KEHIDUPAN ADALAH pertempuran konstan antara Sakurai dan Tuhan. Sejak dia lahir, tak ada makanan enak yang disajikan di piringnya. Pada hari Senin, rasa sakit; pada hari Selasa, keputusasaan; pada hari Rabu, kekerasan; pada hari Kamis, penyesalan; pada hari Jumat, menjadi lebih lembut, rasa malu; pada hari Sabtu dan Minggu, Tuhan memberinya sedikit belas kasihan dan kesenangan dengan nafsu.
Jika Sakurai memohon lebih banyak belas kasihan, Tuhan mungkin akan mengiriminya paket berkah setiap hari. Tetapi tak ada yang pernah mengajari pria itu bagaimana caranya berlutut atau meneteskan air mata, meminta pengampunan dan berharap surga adalah miliknya. Tapi untuk sekali, dia melihat dan mendengar orang tuanya berteriak: “Tuhan! Ya Tuhan! Maafkan aku. Tuhan!" sambil mengangkat pisau dapur. Kemudian, mereka saling menusuk dengan benda itu sembari masih memanggil Tuhan.
Saat teriakan berhenti dan sungai merah merenggut tubuh-tubuh tak bernyawa, Sakurai merangkak di atasnya. Rambut hitamnya yang diwarisi dari Ibunya dan matanya yang tajam dan berkemauan keras yang diberikan oleh Ayahnya, membuatnya tampak seperti burung hering yang sedang berburu ㅡ siap melahap bangkai sebelum lalat dan belatung bergabung dalam pesta.
Selama berhari-hari, dia mengisap puting susu Ibunya yang kaku, tapi tak ada susu yang bisa menenangkan rasa laparnya; yang tersisa hanyalah darah kering dan belatung berputar-putar di sekelilingnya. Mereka menyenggol pipi dan tangannya yang lemah beberapa kali seolah-olah mengajak bermain. Tapi dia terlalu lapar untuk bergerak dan kehangatan ibunya telah hilang, jadi dia melakukan apa yang akan dilakukan anak berusia tiga tahun: menangis. Dan ketika pita suara tak dapat mengeluarkan rengek lagi, dia tertidur kelelahan.
Hari-hari berlalu, Sakurai diselamatkan. Dia tak tahu siapa dan kapan, tapi yang dia hadapi begitu dia bangun adalah seorang wanita berpakaian putih, menggendongnya sambil memberi makan sesuatu yang tak dikenalnya. Setahun kemudian, dia mengetahui bahwa selama ini dia meneguk susu dari seekor sapi. Dan dia menyukainya. Dia menyukainya lebih dari susu Ibunya yang tak bisa dia ingat lagi rasanya.
Semuanya menjadi kabur bagi Sakurai. Bagaimana penampilan orang tuanya? Nama panggilan apa yang mereka berikan kepadanya? Apa judul cerita pengantar tidur favoritnya? Semua kenangan itu mati bersama orang tuanya.
Berebut selimut wangi bunga atau saling bertarung untuk mainan baru hasil sumbangan adalah kegiatan yang biasa dilakukan. Beberapa anak akan menggunakan tinju mereka dan yang lainnya akan menangis. Yang terkuat mendapat selimut dan mainan; sementara yang lemah menangis bersama di sudut ruangan. Sakurai percaya mereka tak boleh menangis karena nanti, begitu seseorang membawa mereka pergi, mereka akan memiliki mainan dan kamar tidur sendiri. Lihat saja Nanao yang pergi dengan seorang paman perut buncit, dia mengirimkan beberapa gambar di mana dia pergi ke Disneyland dan mengisi kamar tidur merah mudanya dengan boneka dari sana.
Tak lama kemudian, Sakurai menyadari bahwa tak setiap anak yang meninggalkan panti asuhan bisa memiliki kehidupan yang indah seperti Nanao. Dia ingat bergandengan tangan dengan sesama anak yatim piatu, menggunakan pakaian serba hitam sambil mengikuti pengasuh yang menangis; ia memeluk foto seorang anak bernama Genta. Mereka bilang Genta dipukuli dan dibiarkan kelaparan sampai dia meninggal. Polisi menangkap orang tua angkatnya dan menjebloskan mereka ke penjara.
Setelah kematian Genta, semua orang menjadi suram. Tak satu pun dari mereka bersemangat setiap kali mereka disuruh berbaris karena para pengasur berteriak: "Para calon orang tuanya ada di sini!". Sakurai melihat mereka dan dirinya seperti barang yang dijual di pasar. Dan itu hanya keberuntungannya ketika seorang wanita berpakaian kimono tertarik kepadanya. Dia bilang Sakurai tampak tampan dan tak mencerminkan fisik orang Jepang sepenuhnya; bahwa catatannya menunjukkan bahwa dia berperilaku baik.
