US Vogue December 1969
Maximilian
seen from Maldives
seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Maldives
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from Canada

seen from Australia

seen from United States
US Vogue December 1969
Maximilian
nitip
beberapa minggu terakhir saya selalu banyak bertanya mengenai pengalaman persalinan di beberapa teman. dalam waktu dekat ini, semakin mendekati HPL, saya seringkali merasa cemas dan khawatir bagaimana saya akan menghadapi dan menjalani persalinan kelak.
sampai pada akhirnya saya menemukan hikmah dibalik persalinan salah satu teman dekat. sebut saja fe. fe setiap hari berikhtiar, berusaha agar kelak bisa menjalani persalinan normal, kontraksi lancar, hingga berharap tak pernah ada jahitan di perenium (meski ini jarang terjadi di zaman sekarang). berolahraga secara teratur, ikut yoga, jalan-jalan tiap pagi. banyak yang dilakukan.
namun di tengah jalan, jauh sebelum HPL, fe mengalami KPD (ketuban pecah dini). dia sendiri tidak menyangka kenapa dia bisa mengalami KPD. padahal seperti tidak ada problem apa-apa. biasa saja. tak ada hal yang berarti yang perlu dibuat permasalahan besar.
fe kemudian memutuskan untuk rujuk saja ke rumah sakit terdekat. harap-harap cemas, semoga setelah diinduksi hingga pembukaan akhir, ketuban tidak habis di tengah jalan. namun, harapan masih terasa jauh. dari malam hari hingga sore hari berikutnya, ketuban fe telah kering.
"wah sepertinya ini sudah harus disesar saja, mbak. ketuban sudah kering." kata dokter.
tentu saja fe seperti dihantam batu dari langit. seketika fe lemas. beberapa saat, setelah suami fe menandatangani persetujuan caesar, akhirnya, fe pasrah saja.
"yasudah lah, kalau memang baby mau keluar dengan jalan disesar, gapapa. yang penting tugas ikhtiar sudah aku lakukan. sisanya kan, takdir Allah. " tulis fe di grup khusus kami.
akhir-akhir ini saya selalu melatih dan mengajak bayi saya untuk bekerja sama. bekerja sama untuk persalinan normal kelak. saya selalu bilang, yang berjuang bersama akan lebih ringan dan mudah daripada yang berjuang sendiri-sendiri.
dalam doa-doa, saya selalu menambahkan kalimat lain, "yaaAllah saya nitip anakku. nitip segala perjalanan persalinannya, nitip segala rezekinya, nitip segala kemudahan dan ataupun kesulitannya. seluruhnya saya titipkan kepada-Mu."
baru-baru ini, kata "nitip" menjadi kekuatan besar di diri saya. layaknya dongeng anak oki dan nirmala, kata "nitip" seperti tongkat ajaib yang selalu memberikan keajaiban.
dengan menitipkan segalanya kepada Allah, seolah beban pundak dan kecemasan di hati saya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. nitip bukan berarti tidak berjuang. justru saya nitip "perjuangan" itu sendiri.
nitip artinya menyadari, bahwa bagaimanapun jalan berbatu yang dilewati kelak, pada akhirnya akan sampai di hal-hal yang baik juga. dengan nitip, syukur kita akan lebih panjang. karena kita mengerti, bahwa sejak awal segala takdir mutlak Allah yang menentukan.
tak perlu bertanya bagaimana, apa, kenapa, siapa. mari pertebal iman saja. :)
Surat untuk diriku
Tidak ada yang lebih aku inginkan selain memiliki hati yang tabah. Tidak mengeluhkan kesedihan dan kesulitan itu demi mendapat pengakuan.
Aku hanya ingin memperpanjang sabarku, rasa syukurku dan ketabahan hatiku. Tak lain hanya demi menggapai ridho dariNya.
Aku berusaha memercayai bahwa Allah telah menyiapkan kebahagiaan sesudah kesulitan. Allah menyiapkan pertemuan setelah panjangnya penantian. Allah akan membayar seluruh kesabaran yang terkadang membuat sesak. Dan Allah telah memberi ketetapan sedemikian sempurna nya.
Hati,
Ku mohon, kau tak usah terpikat dengan pesona di luar sana.
Dengan perempuan yang lebih dari kapasitasmu, kau hanya perlu sadar keberadaanmu. Tak usah terlalu melihat mereka yang berada di atasmu. cukupkan hatimu dengan memperbanyak syukurmu.
Bukankah kau sendiri percaya Allah akan menambah nikmat ketika kita mensyukuri.
Bukankah hadiah terindah dari kesabaran itu adalah surga.
Bukankah balasan yang mempesona dari ketabahan itu adalah kebahagiaan yang hakiki.
Sudah, ya...
Mainkan saja peranmu saat ini, bahagiamu sudah menanti.
Sabar dan syukur tanpa tapi :)
kojah: amal ndak usah banyak-banyak, yang penting jangan iri, dengki dan banyak ngrasani
sama seperti profesi, setiap kita memang diciptakan untuk ndak ahli sama segala bidang. ada yang jadi dokter, ada yang jadi guru, ada yang jadi enterpreuner dsb.
sama halnya seperti amalan. ndak apa-apa kok kita ndak ahli di bidang shalat tahajud. tapi kita ahli di bidang sedekah. ndak apa-apa kok ndak ahli di bidang sedekah. tapi kita ahli di bidang baca quran. ndak apa-apa ndak ahli di bidang baca quran. tapi kita ahli di bidang puasa sunnah. itulah yang disebut dengan amalan andalan. kita tak perlu menguasai seluruh amalan jika memang ndak sanggup. toh, amalan yang paling diterima di sisi Allah itu amalan yang dipelihara oleh sang empunya yakan.
jadi ndak perlulah. ndak perlu menjudge orang ndak pernah tahajud sama sekali. ya kalau dia rajin sedekah, why not? ndak perlulah menjudge orang ndak pernah sedekah. gimana kalau dia bidang amalannya di baca quran, ngajarin ke anak-anak karena yang dia mampu ya itu. so, semua orang tuh, punya amalan andalan masing-masing. semampu dia.
bahkan menurut saya, ndak apa-apa juga ndak ahli beramal apa-apa. kita hanya sedatar menjalankan sholat lima waktu. tidak lebih. ndak menjalankan sunnah-sunnah istimewa lain. ndak apa-apa banget. asalkan kita ndak benci sesama, ndak ngomongin orang. ndak iri dan dengki. ndak punya suudzon ke orang lain. ndak dendam. karena, ada kok, shohabat nabi yang seperti ini. pernah mendengar cerita yang ini?
jadi, setelah Abdullah Bin Amr Bin Ash mendengar sebanyak tiga kali Rosul bilang bahwa shohabat lelaki yang muncul ketika majelis itu seorang ahli surga, Abdullah wondering dong. Abdullah bahkan sampai nekat nginep ke rumah shohabat ini buat mastiin “amal istimewa apa deh, yang orang ini punya? kok sampek dijuluki Kanjeng Nabi ahli surga?”
setelah sampe rumah shohabat tersebut, Abdullah bilang kepadanya buat izin nginep tiga hari karena berantem sama ayahnya. anehnya, selama hari pertama sampe hari ketiga, Abdullah ndak nemuin satupun amalan istimewa yang ada pada shohabat anshor itu. ibadahnya gitu-gitu aja.
sampai penghujung hari ketiga Abdullah mau pulang, Abdullah melakukan pengakuan, “sebenarnya aku ndak berantem sama ayahku. aku cuma pengen tahu apa amalan istimewamu sampe Kanjeng Nabi menjulukimu kamu Ahli Surga. aku pengen niru ceritanya, supaya juga masuk surga.”
“aku ndak punya amalan apa-apa kok, selain yang kamu lihat selama tiga hari ini, Abdullah.” shohabat menjawab seadanya.
Abdullah ndak puas lah ya, sama jawaban yang cuma gitu tok. dalam benak, dia tentu masih penasaran. tapi yaudah. mosok dipaksa kan ndak mungkin.
beberapa detik kemudian waktu Abdullah hampir beranjak, lelaki itu meneruskan, “ benar, amalanku cuma sebatas itu. cuman, aku ndak punya dendam dan hasud dalam hati. aku ndak pernah nipu, aku ndak pernah iri sama kebahagiaan dan pencapaian orang lain.”
