Sebagaimana judul buku ini, puisi ini bicara soal dinmamika kota dan aktivitas di dalamnya, di mana Bardjan hadir memberikan napas pada setiap gerak yang berulang tersebut. Sebut saja soal kerja, perjalanan, pembangunan, tempat nongkrong, dan kesibukan di dalamnya. Lewat puisi, Bardjan memberikan suara lain dari segala yang tampak robotik itu. Ada rindu, kehilangan, cinta, kesendirian,dan airmata. Bahwa apa yang tumbuh dan bergerak itu memiliki denyut lain yang menunjukan sisi manusiawi. Bardjan banyak memotret tanpa bertendensi menjadi tukang dakwah, pemberi nasehat, atau manusia paling bermoral. Apa yang dihadirkannya adalah refleksi bagi pembacanya. Apa yang ditulis adalah apa yang terlihat, terpikirkan, atau diabaikan oleh diri yang lain. Bardjan menampilkan sesuatu yang terlihat tidak puitis dan monoton menjadi sajian manis dan penuh daya kejut. @capybardjan, Ibu Kota-Air Mata, Puisi, Tasikmalaya, Langgam Pustaka, Juni, 2022, 70 hlm, 45.000 #bardjan #ibukotaairmata #puisi #bukupuisi #langgampustaka #JualBukuSastra (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CmLz6OnhhCg/?igshid=NGJjMDIxMWI=
