Selama seminggu, Sakurai yang hanya hidup enam tahun di bumi, merasa gugup. Apakah dia akan berakhir seperti Genta? Namun, di sisi lain, dia bahkan tak tahu seperti apa masa depan yang akan dimilikinya. Jadi, dia pergi dengan Makoto, nama wanita itu. Dia membawanya ke Gion, Kyoto, di mana dia bekerja sebagai geisha di usia awal dua puluhan. Sekarang dia berusia di pertengahan tiga puluhan, tak ada yang tertarik untuk dihibur olehnya. Dan dengan pikirannya yang memesona, Makoto membuka sebuah restoran yang menyajikan masakan kampung halamannya kepada turis dan pengunjung kedai teh.
Sakurai tak berakhir seperti Genta dan tak berakhir seperti Nanao. Dia berakhir sebagai Azumaya Sakurai, anak angkat Nakamura Makoto. Setiap pagi dia membantu Ibunya membersihkan restoran dan pergi ke sekolah bersama teman-temannya dari lingkungan yang sama. Dia tumbuh sebagai anak yang cerah dan menyenangkan. Semua orang mencintainya, tetapi beberapa tak bisa menahan untuk menggodanya sebagai yatim piatu dan anak adopsi Makoto.
Suatu sore, Sakurai pulang dengan luka dan memar. Makoto bertanya kepadanya: “Apakah kau terjatuh atau berkelahi?” Dan jawabannya adalah yang terakhir. “Aku mengalahkan mereka,” katanya. “Kalau begitu, aku akan memastikan untuk mengunjungi sekolahmu besok.”
Setelah Makoto mengobati lukanya, Sakurai bertanya kepadanya apakah dia tak ingin mengetahui alasan pertarungannya. Dan dengan senyum keibuan, Makoto berkata, “Aku tahu pertarungan ini untukku. Terima kasih, Saku-kun. Jika aku terlahir sebagai wanita sejati, kau tak perlu melalui rasa malu ini.”
Dan Sakurai berteriak marah: “Apa maksud dari kalimat itu?” Baginya yang ditinggalkan oleh orang tuanya dan tak tahu apa-apa tentang betapa hangatnya cinta seorang ibu, Makoto adalah ibu tercantik di alam semesta. Bahkan saat dia berubah menjadi abu.
Sakurai lupa cara menghitung. Dia lupa bagaimana menghitung berapa kali dia telah menangis untuk nama Makoto yang terukir pada kendi. Sungguh tak nyata bagaimana dia bisa merasakan kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya.
Sakit, kerinduan, dan kehampaan yang dialaminya, semua itu untuk Makoto; untuk Ibunya. Hari itu, Sakurai melakukan percakapan pertamanya dengan Tuhan untuk mengutuk-Nya. Ibuku akan tetap hidup jika Kau tak mengizinkan para yakuza pemabuk itu masuk. Aku membenci-Mu!
Sebagai seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun yang tumbuh dengan sopan, Sakurai tak tahu bagaimana cara mengumpat dengan benar. Bahkan ketika orang asing memeluknya dan membawanya pergi, Sakurai tak bisa berkata apa-apa selain bertanya: "Siapa Anda?"
Rambut hitam panjangnya yang halus berayun indah saat dia berjalan. Dan matanya yang sayu tapi tajam menatapnya dengan lembut, seperti Makoto. “Aku adalah adik Makoto. Jadi, kau adalah tanggung jawabku sekarang. Tetapi karena Makoto tak memiliki hubungan yang baik dengan keluarga besar, kau harus bekerja lebih keras daripada orang lain untuk mendapatkan pengakuan Oyabun."
“Maaf, tapi siapa Oyabun?”
Tak ada yang mengatakan apa pun. Bahkan para pria di barisan depan mobil, mereka bersikap seperti orang mati. Namun, begitu mobil berhenti dan gerbang besar muncul di balik jendela berwarna, pria itu membuka mulutnya: "Kepala Sui-kai, ayahku."
