#lautankata #mediaberkarya #pujangga #nahkoda #bahtera #duka #puisi #senja ##alumnikelasmenulismdk #likeforlike #followforfollow




#interview with the vampire#iwtv#the vampire armand#assad zaman


seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Denmark
seen from China

seen from China

seen from Malaysia
seen from Israel
seen from China
seen from Indonesia

seen from China

seen from Malaysia

seen from France

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
#lautankata #mediaberkarya #pujangga #nahkoda #bahtera #duka #puisi #senja ##alumnikelasmenulismdk #likeforlike #followforfollow
Duka ratu lebah Hancur sudah si sarang lebah,tempat bernaung dari pahitnya masalah, manis madunya menjadi obat hati yang resah. Sambaran api nan membakar sarang, tak ada jalan melainkan pindah ke sarang nan tenang, tapi entah berapa kali ini harus terjadi, hampir ratusan kali bahkan ribuan kali kami harus berpindah pindah, ulah tangan dari nafsu para bedebah. Kepulan asap, terlihat jelas dari pohonan kokoh nan tak beratap, kami disini hanya bisa meratap, seakan sarang nan hangus menjadikan abu harap tak bisa lagi menetap. #mediakita #pujangga #sajakliar #ratapan #hujanmimpi #lautankata #alumnikelasmenulismediaberkarya
#alumnikelasmenulismediaberkarya #saranglebah #harapan #puisi #pujangga #syair #sajakliar #sentuhan #tenang #likeforlikeback #followforfollow #ratapan #ratulebah #zonapuisi #lautankata #hujanmimpi #menantirasa
Ritme Kekacauan
:matahari
Kekacauan kepala dan hatiku menggumpal mirip bola-bola pendulum yang dimainkan pekerja belakang meja, yang sedang jenuh dengan tumpukan kewajiban. Dimainkannya bola-bola itu tanpa henti, sampai pada akhirnya membentuk sebuah ritme berulang. Ya, kekacauan ini semakin kurasakan muncul dengan teratur seperti rutinitas.
Satu kekacauan yang paling rajin mengaduk-aduk isi kepalaku; aku masih belum mengerti untuk apa kau dihadirkan dalam hidupku. Kata mereka yang lebih dulu melihat dunia, semua yang terjadi adalah rangkaian peristiwa yang akan membawamu ke suatu tempat. Apakah itu artinya kau hanyalah batu pijak yang harus kujejak? Atau, justru engkaulah sebuah pemberhentian di mana seharusnya aku meneguhkan hati? Jika benar, mengapa begitu banyak peristiwa yang sepakat kita namai dengan isyarat perpisahan?
Pertemuan terakhir kala itu masih menyisakan kesedihan yang mendalam. Tubuhku kerontang terbakar letupan-letupan amarah yang tak pernah dapat menjangkau langit. Mataku memerah darah seperti Rahwana yang tak sanggup menahan hasrat untuk mengibaskan Gada–senjata sejatinya. Pula ingin sekali aku menenggelamkan diri sampai pada palung terdalam dari segara air mataku. Namun, aku tak lagi menemukan segara itu. Aku tetap kering. Segara itu–ikut diusung oleh bagian-bagian diriku yang sudah tak sudi melekat dengan tubuh.
Aku tak lagi mengenal apa itu tangis. Aku tak lagi ingin menunggangi hujan yang biasa membawa angan pada kenangan. Biarkan saja pertanyaan-pertanyaan itu menggenang di luap kelelahan hati sampai berkarat. Habis sudah hati yang membuatku mampu mengenalimu sekalipun dengan mata terpejam–tergantikan oleh batu yang berat menggantung di dekat detak jantung.
Teka-Teki
Pernah kau rasakan kekosongan yang tak kau pahami? Seperti ada lubang yang menembus hatimu. Isi kepala yang amburadul. Atau hari-hari cerah telah melengkapi tawamu, namun tetap kau rasakan kekurangan. Sedemikian kacau sebab tak bisa kau kendalikan.
Lalu kau mencoba mencari jawaban di cermin. Mendapati tubuh di hadapanmu sempurna, namun berantakan. Matamu menerawang hal yang entah. Pikiranmu berlarian tanpa bisa kau cegah.
Ini perlahan memuakkan. Hingga kau rasa tak ada tempat berteriak yang paling lengang selain dalam hati sendiri.
Sesekali kau ingin menangis, namun tak ada air mata yang jatuh. Mungkin samudra di matamu telah mengering, habis menguap bersama awan yang telah lalu.
