Drama Sebelum Tidur
Kepala yang penuh, langit kelabu, suara kendaraan yang semakin nyaring, tukang las yang tidak berhenti bekerja sejak malam tadi. Sungguh, apakah ini akan menjadi pagi di hari-hariku setelah ini? Kukira pindah ke gang sempit ini akan mengurangi setidaknya suara riuh kendaraan. Tapi kenapa semakin riuh?
Mungkin memang harus punya ruang di gedung yang menjulang itu, mungkin aku akan mengambil ruang minimal di lantai 10 atau 15, agar tidak ada suara selain mesin pendingin ruangan?
Baru saja waktu orang normal berjalan, pukul delapan pagi. Ah, semakin ramai saja lingkungan ini. Anak-anak mulai berteriak, tukang gado-gado dan bubur keliling tak kalah kencang suaranya, lalu-lalang kaki yang enggan diseret. Astaga, aku sungguh butuh tidur! Apakah mereka tidak mengerti kalau ada spesies nokturnal ada dan butuh hidup di dunia ini?
Rasanya ingin kubungkam ruang ini dengan ratusan lapis karpet, ah karpet terlalu mahal. Mungkin krat-krat bekas telur itu saja yang lebih ekonomis. Ah, apapun itu yang jelas aku hanya ingin tidur tanpa mendengar suara riuh dunia pagi hari!
Tuhan, bisakah tidurku bisa sehening diriku yang sedang kumat dan ingin terjun dari atap? Tuhan apakah mungkin Kau akan membuat setidak satu saja suara yang ada di pagi hariku yang nyaman untuk tidur ini? Apakah boleh, sehari saja?
