Informasi Umum
Nama: Azumaya Sakurai (東屋櫻井)
CV: Howl
Tempat dan Tanggal Lahir: Tokyo, 13 September 1991
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tinggi dan Berat Badan: 188 cm dan 87 kg
Golongan Darah: A
Pendidikan Terakhir: Sarjana Komunikasi Sains Universitas W
Pekerjaan: Mentor yakuza untuk Hanase, Wakil Presiden Celestial Entertainment, (mantan) Guru Taman Kanak-Kanak
Pakaian: Setelan jas hitam modern sederhana, baju olahraga, dan hoodie
Biasanya, Sakurai adalah pria yang baik hati. Dia peka terhadap lingkungannya dan cenderung membantu teman-temannya yang membutuhkan. Secara umum, dia terhormat, pekerja keras, dan cerdas dalam pengetahuan dan masalah praktis. Semua orang akan mencarinya ketika mereka membutuhkan nasihat.
Sakurai tak menyukai sorotan. Dia lebih suka berdiri di latar belakang selama dia dihargai karena melakukan sesuatu dengan baik. Dia mungkin menepis pujian orang dengan kasar yang mengarah pada situasi tak nyaman, tapi sejujurnya dia hanya seorang pemalu.
Tak semua orang tahu bahwa Sakurai adalah seorang yang suka bermain dan memiliki selera humor yang nakal. Dia orang cerdas yang menikmati hidup dan kebebasan; dia suka berkeliling dunia dan bertemu orang baru, menciptakan banyak kenangan indah.
Sakurai tak suka menahan diri karena sifat temperamentalnya. Dia akan segera mengatasi masalahnya sehingga dia bisa melanjutkan dengan hal-hal lain. Dia diam-diam menikmati masalah dan konfrontasi, hidup yang mandek bukan untuknya. Dan beberapa orang tak dapat membencinya secara mendalam karena kepolosannya yang seperti anak kecil.
Meski begitu, Sakurai hidup sebagai tentara; kesatria dalam cerita dongeng. Dia hidup mendengarkan perintah Tuan, bukan yang memegang perintah. Dia akan tunduk dan melakukan tugas yang diberikan kepadanya, membawa kemenangan bagi Tuannya.
Dia dirantai oleh takdir. Dia dipaksa untuk melakukan apa yang ditolak hatinya. Semua darah, penderitaan, jiwa-jiwa yang sekarat di medan perang, dia harus membawa mereka di pundaknya selama bertahun-tahun yang akan datang; memakan sedikit demi sedikit cahaya di dalam dirinya.
Bagaimana cara memicunya? Siapa pun yang melanggar aturan dan menciptakan kekacauan tak akan hidup damai sampai mereka membayar tindakan mereka. Sakurai tak cocok dengan orang yang memiliki perilaku buruk dan mengungkap ekspresi perasaan secara langsung atau kasar. Selain karena mereka akan sering berkelahi, Sakurai memiliki kecenderungan mengalah dan membiarkan orang itu terus merundungnya.
Statistik Fisik
KEKUATAN (2.205 lb / 1.000 kg)
KONSTITUSI
stamina: 100%
daya tahan: 100%
vitalitas: 100%
pemulihan: 85%
resistensi: 90%
ketabahan: 100%
ketahanan: 85%
KETANGKASAN
ketangkasan: 90%
akurasi: 97%
Statistik Mental
KECERDASAN (90%)
KARISMA
kehadiran: 100%
pesona: 100%
keterampilan sosial: 100%
PERSEPSI
kesadaran: 100%
KEKUATAN
interogasi (4/5)
senjata api (3/5)
pertarungan tangan kosong (5/5)
intimidasi (5/5)
manipulasi (3/5)
akrobat terampil (4/5)
multibahasa (Inggris, Korea, Jepang) (4/5)
teknologi (4/5)
Trivia
Dia memiliki sifat penyayang.
Dia memiliki lebih banyak jaringan dengan orang yang lebih tua daripada yang lebih muda.
Stamina King.
Mengedutkan alisnya dan terus mencengkeram gesper saat marah atau kesal.
Mengganti interior rumah atau kantornya secara teratur.
Mengontrol sisi sensitifnya dengan berolahraga dan membersihkan rumah (menyukai pekerjaan rumah tangga).
Discount Maniac, dia tahu kapan supermarket akan memberikan penawaran menarik.
Berkontribusi kepada masyarakat sebagai penyuluh kesehatan untuk lansia.
Menyukai olahraga ekstrim, tidak takut pada apapun; bahkan sisi gelap sifat manusia.
Cinta musik dan seni, Makoto mengajarinya.
Tidak bisa tidur sendiri, dia mengumpulkan boneka beruang untuk menemaninya atau tidur dengan seseorang sebagai gantinya.
Beda Latar Belakang, Ini Cara Anak Angelina Jolie Bertoleransi
Liputanviral - Dari pernikahannya dengan Brad Pitt, Angelina Jolie dikaruniai tiga orang anak. Namun sebelumnya, ia sudah terlebih dulu mengadopsi tiga anak dari latar belakang dan kebudayaan yang berbeda.