Kau bisa tertawa, namun bukan bahagia. Kau bisa tertunduk, namun bukan bersedih. Tak ada yang bisa kau pahami selain jarum dan benang-benang yang berserakan di sekujur tubuhmu.
Kau merasa bagaikan seonggok kayu yang mengapung. Langkahmu mengalir bersama waktu, namun jiwamu beku dalam kotak kedap. Kau tak lagi merasakan keselarasan. Hatimu ingin, namun tubuh dan pikiranmu menolak.
Sekali lagi kau menengok ke arah cermin. Kau mendapati jasat segar yang masih bernyawa namun tak berasa. Kau bahkan tak lagi mengenali apa itu rasa. Kau rusak. Hidup dalam kematian.
Dongeng Tentang Hawa
:matahari
Kau tahu apa yang membedakan Adam dan Hawa? Adalah ketika ia kehilangan patahan hatinya. Adalah ketika ia memaknai sebuah keikhlasan. Adalah ketika ia memercayai air mata sebagai air surga yang membasuh luka duka.
Lelakiku, duduklah bersama kebahagiaan. Ceritakan pada mereka sebuah dongeng tentang tulang rusuk yang malang; tentang seorang Hawa yang mampu menghangatkan lelakinya sekalipun jauh dari mata; tentang seorang Hawa yang mati hanyut oleh linang air mata sendiri.
Kau bisa menarik cerita dengan memperkenalkan makna satu rasa dalam dua tubuh; Adam dan Hawa. Lalu, hiasi imaji mereka dengan menceritakan indahnya surga; kilat buah quldi yang menyimpan teka-teki kenikmatan, anak pelangi yang harus kau naiki untuk bisa sampai ke hadapan tahta Tuhan, teduhnya pohon Thuba yang biasa mengintip Adam dan Hawa saat sedang berciuman, atau kesukacitaan Hawa ketika merajut pakaian Adam dengan sundus dan istabraq.
Hingga suatu kali mata Adam menangkap keindahan yang dianggapnya melebihi surga. Keindahan yang kini mereka sebut dengan dunia–yang letaknya di seberang sungai jernih menghanyutkan. Satu perahu kokoh hanya cukup membawa Adam ke tepi dunia. Dibiarkannya Adam mencari kebahagiaan di keindahan lain. Sementara Hawa, bernapas dengan janji Adam; tunggulah di sini, Kekasihku. Akan kubawakan kau batu zamrud yang keindahannya tak pernah kau temui di surga.
Oleh karena ketamakan tak pantas bersanding dengan ketulusan, maka tak pernah dipulangkan-Nya Adam pada Hawa; dipisahkan-Nya surga dengan dunia. Sementara Hawa, membuka matanya setiap malam–menengadahkan tangan–memohon pada Tuhan; perintahkan satu bidadari untuk menemani Kekasihku Adam. Aku telah mengikhlaskan kulit wajahnya dilahap jemari bidadari dunia, sebab melalui jemari itu, aku tetap dapat merawat dia dari kejauhan. Dan sudilah Engkau mengasihani Adam yang terkapar sebab kesakitan yang ia ciptakan sendiri.
Tangis Hawa memendungkan awan surga. Sungai jernih nan menghanyutkan tiba-tiba meluap untuk kemudian menguap. Surga hujan rintik-rintik cantik. Dunia ikut basah oleh tumpahan sungai yang turun dengan harmonis; lalu bulir-bulir kembali menyatu di lautan.
Tanpa Adam ketahui, sungai itu adalah jumlah air mata Hawa yang menetes tiap kali ia terbangun tengah malam; meminta agar dipanjangkan-Nya napas sang Adam. Keberhasilan Adam menyeberangi aliran air itu demi mencari kebahagiaan yang lebih, jugalah berkat doa Hawa–tulang rusuk yang lebam.
Tiga Pertemuan (part #1)
I. Dewata, Agustus 2010
Dia perencana ulung. Segala yang dia kenakan begitu rapi; kaus hitam berlengan panjang yang dikerutkannya sampai ke siku, celana panjang berbahan jeans dengan warna gelap, dan wajah secerah pagi yang timbul dari redupnya lampu lobi hotel. Dia tampak menarik.
"Hai! Lama ya?" sapaku.
Derap langkah sneakers-ku mengagetkannya. "Ah, engga kok. Santai," jawabnya, lalu menyunggingkan senyum.
“Kita kan belum kenalan secara resmi.” Aku mengulurkan tangan. Dia hanya tertawa. “Serius. Kita harus kenalan lagi. Secara resmi,” lanjutku.
Dia meraih tanganku. Memperkenalkan diri dengan badan ditegak-tegakkan. “Okey, Nona. Perkenalkan, nama saya Angga.”
“Ah, resmi banget kamu. Seperti memperkenalkan diri di kampanye Pemilihan Calon Ketua Senat. Aku Bianca.”
“Hahaha! Bukannya tadi kamu yang bilang kita harus berkenalan secara resmi?”