“nah, itu. itu tuh yang bikin kamu masuk surga. dan aku belum mampu melakukannya.” Abdullah mendapatkan poinnya.
[Musnad Ahmad bin Hambal, يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ]
orang sekarang banyak-banyakan amal. tapi dendam, hasud, iri, dengki masih jalan. kadang-kadang kita lupa. untuk mendekatkan diri kepada Allah, tak cukup dengan beribadah banyak-banyak amal, namun dengan adab, dengan akhlak-akhlak indah.
misterius
meski topik ini sudah terdengar basi buat sebagian orang, justru saya makin dibuat terkagum-kagum karenanya. tentang skenario Allah yang superrr indah dan supermanis. tentang makna ayat “minhaitsu laa yahtasib” yang begitu nyata. tentang rezeki dari arah yang tak terduga-duga. termasuk rezeki berupa jodoh. bahwa jodoh itu....misterius.
tentang temen saya yang pernah saya ceritakan di buku UDY, kak ammar, yang tiba-tiba didatengin perwakilan dari pihak perempuan buat supaya khitbah. hari ke delapan setelah dia bersungguh-sungguh berdoa, ikhlas dan ridho atas seluruh takdir yang akan dijalani ke depannya. ya, dalam waktu tak lama setelah itu beliau menikah dan sekarang dikarunai dedek kembar emesh yang lucuk.
beberapa waktu lalu, tak lama pasca saya menikah, disusul sama pasangan dosen unyu mbak arum aka @martabakkeju dan suaminya. katanya mbak arum, beliau nggak nyangka banget sahabat lamanya--si suaminya itu--bakal berjodoh sama mbak arum. katanya delapan tahun lamanya suaminya memendam perasaan buat mbak arum dan mbak arumnya nggak sadar. baru sadar setelah diungkapkan dan ya, berakhir menikah juga.
lalu beberapa minggu lalu. teman baik saya, sebut sama si em, tiba-tiba abis wisuda dilamar sama guru ngajinya sendiri. mereka baru ketemu beberapa kali. itupun dalam acara-acara tertentu. ketika mama abahnya menghadiri wisuda si em agustus lalu, tanpa si em duga mas guru ngajinya bilang ke mama abahnya em mau lamar anaknya. keduanya begitu mudahnya merestui em dan si masnya. padahal sedikit banyak saya tahu selama em kuliah di jogja, dia deket sama seseorang dan saya kira bakal berlanjut ke pelaminan. see? hamba cuma bisa ngejalanin rencana Allah.
yang saya kagum lagi. setelah wisuda cita-cita terdalam si em tuh nyantren dan memperdalam agama. udah cari-cari pondok pula. lah, malah ditakdirin nikah sama seorang guru ngaji. wenak banget kan, nyantren sama suami sendiri. hahaha. insyaaAllah sekarang lagi ngurus berkas menikah. doakan ya temen-temen, si em dan calon dilancarkan sampai hari H. aamiin.
terus ini barusan diceritain sama teh...sebut saja teh mawar. calonnya sahabat paling deket si aa, sebut saja bang z. kan saya nanya toh, kok tiba-tiba dah khitbahan aja. terus diceritain deh. katanya sama-sama dikhianati pasangan. suatu hari, iseng dan dengan nada becandaan bang z bilang ke teteh mawar. “kamu kalau tahun depan nggak ada yang lamar, abang lamar ya.”
awalnya mereka berdua agak takut mau bilang ke orangtua. eh, respon orangtua masing-masing sungguh tak disangka keduanya, diiyain dan dimudahkan tanpa ada drama dan kesulitan yang berarti. padahal si tetehnya waktu itu mau fokus karier dan lagi asyik-asyiknya dengan dunia kerja. yasudah, ujung-ujungnya juga man proposes God disposes, bukan?
terus belum cerita-cerita perjodohan anak-anak laman biru tua ini seperti, suhu aka @aksarannyta, appa runni aka @rubahlicik, mbak din aka @jagungrebus dan yang lainnya.
intinya mau cerita-cerita random tentang keromantisan Allah aja sih. indah banget Allah kalau bikin skenario tuh. saya sampai pengen peluk-pelukin yang pada cerita ke saya tapi mereka jauh. huhuhu.
makanya kalau ada temen yang curhat-curhat masalah jodoh, saya selalu bilang: jodoh tuh gausah dipikirin. kalau semakin dipikirin nantinya semakin bias. coba fokus ke yang lain, pasti nanti tiba-tiba dia dateng aja di depan kita.
saya memang ngomongnya berasa mudah banget, ya. tapi tentu saja menjalaninya butuh stok energi banyak lah, rek, hahaha. jadi siap-siap saja dengan tantangan-tantangan dan surprize yang akan menghampiri.
intinya, ikhlaskan sejak dari awal berjuang. syukuri sejak dari awal menjalani. supaya pada akhirnya nanti, apapun yang akan Allah rencanakan, jadi tetap diikhlaskan dan disyukuri juga. semangat!
ini baru masalah jodoh loh, ya. belum yang lain.
by the way, buat kamu yang udah pada menikah, nyangka nggak bakal berjodoh sama partnermu sekarang ini?
kojah: yakin aja bakal masuk surga
“duh, gimana ya, kalau nanti aku meninggalnya su’ul khotimah?”
“duh, gimana ya, nantinya kalau aku masuk neraka?”
sebenarnya wajar-wajar saja ketika kita kepikiran kayak gitu. ditakut-takuti kalau berbuat buruk bakalan masuk neraka, ya jelas takutlah. Wong memang Allah juga jelasin tentang tingkatan-tingkatan neraka, jenis-jenis ahli-ahli neraka, juga tentang macam-macam siksanya. bahwa siksa neraka memang, haduh, semua penjelasan tentang siksanya, sampek ndak kebayang sama kita. merinding duluan kalau udah bahas soal neraka-nerakaan.
tapi beruntungnya kita ini adalah manusia. yang sejak awal, manusia memang diciptakan dalam keadaan tidak seimbang. maka tugas kita sebagai manusia adalah, gimana caranya supaya hidup tetap berada pada keseimbangan.
maksudnya tuh begini. kalau kita punya keyakinan bahwa kita memiliki kemungkinan untuk masuk neraka, semestinya, sisi lain dari dari diri kita juga harus punya keyakinan, kalau kita juga memiliki kemungkinan untuk masuk surga.
bukankah Allah bilang sendiri kalau kasih sayang-Nya itu tak berbatas dan tak bertepi untuk seluruh hamba. mau baik mau buruk, mau taat mau durhaka, beramal karena-Nya atau selain karena-Nya, menaati perintah tapi tetap melakukan larangan-Nya. tapi yakinlah saja, kalau kita masih memiliki kemungkinan masuk surga.
terlepas dari seberapa banyak amal kita, seburuk apa kelakukan kita. tetaplah berbisik pada nurani,
“aku yakin aku pasti masuk surga. Allah kan, sayang seluruh hamba-Nya.”
memang kayak yang nggak tahu diri sih. tapi ini memang bener, imam ghozali yang dawuh sendiri tentang hal ini. dawuh beliau,
“jika seorang mukmin takut masuk neraka, kalau memang dia benar-benar beriman, seharusnya dia juga yakin bahwa dia juga bisa masuk surga.”
nah, disitulah tugas syaitan. goda-godain manusia, supaya membesar-besarkan kemungkinan dirinya masuk neraka, bukan masuk surga. supaya kita ndak nyaman dengan Allah.
“tapi amal sholehku ndak cukup, gimana dong? huhuhu.”
untuk masuk surga itu, yang dibutuhkan adalah cuma rahmat Allah, bukan banyaknya amal. banyak amal tuh ndak jamin orang masuk surga. jadi, ndak usah bangga deh, yang setiap hari sholatnya banyak, baca qurannya banyak, sedekahnya banyak, bantu orang lainnya banyak.
j-a-n-g-a-n b-a-n-g-g-a.
mungkin sebab ini juga kali, ya. bukan amal yang menjadi sebab masuknya seseorang masuk surga. karena ketika beramal seringnya banyak cacat. sholat biar dibilang alim, sedekah biar dibilang ahli sedekah, nolong orang biar dibilang anak baik, ngafal qur’an biar dipuji-puji dan dibilang keren.
