"Saya tidak akan menjadi ibu seperti dia." Begitu janjiku ketika melihat seorang ibu berperilaku kasar atau sekadar mengeluarkan perkataan negatif (yang kadang hanya kecil sekali, seperti "mana tangan bagus?") pada anaknya. Saya telah membuat "to do-don't list menjadi ibu" sejak saya mengenal seseorang yang menganggap saya "anak sendiri bukan anak tiri", dua-puluh-tahun-lalu.
Seseorang yang mengatakan, "Mamah sudah menganggapmu anak sendiri. Dalam Islam pun tidak ada istilah ibu tiri." Saya mengiyakan, dan bersuka karena saya bisa memperlakukan perempuan asing ini sebagai Mamah. Saya bisa memeluknya sesuka saya seperti saya sering memeluk Mamah, tapi dia sering berkata, "Gerah, gerah, jangan peluk-peluk.". Saya bisa bercerita sesuka saya seperti saya berkisah pada Mamah, tapi ketika saya berkisah tentang teman-teman saya, dia sering berkata, "Jangan suka ngomongin orang, ngga baik!". Saya juga bisa memintanya berdongeng, tapi dia sering mendongengkan kisah para penjahat dengan tokoh utama Mamah, para paman dan bibi saya, dan kakek dan nenek dari keluarga Mamah agar saya mengambil pelajaran. Saya sangat menyukai dongeng-dongengnya, hingga saya membenci keluarga Mamah. Lalu ketika saya beranjak dewasa dan memahami isi dongengnya, saya mulai menggunakan headphone dan menyalakan musik keras-keras sedangkan dia mengoceh sendiri tentang "betapa jahatnya keluarga Mamah dan kamu jangan seperti mereka".
Saya amat paham Mamah bukan berasal dari keluarga baik-baik. "Sampah masyarakat", begitu istilah Mamah Tiri saya. Tapi keluarga tetaplah keluarga, seharusnya rasa cinta ditumbuhkan pada seorang anak, bukan kebencian.
Sepanjang hari, berbelas tahun, daftar "boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu" semakin panjang di kepala saya. Saya telah menjadi ibu, dan daftar pertama yang harus saya lakukan adalah "jika saya tidak suka diperlakukan demikian, maka Athan (Ahnaf Fathan Pradipta, nama bayi-enam-bulanku) pun tidak akan suka". Daftar kedua, tidak akan pernah mengatakan kata negatif atau antonim atau apapun namanya agar anak melakukan apa yang kita inginkan, seperti agar anak mau menyusu di botol tapi anak tetap memilih menyusu dari sumbernya langsung, kita berkata, "Iiiihhh itu mah apa ngga enak." atau anak sedang mengulum jari-jarinya dan kita berharap dia tidak melakukannya, lalu kita berkata, "Iiiihhh jijik ihhh.".
Tidak ada gaya parenting yang sempurna, tidak pula ada orangtua yang sempurna. Seperti kata seorang filsuf, kita hanya menjadi. Selalu menjadi. Agar selalu memperbaiki diri. Saya hanya ingin menjadi ibu yang tidak seperti Mamah, atau Mamah Tiri saya, atau ibu yang membuat saya berkata, "Saya tidak akan menjadi ibu seperti dia." atau "Saya tidak akan menjadi ibu yang membuat anaknya seperti itu.".
Bismillah. Semoga bisa menjadi ibu yang menjadi. đđđ










