menerima order, & mengarahkan tamu. Dari sinilah aku menyimpulkan bahwa ketika hostess/manager berasal dari Asia, akan ikut membantu termasukan bersih-bersih, membantu para waitress karna ada stereotype kalau orang dari asia layak jadi pembantu & orang arab adalah Raja/Ratu. Selama aku di sana, hanya dirikulah yg dapat mengatasi burn out di tempat kerja,
Kehidupan orang-orang Kuwait yg sangat makmur dengan segala fasilitas dari Emir Kuwait, juga membuat mereka tak suka melakukan pekerjaan rumah. Saat aku melayani, & setelah selesai, aku tahu jika seseorang itu orang arab/bukan, apakah mereka orang arab yg suka merantau/yg memang tahu cara membersihkan rumah atau tidak.
Common sense yg tidak jalan, membuat kepalaku ingin pecah saat melihat meja setelah mereka makan sudah seperti titanic, daging dari mulut berantakan, piring, pisau/garpu tidak teratata dengan rapi. Kemabli lagi ya “customer adalah raja/ratu, & slalu benar”. Mereka tidak akan mau tahu apakah pelayan sibuk atau tidak. Belum lagi budaya customer service di restoran arab berbeda dengan di Indonesia. Aku membayangkan bila orang-orang seperti itu ada di Indonesa, mereka sudah viral haha.
Beberapa kali aku melihat ART yg tidak makan di tempat yg sama dengan majikan mereka. Ekspresi takut terpancar dari bahasa tubuh mereka. Pernah saat aku sedang bekerja seorang ART filipina masuk & bertanya apakah aku boleh masuk. Aku terheran-heran, & berkata “tentu saja boleh”. Situasi ini menggambarkan betapa mereka takut & merasa minder
Orang-orang di Kuwait di kenal suka sekali produk branded. Tak heran aku beberapa kali mendapat komentar kurang baik dari teman kerja(orang asia) karna aku suka memakai hp cina, bukan iphone (teman kerja hampir smua pakai brand ini) & apa yg ku pakai tidak ada yg branded. Padahal aku merasa sangat cukup. Bagiku, yg paling penting adalah kebutuhan pokok yaitu makanan. Tidak masalah tidak mempunyai produk yg wow.
Kenihilan privasi
Saat bekerja, kita adalah milik perusahaan. Saat kita libur, kita adalah milik kita.
Aku tidak pernah merasa nyaman saat aku bekerja, orang bertanya, membahas urusan pribadiku. Terutama saat mereka berasumsi banyak hal. Apalagi aku adalah orang yg tidak bisa diem, & aku benar-benar tidak peduli apa kata orang. Yaa akhirnya aku hanya manusia biasa.
Kegiatan aku di luar menjadi bahasan beberapa teman kerja, kebiasaanku ke Salhiya Complex juga. Aku pergi ke cafe % Arabica tepat di belakang resto tempatku bekerja, membuat orang-orang di tempatku bekerja tak berhenti bersuara tentang urusanku. Padahal aku tak pernah mau tahu urusan mereka. Bahkan aku di kira tinggal di luar karna aku sebelum closing shift, tak menggunakan bis company tp bis umum. Tak jarang juga teman-teman kerja ada yg mengeluh bagaimana gaji mereka, mereka pakai untuk keluargga mereka, secara tidak langsung mereka mununjuk bahwa aku lebih beruntung ahaha. Aku tak pernah cerita apa-apa tentang hidupku. Lagi-lagi aku adalah seorang yg sangat tertutup, & tidak mengkonfirmasi. Saat orang-orang selalu bertanya apakah aku hang out dengan orang arab, & mau nikah sama orang arab. Aku bukan seorang public figure saja, pertanyaan ini slalu ada. Kalau iya jg, bukan urusan teman-teman kerjaku.
Aku mempunyai kesulitan untuk menjadi individualis saat aku istirahat ketika bekerja. Karna aku menemui beberapa temanku di luar, aku nongkrong di cafe sendiri Aku tak bisa bersosialisasi dengan orang itu-itu saja, & memang sudah kebiasaanku untuk menyapa teman-teman lainnya.
Ini alasan aku menjadi sangat tertutup, & lebih anti sosial. Bagiku, urusan pribadi tidak boleh di bawa-bawa ke tempat kerja. Kemudian, aku juga kesulitan berkomunikasi. Masa-masa burn out membuatku kadang sulit berbicara jelas, suara keras dari teman kerja lainnya membuatku sulit konsentrasi. Rasa deg-degan tak dapat ku kendalikan.
Maka hal yg dapat ku lakukan adalah mengubah kebiasaanku. Tidur cukup, berani menentang bahkan ribut sekalipun. Percayalah, dunia f & b itu keras sekali. Kalau cengeng, makin di bully. Kalau ada masalah, entah itu kamu yg salah atau tidak, jalani & hadapi.
Pada akhirnya, kamu yg tahu diri kamu & seberapa jauh kamu memperbaiki kesalahan-kesalahan kamu.
Ada hal-hal yg aku kurang mengerti juga. CEO atau pemilik company benar-benar di jadikan seperti Raja. Di takuti, di perlakukan seolah-olah kita tidak bisa sedikitpun pergi dari dining kalau mereka ada. Pembahasan secara berlebihan pun membuat aku mengerti mengapa orang-orang filipina sulit bersosialisasi sm orang-orang arab. Mungkin karna melihat mereka sebagai orang-orang kelas atas.
Hingga saat terakhir aku bekerja, tak pernah sekalipun aku dapat berbicara dengan CEO, pemilik company kecuali hanya ketika aku melayani mereka. Ingin sekali aku mengenal orang yg sudah mempekerjakanku di perusahaan mereka.
~KP