“ih ndak juga kok...”
lohhh, buktinya kalau berbuat baik tapi ndak dihargai nangis-nangis, ngeluh-ngeluh, nyerah. hohoho.
ah, susah sekali beramal yang cuma bener-bener karena Allah tuh. susah sekali buat terlepas dari penilaian-penilaian manusia.
dan satu lagi rek. nabi adam tuh dulu masuk surga ndak pake modal, loh. pas beliau baru diciptakan, belum beramal apa-apa, tahu tahu sudah ditaro surga aja. fufufu syekali memang. jadi tenang saja. surga itu punya bapak kita, punya nenek moyang kita. pasti masuk surga, kok. insyaaAllah. aamiin. hehehehehe......
(sebuah pemahaman dari Gus Baha’)
(c)nailymakarima
cinta dunia
kita telah kesulitan untuk tak merasa bangga dengan penilaian-penilaian manusia. apa yang kita punya, karya kita, kontribusi kita.
saat ada seseorang yang mengatakan karya kita indah, kita melangit seakan telah lupa cara berpijak ke bumi.
kita telah bangga hingga hati kita tak lagi mampu membedakan yang mana ketulusan, yang mana pujian, yang mana apresiasi, yang mana keisengan belaka.
kita bangga mengenal orang-orang terkenal, mengenal orang-orang besar. sampai kita harus kerepotan sendiri ketika kita berada di dekat mereka. kita ingin menunjukkan wajah kita, memperkenalkan diri. kali aja mereka akan berkenan membangun kerjasama dengan kita.
bahagia kita seakan telah digantungkan kepada like, love, good comment, reblog dan sejenisnya yang ada di sosial media. bahagia kita telah kita ukur sendiri tanpa kita sadari.
padahal sedari awal kita telah mengetahui bahwa ini tanda-tanda kita telah didustai oleh dunia. yang kita kira mutiara, ia hanya menjadi hal yang akan memberatkan kita kelak ketika datang hari penghisapan. semua yang kita perbuat memiliki konsekuensi masing-masing bukan?
memang. tidak ada yang salah dengan dunia. tidak ada yang salah dengan kecantikan, ketampanan, kekayaan. tidak ada yang salah dengan kepopuleran. semua itu tak menjadi kesalahan.
yang menjadi kesalahan adalah ketika kita saling berebut kursi kepopuleran dan kedudukan tinggi dengan disertai iri hati, saling menyakiti tanpa peduli.
yang menjadi kesalahan adalah ketika kita terus menerus menumpuk harta apapun caranya demi meraih gelar orang kaya belaka.
ingat baik-baik. bahwa kerusakan dan segala musibah yang ada di muka bumi ini, semua berawal dari mencintai dunia.
(c)nailymakarima
sibuk meratap, lupa bersyukur
“kita lebih sering meratapi ketidaksempurnaan atas segala ibadah yang kita lakukan sampai membuat kita lupa untuk mensyukuri kesempurnaannya yang dimata kita terlihat kecil.”
beberapa waktu saya lebih sering mendengarkan ngajinya Gus Baha. asa enjoy dan adem cara beliyo menceramahkan cara ibadah hamba kepada Allah. da saya jadi makin ngefans ini, yaaRobb. huhu.
jadi, kata beliyo, Imam Asy-Syadzili pernah bilang, “sedikit amal dengan perasaan bahagia dan bersyukur kepada Allah itu lebih baik, daripada banyak amal tapi merasa amal yang dilakukan kurang sempurna terus.”
seperti contohnya, kita terlalu sibuk dengan kalimat ratapan, yaaAllah, sholatku kok asa ndak khusyuk, ya. diterima ndak ya, kayaknya ndak diterima deh.” sampai membuat kita lupa dengan kalimat kebersyukuran, “alhamdulillah, sudah digerakkan Allah untuk mau sholat. alhamdulillah, sudah diberi anugerah Allah sholat sehari lima waktu.” padahal ya, urusan khusyuk nggak khusyuk adalah proses. wong kita bukan Nabi. ndak perlulah mencaci-caci diri kita yang sholatnya berantakan, obrak-abrikan, ndak khusyuk 100 persen. mensyukuri diri sendiri, bahasa sekarangnya mah.
terus masalah ngaji juga. kita terlalu sibuk dengan kalimat, “duh, ngajiku ini diterima Allah ndak, ya. ini bacaan Qur’anku kok cuma selembar ya sehari. kok, aku nggak lancar-lancar sih baca Qur’annya.” sampai membuat kita lupa ada kalimat yang lebih enak didengar, “terimakasih yaaRobb, sudah menggerakkan hamba mau ngaji, mendekat bahkan sampai mau membaca Qur’an.”
