Tembok-tembok Buatan Manusia - Potongan Konversasi Ken dan Dione #10
Ken, mengapa manusia suka sekali mengkotak-kotakkan dirinya sendiri dengan aturan-aturan yang mereka buat? Padahal, bukankah kita semua sama-sama terlahir dari rahim ibu?
Heran sekali, manusia dengan sengaja membuat aturan-aturan yang menyulitkan diri mereka sendiri. Belum lagi, ada beberapa kelompok manusia yang dengan percaya dirinya merasa diri mereka tuhan, sehingga mereka pikir mereka bisa menentukan derajat tinggi-rendah seseorang, padahal bukankah derajat semua orang sama saja di mata Tuhan yang sebenar-benarnya?
Acap kali, tembok-tembok buatan manusia memantik konflik, menyulut tegang, memicu perang, merampas nyawa, tetapi manusia tetap saja membangun kokoh tembok-tembok buatan mereka sendiri dan dengan sukarela terkurung di dalamnya.
Kulit putih, kulit hitam. Islam, Kristen. Cina, pribumi. Bangsawan, rakyat jelata. Kapan manusia akan berhenti melabeli manusia lainnya untuk sesuatu yang tidak bisa mereka pilih sendiri ketika dilahirkan ke dunia? Bukankah itu semua semakin memperparah kenyataan-kenyataan hidup yang sudah tidak adil sejak dalam kodratnya?
Manusia memang makhluk hidup ciptaan Tuhan yang penuh lelucon. Selama kita semua masih sama-sama tidak sempurna, tidak abadi dan akan kembali ke tanah, menumpang hidup di bumi yang sama, menggantungkan nasib pada sumber daya yang terbatas, dan tetap butuh menghirup oksigen untuk menyambung hidup, ku rasa tidak perlulah merasa lebih superior dan mendiskriminasi manusia lainnya dengan congkak.
. .
Ah, tapi persetan dengan aturan-aturan tidak masuk akal, Ken.
Mari kita bercinta dengan hebat sampai tembok-tembok itu hancur.
Seperti kata Pram, setidaknya kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Dione. 22 Agustus 2019, 09:16 Terinspirasi dari Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer












