ACEH BESAR – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di kawasan Hutan Mukim Jantho, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan terus meluas dalam tiga tahun terakhir. Alih-alih mereda, kegiatan penambangan ilegal menggunakan alat berat justru semakin masif dan mulai merambah kawasan konservasi yang dilindungi undang-undang.
Berdasarkan data pemantauan terbaru yang dirilis Wahana Lingkungan Hidup…
BANDA ACEH, HARIANACEH.co.id — Sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan mengapung di aliran Krueng Aceh, kawasan Beurawe, Banda Aceh, Rabu (1/10/2014) pagi.
[contextly_auto_sidebar id="dtR2vxQCvEoFqdrogjl6wx83DJ1wNLaE"]Mayat tersebut terlihat pertama sekali oleh pekerja (operator) kapal keruk yang sedang mengeruk aliran Krueng Aceh. Petugas kapal keruk yang juga relawan komunikasi…
BANDA ACEH, HARIANACEH.co.id — Sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan mengapung di aliran Krueng Aceh, kawasan Beurawe, Banda Aceh, Rabu (1/10/2014) pagi.
[contextly_auto_sidebar id="dtR2vxQCvEoFqdrogjl6wx83DJ1wNLaE"]Mayat tersebut terlihat pertama sekali oleh pekerja (operator) kapal keruk yang sedang mengeruk aliran Krueng Aceh. Petugas kapal keruk yang juga relawan komunikasi…
Berhitung terkadang membuat saya kesulitan. Membilang angka-angka dalam satuan rumus yang berbeda-beda tak jarang membuat saya muak. Sering saya berkilah pun dengan karib yang lain mengapa matematika ditemukan, mengapa ia tercipta. Meski sebenarnya ada banyak bukti dan alasan mengapa berhitung itu ada. Tapi saya sadar, sepertinya akhir-akhir ini saya harus melenyapkan stigma negatif yang menggelikan itu. Karena membilang angka seringkali membuat saya melupakan penat yang mengganjal...
***
Darul Ulum Islamic College – Banda Aceh, 2nd March 2014 [07:35am]
Minggu pagi, dan aroma pepohonan akasia yang tumbuh berderet memagari komplek dayah terhirup nyaman seirama dengan kicauan burung-burung yang terbang rendah di sekitar tanah berbatu.
Saya mengencangkan tali sepatu bersiap untuk meluangkan waktu pagi ini menyusuri tempat-tempat yang ada di sekitar dayah. Sekaligus bersiap menyambut dua hal besar yang kelak akan saya kenang dalam-dalam; hari minggu bulanan kedua terakhir sebelum tamat dari tempat belajar ini dan ujian akhir yang membentang beberapa minggu ke depan.
Puluhan rumus matematika, bertimbunnya buku yang harus saya baca dan banyaknya hafalan yang harus dilekatkan setelah sekian lama akhirnya mampu membuat saya kelelahan dan jemu.
Sangat jemu.
Beruntung saya masih punya hal besar lain yang sedikit banyak bisa membuat saya bergairah: libur bulanan kedua terakhir!
...
Saya kembali mengencangkan tali sepatu yang mulai melonggar...
Kalau daftar hal yang harus disyukuri shahih adanya, maka tak pelak saya harus memasukkan letak dayah yang stategis ke dalamnya. Bukan hanya tentang kawasan hijau yang penuh pepohonan, juga bukan hanya tentang kawasan perkotaan yang penuh dengan pasar-kedai kopi. Saya lebih suka merangkumnya, menggabungkannya.
Uap-uap air manis berwarna hitam mengepul dari jejeran kedai kopi yang menguasai sebuah persimpangan empat besar. Hanya berjarak 100 meter dari ujung lengkung terakhir pagar asrama putri. Di sebelah barat terdapat sebuah jalan semi-protokol yang merupakan pusat penjualan gadget. Lalu tepat di belakang dayah, labirin-labirin gang yang sempit mengusai petak-petak rumah kecil yang sering menjadi tujuan short escape bagi sebagian santri.
Sementara sedikit ke utara dari jejeran kedai kopi tadi, aliran Sungai Krueng Aceh mengalir tenang. Bantarannya yang masih rindang membuatnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi salah satu spot pelarian saya.
