Sudah kubilang berkali-kali kesempatan, kan? Langit dan pepohonan disini masih selalu cantik. Kalau kamu nggak percaya, sini duduk disampingku. Pasti kamu menolak pulang. candi kedung songo bandungan. 2015.

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from T1
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from France

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Netherlands
seen from China

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Australia
seen from Germany
Sudah kubilang berkali-kali kesempatan, kan? Langit dan pepohonan disini masih selalu cantik. Kalau kamu nggak percaya, sini duduk disampingku. Pasti kamu menolak pulang. candi kedung songo bandungan. 2015.
Mendung menggantung Serupa enggan, selayak segan Seperti dia yang sialnya kau jadikan idaman di seberang sana membalas pesan Setengah mati ogah-ogahan Biarkanmu tergantung Bergumam sendiri terkatung-katung Berharap jadi Ratu berujung sekedar kacung Berdiri di tikungan setengah bingung Terlalu malu untuk meraung-raung Tahu diri, kau pun diam termenung Letakkan hatimu di kaki waktu yang menggaung Biar menggantung Seperti mendung
Kidung Mendung (ZS)
Kamu itu bahasa?
Sebab darimu, aku menemukan karya-karya, menggoreskan aksara-aksara, merangkai kata-kata, membentuk rima-rima.
Di antara kertas dan pena, kamu selalu mendatangkan rasa yang berlaksa-laksa.
Di antara b-c-d-a, kamu menciptakan bait- bait irama.
Kamu selalu ada setiap aku membutuhkan makna.
Bagiku, kamu adalah indonesia, arab, inggris dan jawa.
Tak akan ada sastra jika tidak ada bahasa.
Ah iya, kamu itu sastra.
Sebab tanpa kehadiranmu, tak akan ada syair, talibun, gurindam, karmina.
Sebab tanpa kehadiranmu, tak akan ada hikayat, dongeng, cerpen, novel, prosa.
Sebab tanpa kehadiranmu, tak akan ada pementasan drama.
Sebab tanpa kehadiranmu, tak akan ada aku yang berkembang.
Menjadi aku yang sekarang.
Maka, tinggalkan aku seutuh-utuhnya. Cintai dia secukup-cukupnya. Aku telah pasrah, atas nama Semesta.
Haaaa
Atlas
Kamu adalah sebuah dunia.
Setiap bagian tubuhmu adalah kota-kota.
Setiap inci kulitmu adalah jalan-jalan yang kutelusuri.
Tapi sayangnya, disana aku tersesat.
Tolong, tunjukkan petamu.
Biar aku bisa;
pulang.
6 Mei. 15.37.
Sebuah tempat makan didekat stasiun Bogor. Pelangi terakhir bersama camelio dari kerajaan seberang. Suara adzan. Lemon tea. Jaket yang belum dicuci. Senyum termanis dan tersabar sedunia.
Terserah kamu mau pergidan menjajaki rumah manapun untuk sekarang. Aku membebaskan. Tapi pahamilah satu hal. Kau tak akan bisa berbuat apa-apa kalau Tuhan telah menakdirkan aku menjadi rumah tempat kamu pulang nanti.
Kamu bisa apa?
Kamu mintanya es teh. Tapi aku maunya ngasih kamu bunga. Akhirnya aku ngasih kamu aqua. Tapi katamu, aqua kan nggak ada rasanya? Karena kamu ngeyel dan akunya dah geregetan, aku kasihin aja kamu kopi. Kopi tanpa gula. Yang pahit. Dan dingin. Terus malah aku kasih garam didalamnya. Oh, tentu, buat ngusir ular... yang ada dikepalamu.
kak Indira, ular apa naga? @sendingfailed