Dibesarkan secara bersamaan, banyak pelajaran penting yang didapat oleh Shiloh, Pax, Maddox, Zahara, Vivienne, dan Knox, terlebih soal saling menghargai satu sama lain.
"Kurasa anak-anakku belajar bagaimana menerima perbedaan dari satu sama lain. Mereka sama-sama saling berbagi pengalaman. Anak-anakku berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga mereka tak membantah adanya perbedaan. Mereka malah merayakannya," ujar Angelina Jolie saat diwawancara oleh Radio BBC belum lama ini.
Tak berbeda dari ibu-ibu lainnya, sang aktris tak membantah memiliki kekhawatiran dalam membesarkan keenam anaknya. Apalagi ketika mereka semakin tumbuh dewasa dan melek media sosial.
"Kurasa kebanyakan orangtua ingin memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya, namun tak bisa sepenuhnya mengontrol apa yang mereka lihat di internet," lanjutnya.
"Ada realita tertentu dalam kehidupan remaja, dan kau tahu generasi kita kebanyakan tidak mengerti apa yang mereka lakukan dengan teknologi. Jadi banyak hal yang bisa lolos dari kita," pungkas Jolie.
Read the full article
POST 1: Prolog Hai! Apa kabarmu hari ini? Awalnya, saya merasa agak berlebihan ketika hendak membuat satu blog lagi. Namun, setelah saya pikir ulang, saya rasa itu lebih baik.
Kabupaten Bandung memiliki daerah kawasan hutan lindung dan wisata alam yang berada di daerah Ranca Upas, Ciwidey. Di dalam kawasan tersebut terdapat fauna endemik jawa yaitu surili jawa (Presbytis comata).
Menurut IUCN 2009, Surili jawa berada dalam status endangered dan termasuk dalam CITES Appendix II. Namun, sampai saat ini masih belum adanya data informasi yang memadai mengenai populasi dan kondisi habitat fauna endemik jawa di kawasan tersebut. Padahal dengan kehadiran satwa khas Jawa Barat tersebut mampu menjadi daya tarik ekoturisme di kawasan wisata dan hutan lindung Ranca Upas. Ekoturisme ini merupakan konsep wisata berbasis keseimbangan ekosistem alam. Ekosturisme ini dapat menguntungkan dalam sisi peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat setempat serta upaya dalam hal konservasi surili jawa . Dalam hal ini daerah Rancaupas merupakan sebuah potensi dalam penerapan ekoturisme dan melakukan upaya konservasi terhadap satwa endemik
Di usia ku yang sudah tak kanak-kanak lagi aku tak lebih banyak meminta sesuatu dari-Mu. Aku menginginkan kedewasaan yang memang sudah seharusnya mengikuti usiaku. Aku tak lagi menginginkan meniup lilin diatas kue cokelat nan lezat, yang meskipun tak genap dua puluh satu kali aku melakukannya. Aku ingin kebersamaan, aku ingin berada disekitar orang yang kusayang. Mungkin kesibukan adalah monster yang akan menghalangi semuanya. Tapi apakah tak boleh aku melantunkan sebuah harapan? Pun aku tak membutuhkan satu senyum palsu, lebih baik seribu komentaar yang tulus. Terkadang iri singgah didalam hati. Saat melihat yang lain berkumpul dengan orang – orang yang selalu mereka anggap terdekat, yang selalu mereka anggap terbaik. Merindu sebuah kebersamaan layaknya merindukan sebuah perhentian nan damai di akhir.
Sesadarnyaku tak seberapa penting daripada yang lain. Kecuekan dan ketidakmautahuan ini sangat membantuku untuk tak terlalu memedulikan rasa sakit yang muncul. Tuhan, Kau telah memberikan jalan yang sangat indah untukku sampai saat ini. Dengan menitipkanku kepada orang – orang terpilihMu. Mereka yang selalu tulus menyayangiku, mereka yang selalu mendekapku dalam hangatnya canda maupun tangis. Maafkan ku jika aku tak pernah bisa sempurna menjaga mereka untuk selalu berada disisiku. Hingga akhirnya mereka memilih jalan mereka masing - masing. Sahabat yang layaknya saudara bagiku. Maaf jika aku tak pernah bisa membuat mereka nyaman dengan keberadaanku. Di saat ini aku ingin rasanya memeluk semua orang yang paling ku sayang untuk mengatakan Terimakasih telah mau mengenalku selama ini . Untuk kalian yang sedang pergi ataupun sedang tinggal, rindu ini selalu milik kalian.