Namanya, #KeretaApi Masa Depan
"Nduk... ayo bangun. Keretanya jam 6, takut telat."
"Masih jam stengah 5, Buk."
Aku masih setengah sadar. Cuman bisa melek merem di kamar.
"Nanti aja, berangkat stengah 6.", Imbuh bapak.
Aseeek, batinku.
Kutarik selimut lalu nyempil di sebelah adek dan sepupuku yang lagi pulas pulasnya. Memang, di rumahku selalu rame sama "putu-putu gaul" (read : perkumpulan cucu-cucu mbahibu yang hits abis) yang sering tidur di rumahku. Dari kecil, kami tumbuh bersama dan dekat sekali dengan mbahibu (sebutan lain “nenek” di keluarga kami). Makanya, hubungan kami (antar sepupu) udah seperti kakak dan adek kandung. Pokok e dolan bareng.
Ibuk... selalu begitu, mesti bingung dan gupuh kalau anak gadis kesayangan dan paling dikangeni ini mau balik ke Surabaya, pikirku. Padahal sudah jelas tertulis di tiket kalo kereta dari Kediri berangkat jam 6.18 WIB. Tapi ibuk masih belum puas mendengar informasi dariku. Menerawang, baca berulang-ulang, sampek nyenteri (read : mengarahkan cahaya senter ke..) tiketku. Beliau takut kalau aku salah membaca tiket. Hahah, mesti ada-ada saja.
Dari dulu, bapak sama ibuk tidak terlalu tega jika aku naik kereta, mesti disuruh naik travel. Pusing pala barbie kalau harus 6-7 jam lebih di mobil. Bila dibandingkan dengan kereta yang cuma 4 jam. Pagi ini, kereta tidak terlalu penuh. Juga tidak terlalu padat. Dingin, tenang, dan santai. Tapi selalu saja, ada tingkah aneh dari para penumpang. Hmmm.. kudu siap mental pokoknya.
Di kereta ekonomi jarak dekat, kamu bisa ketemu sama orang yang (mungkin) menyebalkan, terlalu baik, kelewat polos, daaan masih banyak macamnya. Bahkan saat ini, ketika menulis cerita ini, aku sudah dibikin mangkel (read : jengkel) oleh seseorang, sebut saja Cak Bakrie (nama disamarkan). Eh bukan, aku memang tidak tau siapa namanya. Dan tidak mau tau. Bye. Eling Lus, bulan puasa... gak boleh rasan-rasan (read : ngomongin orang) haha.
Pokoknya semakin sering kamu naik kereta ekonomi jarak dekat, pikiranmu akan semakin terbuka lebar. Kamu akan dihadapkan banyak pilihan yang terkadang seperti memakan buah simalakama (gini salah, gitu salah, gak gini gak gitu juga makin salah). Walah 😂. Kamu akan dituntut untuk bisa bertahan di kondisi kereta yang (kadang) panas, (kadang) dingin. Secara tidak langsung kamu juga terlatih untuk bisa bikin rencana yang sip (cepat dan tepat sasaran). Bagaimana tidak, kalau mau dapat tiket dengan tempat duduk, kamu harus beli minimal seminggu sebelum keberangkatan. Kadang kalau tidak sempat, aku beli tiket H-2/H-1 atau bahkan on the spot. Konsekuensinya, bisa jadi dapat tiket tanpa tempat duduk (read : berdiri) atau kehabisan tiket haha. Belum lagi, antrian super panjang dengan nomor antrian beratus-ratus.
Gimana nggak strong, coba?
Tapi... ada asyiknya lho. Di kereta, kamu bisa melihat indahnya dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kamu bakal tahu, gimana perasaan ibu-ibu yang bawa bayi, kakek nenek yang sudah sepuh, orang yang bawa barang yang super banyak, ciwi-ciwi yang belajar/afalan kuis/nyicil skripsi, cowo-cowo yang ngobrol kesana kemari, dan balada orang yang suka tidur di tempat duduk orang lain. Yang terakhir, yang paling nyebelin.
Kadang kalau tidak sampai hati, kamu harus rela membagi tempat dudukmu dengan mbak-mbak (tiket tanpa tempat duduk). Atau... bisa juga kamu dipertemukan dengan seseorang yang (mungkin) tidak kamu harapkan untuk bertemu disini. Seperti aku saat ini.
PS :
Semoga...
Aku bisa dipertemukan denganmu di jalan atau di tempat lain.
Iya, kamu.
Entah, kamunya itu siapa.
Bisa jadi kamu yang lagi baca ini.
Bisa jadi bukan.
Wkwkwk
7:42 WIB
28 Mei 2017
Di kereta, menuju Surabaya