Riak-riak air berkecipak dan seorang pria terlihat duduk memancing saat saya tiba di sana. Layaknya bantaran sungai-sungai lain, ada dua jalur yang bisa dilalui, kanan dan kiri.
Sungguh bukan pilihan yang mudah untuk menentukan di jalur mana saya akan berjalan! Dua pilihan. Seperti dua buah variabel x yang menentukan sebuah fungsi persamaan.
Jalur kiri diteduhi dengan rimbunan cemar angin yang keras menjulang, tak goyang meski ditiup angin kencang. Berderet-deret di belakang bangunan-bangunan tua yang kusam dimakan masa. Sementara jalur kanan tidak diteduhi dengan pepohonan apapun, namun rumputnya lebih tebal. Dengan ilalang yang tumbuh menjulang-julang dan sebuah pos ronda yang duduk tepat di daerah jilatan air.
Saya memutuskan untuk melepaskan sepatu lalu menginjak rerumputan yang basah tertimpa embun yang tumpah dari pori-pori udara pagi. Kemudian menarik nafas dalam-dalam membiarkan sebuah rasa nyaman memenuhi dada. Kali ini saya kembali berhitung. Ada rasa yang asing saat mengamati jalur kiri yang diteduhi deretan cemara angin. Membuat saya ingin segera berjalan di bawahnya.
Namun tampaknya jalur kanan lebih menarik. Ada begitu banyak hal yang memenuhi jalur kanan. Matematika membuat saya memilih jalur kanan yang memiliki lebih banyak variabel pendukung.
Pelan saya melangkah lalu mengamati petak-petak rumah kecil yang berbanjar di tepi bantaran. Ada banyak kehidupan yang digambarkan di sini. Para anak kecil yang bermain riang di sebuah halaman rumah sederhana. Beberapa ekor kambing berjalan bergerombolan dituntun seorang anak bercelana pendek dan berkaos biru.
Seorang pemancing tua dan seorang anak duduk berjauhan menghadap aliran sungai yang tenang. Sebuah musala kecil dan tempat pemakaman umum yang sempit mencuri perhatian saya sejenak sebelum saya menoleh ke arah kiri dan terpekik kecil melihat barisan bangunan di jalur kiri yang tidak saya pilih beberapa saat tadi.
Lebih jauh kemudian retina mata saya menangkap gambar sebuah rumah kecil yang berdiri sendirian di antara rimbunan semak, julangan cemara dan pelukan pohon-pohon pisang.
Sudut mata saya melebar saat melihat apa yang ada di sebelah kiri rumah kecil itu. Badan sungai yang melebar, riak arus yang mengalir menyesuaikan bentuk dengan sapuan tanah yang berkontur dilatari lineria matahari yang menembus awan. Juga kabut yang perlahan membuka pelukannya dari dahan-dahan cemara.
Dan tanpa sebab yang jelas seketika saya merasa ingin berteriak sekeras-kerasnya...
***
Tidak ada yang salah dalam menentukan. Semua pilihan menyuguhkan keindahan dan daya tarik masing-masing dalam batas-batas relatif. Ada banyak yang bisa ditawarkan, tapi jarang ada yang menyadarinya. Kebebasan memilih membuat kita mengerti bahwa memilah bukan berarti tidak suka, hanya saja ada pilihan lain yang lebih melengkapi.
Pun bukan berarti satu pilihan menegasi diri untuk menikmati pilihan yang tidak teraih. Kita tetap bisa menikmatinya. Hanya saja kita butuh sebuah sudut pandang yang berbeda. Kita hanya perlu mengarah pandangan ke seluruh haluan dan melihatnya dalam bilangan derajat tertentu. Bukan tidak mungkin sudut derajat itu bahkan membuat kita bisa menikmati semua pilihan yang dulu terhampar.
Dan setidaknya sungai ini tidak lagi hanya menjadi tempat pelarian bagi saya. Ada banyak cerita tentangnya. Pelarian dari belajar yang anehnya membuat saya berlari dengan bantuan pelajaran berhitung, juga tentang menggabungkan semua keindahan dalam semua arah mata angin yang berbeda.
Lagipula kita percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil bukan?