kita terlalu sibuk dengan kalimat ratapan, “duh, ini shodaqohku diterima Allaah nggak, ya. ikhlas nggak, ya.” sampai membuat kita lupa dengan kalimat, “alhamdulillah, diri ini sudah digerakkan buat mau ngasih shodaqoh ke masjid, ke orang-orang.”
padahal mah, urusan diterima nggak diterima suatu amalan adalah urusan Allah. hak prerogatif Allah. nggak lupa kan, Allah masukin kita ke surga bukan karena amalan kita melainkan karena rohmat Dia kepada kita? bisa jadi segunung amalan seseorang ndak ada satupun amal yang diterima Allah, dan bisa jadi juga ada seseorang yang cuma memiliki satu amalan kebaikan saja tapi ternyata berkat amalan itu, dia mendapatkan rohmat Allah. ndak bisa dilogika kadang sih hal-hal seperti ini. bener-bener cuma Allah yang tau. dan semua keputusan Allah mah pasti adil lah. lha mbok kiro Allah pemimpin dzolim????
nah, karena hal tersebut, alih-alih sering diratapi--yang biasanya malah sampai membuat kita lupa menerima diri kita sendiri--mending disyukuri saja. sithik ndakpapa. soalnya kalau keseringan meratap nantinya kalau sudah banyak, malah muncul jumawa.
nih ya, ketika kita cuma sholat lima waktu tanpa sholat sunnah lain, kita meratap, “kok cuma sholat lima waktu, ya. duhhhh, ndak enak ini sama Allah, tambah ah. mau sholat sunnah juga.”
terus setelah berhasil sholat sunnah, kitanya merasa banyak amal, bangga, terus bisabisa muncul sombong, terus bisabisa, meluap deh, meluap amalnya, ilaaaangggg. ya ndak semua begini, tapi saya kadang merasakan hal-hal demikian:(
loh jangan salah, saya pernah dong, berada dititik ndak banyak amalan sama sekali. saya lalu ngebut dong banyakin amal. alasannya sih, banyak amal bakal banyak peluang diterimanya suatu amal. tapi nyatanya pada suatu titik setelah saya berhasil rajin beramal, disitu saya merasa wahhhh keren bener ibadahnya banyak, terus jatohnya saya sombong merasa lebih keren dari yang belum sholat, saya merasa lebih pinter ngaji dari temen saya yang ngajinya plegak pleguk, saya jadi tenang karena merasa bangga ngasih uang ke keponakan-keponakan dll dst...........
makanya itu saya perbaiki dengan saya ndak terlalu muluk beramal banyakbanyak dulu, saya coba belajar esensinya. belajar rendah hati yang benar-benar rendah hati (bukan merendah untuk meninggi), belajar untuk.. udah, dijalani saja dulu. lama-lama juga tulusnya muncul sedikit demi sedikit. ikhlasnya muncul seiring waktu. ndak perlu mikir diterimanya, ndakperlu cemasin ini itu. ya pokoke dijalani.
gimana ya. sombong, ujub, bangga terhadap diri sendiri itu menyusupnya pelaaaan sampai kita ndak sadar, loh. kita ndak sadar kalau kita ujub, kita ndak sadar kalau kita bangga. beneran. hati-hati........
ini kojahan arahnya kemana yaaa wkwkwkwkwk. intinya gituu sihhh, jangan terlalu sering meratapi amal yang sedikit, mbok mending disyukuri saja. enjoylah bersama Allah. bersenanglah dalam beribadah. Dia baikkkk kok, pengampun, penyayang tak terbatas.
sekian dan dan terima jadi :3
selamat berhari jum’at. semoga berkaaah. yang lain sudah banyak yang ngingetin baca alkahfi, nai ngingetin sholawat aja haha.....
sholawat yang banyaaaakkkkk. soalnya mudah bisa disambi ngapa-ngapain. disambi masak, nyapu, kerja, nyuci, nonton tv, jalan kaki, naik motor. dan efeknya gedhe. ndak percaya? lha sana coba dewe. buktikan sendiri :D