sibuk meratap, lupa bersyukur
“kita lebih sering meratapi ketidaksempurnaan atas segala ibadah yang kita lakukan sampai membuat kita lupa untuk mensyukuri kesempurnaannya yang dimata kita terlihat kecil.”
beberapa waktu saya lebih sering mendengarkan ngajinya Gus Baha. asa enjoy dan adem cara beliyo menceramahkan cara ibadah hamba kepada Allah. da saya jadi makin ngefans ini, yaaRobb. huhu.
jadi, kata beliyo, Imam Asy-Syadzili pernah bilang, “sedikit amal dengan perasaan bahagia dan bersyukur kepada Allah itu lebih baik, daripada banyak amal tapi merasa amal yang dilakukan kurang sempurna terus.”
seperti contohnya, kita terlalu sibuk dengan kalimat ratapan, yaaAllah, sholatku kok asa ndak khusyuk, ya. diterima ndak ya, kayaknya ndak diterima deh.” sampai membuat kita lupa dengan kalimat kebersyukuran, “alhamdulillah, sudah digerakkan Allah untuk mau sholat. alhamdulillah, sudah diberi anugerah Allah sholat sehari lima waktu.” padahal ya, urusan khusyuk nggak khusyuk adalah proses. wong kita bukan Nabi. ndak perlulah mencaci-caci diri kita yang sholatnya berantakan, obrak-abrikan, ndak khusyuk 100 persen. mensyukuri diri sendiri, bahasa sekarangnya mah.
terus masalah ngaji juga. kita terlalu sibuk dengan kalimat, “duh, ngajiku ini diterima Allah ndak, ya. ini bacaan Qur’anku kok cuma selembar ya sehari. kok, aku nggak lancar-lancar sih baca Qur’annya.” sampai membuat kita lupa ada kalimat yang lebih enak didengar, “terimakasih yaaRobb, sudah menggerakkan hamba mau ngaji, mendekat bahkan sampai mau membaca Qur’an.”
kita terlalu sibuk dengan kalimat ratapan, “duh, ini shodaqohku diterima Allaah nggak, ya. ikhlas nggak, ya.” sampai membuat kita lupa dengan kalimat, “alhamdulillah, diri ini sudah digerakkan buat mau ngasih shodaqoh ke masjid, ke orang-orang.”
padahal mah, urusan diterima nggak diterima suatu amalan adalah urusan Allah. hak prerogatif Allah. nggak lupa kan, Allah masukin kita ke surga bukan karena amalan kita melainkan karena rohmat Dia kepada kita? bisa jadi segunung amalan seseorang ndak ada satupun amal yang diterima Allah, dan bisa jadi juga ada seseorang yang cuma memiliki satu amalan kebaikan saja tapi ternyata berkat amalan itu, dia mendapatkan rohmat Allah. ndak bisa dilogika kadang sih hal-hal seperti ini. bener-bener cuma Allah yang tau. dan semua keputusan Allah mah pasti adil lah. lha mbok kiro Allah pemimpin dzolim????
nah, karena hal tersebut, alih-alih sering diratapi--yang biasanya malah sampai membuat kita lupa menerima diri kita sendiri--mending disyukuri saja. sithik ndakpapa. soalnya kalau keseringan meratap nantinya kalau sudah banyak, malah muncul jumawa.
nih ya, ketika kita cuma sholat lima waktu tanpa sholat sunnah lain, kita meratap, “kok cuma sholat lima waktu, ya. duhhhh, ndak enak ini sama Allah, tambah ah. mau sholat sunnah juga.”
terus setelah berhasil sholat sunnah, kitanya merasa banyak amal, bangga, terus bisabisa muncul sombong, terus bisabisa, meluap deh, meluap amalnya, ilaaaangggg. ya ndak semua begini, tapi saya kadang merasakan hal-hal demikian:(
loh jangan salah, saya pernah dong, berada dititik ndak banyak amalan sama sekali. saya lalu ngebut dong banyakin amal. alasannya sih, banyak amal bakal banyak peluang diterimanya suatu amal. tapi nyatanya pada suatu titik setelah saya berhasil rajin beramal, disitu saya merasa wahhhh keren bener ibadahnya banyak, terus jatohnya saya sombong merasa lebih keren dari yang belum sholat, saya merasa lebih pinter ngaji dari temen saya yang ngajinya plegak pleguk, saya jadi tenang karena merasa bangga ngasih uang ke keponakan-keponakan dll dst...........
makanya itu saya perbaiki dengan saya ndak terlalu muluk beramal banyakbanyak dulu, saya coba belajar esensinya. belajar rendah hati yang benar-benar rendah hati (bukan merendah untuk meninggi), belajar untuk.. udah, dijalani saja dulu. lama-lama juga tulusnya muncul sedikit demi sedikit. ikhlasnya muncul seiring waktu. ndak perlu mikir diterimanya, ndakperlu cemasin ini itu. ya pokoke dijalani.
gimana ya. sombong, ujub, bangga terhadap diri sendiri itu menyusupnya pelaaaan sampai kita ndak sadar, loh. kita ndak sadar kalau kita ujub, kita ndak sadar kalau kita bangga. beneran. hati-hati........
ini kojahan arahnya kemana yaaa wkwkwkwkwk. intinya gituu sihhh, jangan terlalu sering meratapi amal yang sedikit, mbok mending disyukuri saja. enjoylah bersama Allah. bersenanglah dalam beribadah. Dia baikkkk kok, pengampun, penyayang tak terbatas.
sekian dan dan terima jadi :3
selamat berhari jum’at. semoga berkaaah. yang lain sudah banyak yang ngingetin baca alkahfi, nai ngingetin sholawat aja haha.....
sholawat yang banyaaaakkkkk. soalnya mudah bisa disambi ngapa-ngapain. disambi masak, nyapu, kerja, nyuci, nonton tv, jalan kaki, naik motor. dan efeknya gedhe. ndak percaya? lha sana coba dewe. buktikan sendiri :D