Tentang Pergi dan Menanti
Jangan pernah mencariku di masa lalu. Karena aku sudah tidak ada di sana lagi. Aku pergi bukan berarti aku melupakanmu. Aku pergi mengejar mimpiku untukmu.
Pergi tetaplah pergi. Selama kau tidak di sisi, detik-detikku kian melambat dan sunyi. Di tengah keramaian pun aku dipeluk sepi.
Dan entah. Sekarang diriku lebih nyaman dipeluk sepi, lebih nyaman bersama sendiri. Bukan berarti tak ada hati yang peduli pada diri ini. Hanya saja, sudah kubatukan hati ini.
Untuk apa susah payah menyingkirkan hati yang peduli? Di sisi hati sebelah mana kau letakkan aku yang masih menaruh hati? Sebegitu tak inginnya kah kau kucari?
Bukan kucoba untuk menyingkirkan, hanya saja hati ini sudah tidak merasa lagi. Mungkin kehangatan dan keceriaan yang diberi masih kurang untuk melelehkan hati yang beku ini. Kau bertanya di sisi mana kuletakkan dirimu dalam hati ini? Hati ini sudah kuberi. Cukup kau cari. di tumpukkan kenangan, di rak kebahagiaan yang pernah kau buat sebelum diriku pergi.
Aku ingin mengingatmu dengan baik-baik saja. Tanpa luka, tanpa jeda. Namun mengenangmu sekaligus menyadari kepergianmu, adalah hal sukar. Dan aku sadar, sepertinya, memang diriku harus belajar. Mungkin memang sedari awal, dirimu tak seharusnya kukejar.
Kau tau? Tidak ada yang salah di awal. Memang diriku yang berlari mengejar angan, berlari meninggalkan. Meninggalkan keegoisanku yang mengejar masa depan untukmu. Aku pergi agar tak kehilangan cintamu lebih banyak lagi. Aku tak mau menyakiti karena perhatian yang kurang ini. Tenang saja. Aku tahu jalan kembali, aku berjanji.Jangan lupakan ucapan ku ini. Ingatlah. yang dapat kau pegang dari seorang lelaki adalah janji. Sekali diingkari, dia kehilangan dua hal : harga diri dan kekasih hati.
Jika begitu inginmu, kau tau aku akan selalu menanti. Baik-baiklah berteman dengan sepi. Sampai bertemu lagi.
- Sebuah kolaborasi bersama @krisnayahya .
Malang, 9 November 2017