“Iya deh… Aku ngalah aja, daripada kita batal jalan-jalan,” jawabku sambil melangkah menuju tempat parkir. Aku sudah tak sabar menikmati suasana malam Pulau Dewata.
Saat menjabat tangannya barusan, dia mengenalkanku pada dua hal; namanya yang indah, dan senyumannya yang menggugah.
"Akhirnya, setelah sekian bulan berbalas kata, baru ini kita sempat bertatap muka. Hahaha!" tukasku sambil tertawa renyah.
"Hehe.. Iya ya. Kamu sih, larinya ke Jakarta terus," ledeknya.
"Ah, kamu. Jadi, mau ke mana kita, Komandan?" tanyaku bersemangat, sampai tanpa sadar kedua tangan ini terangkat bak supporter bola.
"Hahaha! Semangat banget. Kita isi perut aja dulu. Kita makan nasi pedas. Gimana? Kamu suka pedas?"
Aku mengangguk mantap. Kelopak mataku melebar tanda sangat bersemangat. "Suka kok. Di rumah biasa makan yang pedas." Dia menatapku sambil mesam-mesem manis. Tanpa menjawab lagi, dia menancap gas membawaku ke suatu tempat. Sebuah warung sederhana yang spesial menyajikan nasi pedas sebagai menu utama.
Tersaji seporsi nasi pedas di hadapan kami. Mataku memburu piring itu dengan tajam. Lambungku sudah berdemo sebab belum terisi sejak tadi siang.
"Tunggu apa lagi? Ayo, dimakan! Tapi makannya sedikit-sedikit saja dulu karena itu pe...." Belum selesai dia memberi peringatan, satu sendok nasi pedas sudah mendarat di mulutku. "...das banget," lanjutnya dengan nada bicara menurun.
"Pahlawan Kesiangan! Kamu, telat. Aduh, pedas banget! Minumku... di mana minumku?" jawabku sambil mengipas mulut yang panas kepedasan.
"Hahaha! Kan udah keliatan dari namanya. Nasi pedas. Ya jelas pedas. Kamu sih, makannya beringas," ujarnya sambil menyodorkan segelas teh hangat, dan masih terbahak menertawakanku.
Terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponsel bututku. Maka segera kuseruput segelas teh hangat dan bergegas membuka ponsel untuk mengetahui dari siapa pesan itu. Tertera berbaris-baris pesan lengkap dengan nama pengirimnya. Ah, manusia ini lagi, gumamku.
Angga menyadari perubahan air mukaku. "Ada apa, Bi? Kamu baik-baik saja?"
"Hehe, bukan apa-apa kok. Aku baik-baik aja," sahutku cepat. "Cepat dihabiskan yuk! Aku pengen kamu bawa aku ke suatu tempat."
"Hah?"
"Boleh request tempat kan?"
"Boleh dong."
"Ya sudah, kita makannya agak cepat. Habis ini kita langsung ke sana."
"Siap, Nona Turis!" Angga mengindahkan permintaanku.
Aku memintanya untuk mampir ke pantai. Aku merindukan bunyi ombak yang ajaib. Sayup-sayup terdengar dentum musik dipawangi para DJ yang berasal dari jajaran night club di seberang, tetapi di tepi laut ini kami membuat musik kami sendiri. Bernyanyi tanpa lirik serupa musik instrumental, kemudian berdansa berdua.
Malam itu tak banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Setiap detik yang berjalan maju, membangun dinding waktu yang kian meninggi, membatasi kebersamaan kami. Lalu sampailah kami pada peluk perpisahan.
“Besok aku pulang. Flight jam 6 pagi,” kataku, menahan ketidakrelaan harus mengakhiri malam bersama Angga.
“Ah, ya. Sebelum tidur, cek ulang barang bawaanmu. Jangan sampai ada yang tertinggal,” ujarnya mengingatkanku. Aku membatin. Ya, tentu ada yang tertinggal. Ada separuh hati yang tertambat di sini, Angga. Tak lebih dari tiga detik lengan kami bertaut, tetapi pelukan itu ibarat merpati penyampai pesan; akan ada pertemuan selanjutnya. Entah kapan, namun pasti. Aku percaya.
Aku pulang dengan membawa tatapan mata itu. Tatapan mata ketika kami berdansa di pantai yang tenang dan hanya ada suara debur ombak mengiringi langkah demi langkah kaki kami. Tatapan yang menghangatkan batin.
Selama ini kami hanya bertukar cerita melalui dunia maya. Namun entah mengapa, percakapan yang kami lakukan –meskipun hanya di depan layar digital– membuatku seperti ikan yang lunglai tertangkap kail. Dia berhasil menyeret perhatianku dengan deret katanya, juga pesona saat dia menjelaskan hal yang tak kumengerti. Dan tadi malam, pesona itu nyata kulihat dengan mata kepalaku.
