Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau akan betul-betul lupa. - M.Aan Mansyur
Kukila (kumpulan cerpen) karya M. Aan Mansyur, 45.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #maanmansyur #kukila #jualbukusastra (di Toko Buku Hamdalah) https://www.instagram.com/p/Bma3tuMhH3x/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1qx0auq6y85qd
Kukila (kumpulan cerpen) karya M. Aan Mansyur, 45.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #maanmansyur #kukila #jualbukusastra (di Grujugan, Jawa Timur, Indonesia)
Pohon besar tumbuh ditengah padang rumput dengan menyembunyikan rahasia-rahasianya. Pohon itu membagi sebuah rahasianya kepadaku, selepas aku memandikan gembalaku. Orang desa menganggap pohon itu angker, dan menjaga jarak darinya.
“Sebelum November datang membunuh pohon-pohon dengan kemaraunya, maukah kamu mendengarkan rahasiaku?” ujarnya saat aku berbaring di kaki-kakinya.
***
Dulu, di tempat kamu berbaring, sepasang insan memadu kasih saat masa remaja masih milik mereka. Mereka melakukannya setiap hari, hingga langit merah menandakan senja. Kukila dan Pilang, nama mereka. Pernah kulihat sekali, Kukila datang dengan menangis dan menghambur ke pelukan Pilang. Kukila menceritakan bahwa dia akan menikah dengan lelaki lain. Anak pemangku adat, Tumbra namanya. Aku mendengar mereka bersitegang sejenak. Merencanakan untuk melarikan diri dari desa. Namun, tidak ada satu orang pun yang boleh melarikan diri dari desa ini. Aku mendengar Pilang mengingatkan tentang kisah tragis dua orang yang mencoba melarikan diri dari desa dan tertangkap di tengah jalan. Mereka diseret seperti binatang dan digantung di dahanku.
“Kalau begitu, aku terpaksa menikah dengan Tumbra. Tapi, maukah kamu tetap menjadi kekasihku, Pilang?”
“Bagaimana bisa, Kukila?”
“Begini saja. Aku akan meminta kepada Tumbra agar dibuatkan sebuah rumah yang menghadap kepada pohon kita. Aku akan memandangimu setiap malam dari sana dan kamu juga akan berada setiap malam disini, memandangiku dari kejauhan,”
“Baiklah. Jika kamu semalam saja tidak ada disana, aku akan gantung diri di salah satu cabang pohon ini,”
“Aku berjanji, Pilang,”
Itu merupakan terakhir kalinya mereka datang bersama-sama ke bawahku. Lalu Kukila menikah dengan Tumbra, dengan mahar sebuah rumah panggung disebrang sana.
***
Rumah panggung itu menghadap ke arah ku. Dengan dua jendela yang juga menghadap ke arahku. Lampunya jika malam berwarna kuning keemasan. Setiap malam, Kukila berada di sana menatapku. Bukan menatapku, namun Pilang yang berada di bawah naungan rindang pohonku. Kukila seakan menciptakan siluet wanita dengan latar kuning keemasan.
Pilang berada di pembaringanmu sekarang setiap malam, tidak pernah tidak. Dengan membawa tembakaunya, dengan asap hitam mengepul-ngepul yang keluar dari bibirnya, dan dengan cintanya kepada Kukila. Jikalau hujan, ia tidak lupa membawa selembar daun pisang, untuk berteduh sambil memandangi Kukila. Begitu setiap malam, hingga sumbu tidak lagi sampai kepada minyak tanah, dan rumah Kukila menjadi gelap gulita, barulah Ia beranjak pergi. Sambil menyandungkan lagu sedih yang tidak aku pahami liriknya. Sangat sedih.
Namun, pada jendela yang lain, disana terdapat Tumbra. Tumbra yang juga memandangi Pilang dari sana. Dan melukiskan siluet pria dengan latar kuning keemasan. Ia juga memandangi Pilang, yang memandangi Kukila dari kejauhan. Sungguh cerita cinta yang aneh.
***
Tau kah kamu? Bahwa Tumbra dahulu juga sering ke tempat pembaringanmu sekarang, setiap hari, setelah Pilang dan Kukila pergi beranjak pulang. Ia menyandungkan lagu sedih dengan lirih, yang liriknya entah apa. Seakan memendam rasa cintanya yang tidak tersampaikan. Padahal, ia merupakan orang paling tampan, kaya, dan anak pemangku adat. Namun ia hanya memandangi sepasang kekasih itu bercumbu dari balik pohon–dulu selain aku ada beberapa pohon di sekitar sini. Ia cemburu kepada sepasang kekasih itu.
Hingga suatu saat, Tumbra datang ke padaku dengan menangis. Menangis seperti anak kecil. Dan aku mendengar ia merencanakan sesuatu.
“Aku akan menikahinya!”
Lalu, dengan suara yang ia pelankan, ia berkata:
“Aku akan menikahi Kukila! Dengan begitu, Pilang yang aku cintai tidak akan menjadi milik siapa-siapa lagi. Aku yakin pasti, bahwa Pilang tidak akan menikahi gadis lain selain Kukila,”
Sesungguhnya Tumbra mencintai Pilang, bukan Kukila. Begitulah akhirnya, Tumbra menikahi Kukila agar bisa mencintai Pilang dari jauh–dari jendela rumahnya setiap malam. Perasaannya kepada Pilang menjadi rahasianya yang ia simpan rapi di dalam jiwanya. Selain dia, hanya aku yang mengetahui perasaannya kepada Pilang.
***
Setelah bertahun-tahun, pada suatu malam, entah siapa yang duluan memulainya, dua orang yang berada di balik jendela itu melangkah berjalan ke sini. Ke tempat Pilang menghisap tembakaunya. Lalu, di tempat pembaringanmu sekarang, terjadi sesuatu yang luar biasa. Mereka masing-masing mengakui perasaannya, dan memutuskan untuk mati bersama pada cabang pohonku. Dengan alam yang dipenuhi cahaya bulan purnama, mereka mengakui perasaannya masing-masing. Tanpa berselisih.
Sebelum mereka memanjatku dan melompat dengan tali di leher mereka, Pilang mencium Kukila dan membagi bibirnya juga agar dicium Tumbra. Dan yang terakhir, Kukila mencium Tumbra yang merupakan suaminya.
Aku menangis saat menyaksikan itu semua. Bukan karena mereka bunuh diri. Sangat banyak orang-orang sebelumnya yang bunuh diri di cabangku. Bukankah takdir sebuah pohon agar menjadi tempat untuk orang-orang menggantung diri? Namun, karena mereka mengakui perasaan cintanya masing-masing, dengan jujur. Lalu, aku menggugurkan daun-daunku sebagai bentuk kesedihan.
***
Itulah sebabnya, aku ceritakan kepadamu sebuah rahasiaku, sebelum November datang dengan kemaraunya, membunuhku yang sudah tua dan pohon-pohon lain. Agar kau tau, di tempat penbaringanmu, pernah terjadi peristiwa yang sangat-sangat mengharukan.
Baru baca ini. Ekspresi tiap akhir cerita beda-beda. Kadang bengong. Kadang ngakak. Kadang "whaaaat??". Kalau kata Hyukoh mah "like roller coaster ride...". #guenggakekinian baru baca #Kukila ckck