Dialog ayah & Anak laki-laki
(Inspirasi Kisah Nabi Ibrahim & Ismail)
Oleh : Mochamad Jamaludin, S. Ag
Ada sebuah kisah yang luar biasa dalam Al-Quran, yang kalau kita baca secara seksama maka kita akan menemukan sebuah ilmu parenting yang sangat indah didalamnya, bahkan yang kerennya lagi kisah ini di tokohi oleh dua orang manusia yang mulia yaitu nabi Ibrahim & Ismail.
Allah berfirman didalam surat As-Saffat ayat 102-107:
"...Maka ketika anak itu sampai pada (usia) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!'
Dia (Ismail) menjawab ; 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' ... Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
Dalam dialog ini kita akan menemukan sosok karakter ayah berusia 99 tahun yang penuh dengan kebijaksanaan dan seorang anak berusia 12 tahun yang ketaqwaannya tak di ragukan.
dari sini kita akan menemukan betapa berharga & mahalnya chemistry antara seorang ayah dan anak.
Dalam ayat itu setidak nya kita akan akan menemukan 5 Hikmah /pelajaran berharga, dialog nya sangat singkat dan sederhana, tapi sungguh bermakna.
Disini kita akan menemukan percakapan yang bermuatan iman, ilmu dan kasih sayang dan seakan akan memberikan gambaran untuk kita bahwa dialog ayah-anak waktu mengambil keputusan itu setidaknya mengubah 3 hal sekaligus: hubungan, karakter anak, dan kualitas keputusan itu sendiri.
Hikmah pertama, Anak merasa dihargai, ayah tidak bersikap otoriter
dalam dialog itu Ibrahim nggak bilang “Ayah dapat wahyu, kamu nurut aja ya”. Tetapi beliau bilang: “Pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”
Efeknya:
Anak suaranya punya nilai dan di hargai. Itu bikin dia nggak jadi anak yang nurut karena takut, tapi nurut karena yakin. Ismail jadi ikut pasrah bukan karena dipaksa, tapi karena diajak mikir dan dia setuju.
Dalam psikologi ini namanya autonomy support. Anak yang diajak dialog punya self-esteem lebih tinggi dan lebih patuh pada nilai yang di sampaikan, bukan cuma pada orang.
Hikmah Kedua, Keputusan jadi lebih mudah diterima
Bayangin kalau Ibrahim langsung ikat Ismail secara paksa tanpa ngomong sama sekali. Pasti ada trauma dalam hidup nya, pasti menyimpan dendam, bahkan melakukan perlawanan.
Karena diajak dialog dulu, Ismail bisa siapin mental, Ismail bisa berfikir jernih dan memberi keputusan berdasarkan iman. Kemudian Dia menjawab: “Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu”
Efeknya:
Beban yang tadi nya berat jadi ringan karena ada rasa “ini pilihanku juga”. Itu kenapa orang yang ikut proses pengambilan keputusan jauh lebih kecil kemungkinan buat ngeluh & berontak di belakang.
Hikmah Ketiga Mengajarkan nilai ketaqwaan
dalam kisah ini seakan akan memberi gambaran bahwa dialog itu kendaraan buat transfer nilai ketaqwaan. Ibrahim lagi ngajarin tauhid, tawakal, sabar. Tapi dia ngajarinnya lewat tanya jawab, bukan ceramah.
Efeknya:
Nilai yang masuk lewat dialog nempel lebih lama. Ismail nggak cuma “dengar” perintah Allah, dia “ngalamin” cara beriman lewat interaksi sama ayahnya. Makanya dia jadi nabi juga.
Hikmah ke Empat, Hubungan ayah-anak jadi kuat dan aman
Coba kita lihat ayatnya: “ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya”. dalam ayat ini ada kebersamaan antara ayah dan anak, ayah anak bukan sekedar peran yang berbeda, tetapi keduanya adalah besti hingga akhir usia.
Efeknya:
Anak jadi nggak takut ngomong sama ayah soal hal yang berat. Kalau hal nyembelih aja bisa dibahas bareng, apalagi masalah yang yang lebih ringan, Ini bikin anak nggak cari tempat curhat ke orang yang salah.
Hikmah kelima, Anak belajar cara berpikir dan mengambil keputusan
Ibrahim ngasih contoh cara nimbang wahyu, logika, dan konsekuensi. Ismail belajar cara bertawakal yang cerdas, bukan pasrah buta.
Efeknya:
Anak jadi punya template mental: “Kalau ada masalah besar, gimana cara aku ngomonginnya sama orang tua, gimana cara aku minta petunjuk Allah, gimana cara aku sabar”. Skill ini bakal dia pakai seumur hidup.
Jadi dialog itu bukan tanda ayah lemah. Malah sebaliknya, itu tanda ayah kuat karena berani dengerin dan percaya sama anaknya.


