Setiap tempat, setiap gerak dan setiap kecap yang teruntai bersamanya, berhasil melekat di selaput otakku, menjadi potongan-potongan memori yang tertumpuk rapi. Menunggu untuk diulas kembali, di rentang pertemuan berikutnya.
II. Megapolitan, November 2011
Lelaki itu duduk di salah satu Coffee Shop yang sudah kami sepakati untuk jadi tempat bertemu. Aku tak sabar untuk menemuinya lagi. Kupercepat langkahku menuju ke arahnya. Sudah kutebak apa yang sedang dia lakukan sambil menungguku datang. Ya, lagi-lagi dia menungguku datang. Kepalanya menunduk menatapi layar laptop kesayangannya. Jemarinya menari di atas tombol yang berderet, menghasilkan irama teratur seperti seorang pianist membelai tuts. Wajahnya, tidak jauh berubah dari pertama kali aku menemuinya di Pulau Dewata.
"Hai! Lama ya?" Pertanyaan ini terlontar lagi dari mulutku, dan masih berpasangan dengan jawaban yang sama. "Ah, engga kok. Santai aja,” sahutnya.
Kami saling bertatapan menyadari sesuatu. Kemudian tawa kecil kami menyusul. "Kok bisa kayak ngulang adegan waktu pertama ketemu gini ya?" tanyanya dengan sisa tawa barusan.
"Haha! Iya ya. Cuma beda tempat." Dia ingat. Aku ingat. Kami sama-sama masih mengingat. Aku pamit sebentar untuk memesan minuman. Greentea latte. As usual. Kemudian kembali duduk di kursi yang ada di hadapannya. Angga tidak menyadari kedatanganku, sebab masih fokus dengan kertas digital itu. Kuintip sedikit layar laptopnya. "Sibuk banget kayanya. Lagi ngapain sih?"
"Eh, kamu. Hm, saya lagi memindah kita."
"Maksudnya?"
"Iya, lagi memindah kita jadi sebuah tulisan. Saya jadikan kamu dan saya sebagai tokoh utamanya. Ceritanya tentang dua orang yang terjebak friendzone," jelasnya tanpa memandang ke arahku. Dia menulis seperti orang kesetanan.
Sedetik kemudian suasana hening. Aku diam. Mencoba mencerna perkataannya. Lalu-lalang orang, atau suara samar pengunjung lain yang sedang mengobrol seakan lenyap. Tak lama, dia menyadari aku yang mematung.
Dia mencoba mencairkan tubuhku yang membeku di depannya. "Eh, engga. Saya cuma bercanda. Hahaha! Ini cuma dalam tulisan saya saja," katanya menjelaskan, disusul dengan tawa yang aku rasa itu dipaksakan.
"Ada sesuatu di antara kita yang membuatmu tidak nyaman, Angga?" tanyaku serius. “Pertemanan kita mungkin?” lanjutku. Masih dengan wajah serius.
Kini giliran dia yang terdiam. Aku, menunggunya menjawab dengan mencoba tak bersuara, agar jangan sampai satu kata pun darinya kulewatkan.
Baru saja dia menghela napas, ancang-ancang menjawab. Namun tiba-tiba sesosok wanita berpakaian mini dress hitam datang menyapanya. Entah siapa wanita ini. Rambutnya tertata rapi. Sangat rapi. Nampaknya dia sempat mampir ke salon untuk menata rambut. Kakinya terbalut sepatu berhak tinggi. Kutaksir tingginya mencapai 9 cm. Niat sekali, pikirku. Kubandingkan dengan pakaian yang kukenakan saat itu. Kaos yang lumayan kebesaran, celana jeans, dan flat shoes berwarna netral. Satu-satunya flat shoes yang kupunya dan yang membantu menampilkan sosokku sebagai perempuan sejati. Sisanya, hanya ada sneakers dan sepatu booth yang berjajar di rak sepatu milikku. Maka kusakralkan flat shoes ini sebagai flat shoes andalan. Hanya kupakai untuk menghadiri beberapa acara resepsi pernikahan saking sakralnya. Namun aku memakai kembali sepatu ini untuk menemui Angga. Setidaknya dia harus tau aku memiliki satu sepatu manis ala perempuan walaupun pilihan baju yang kukenakan masih seacak-acakan biasanya. Dan rambutku, tampak ala kadarnya digulung ke atas. Santai sekali penampilanku. Ah, bukan, Ini dibawah garis santai. Seperti hendak mengamen di depan Mall ini. Ah, biar saja. Aku nyaman seperti ini.
"Hai, Dear! Kamu sudah lama di sini? Apa kabar? Wah, aku pikir kamu sendirian," sapanya pada Angga. Dear? Dia memanggil Angga “Dear”? Ah, mungkin hanya sapaan teman dekat. Atau memang mereka sedang dekat? Kenapa Angga tidak cerita? Kepalaku cerewet sekali daritadi memunculkan banyak dan semakin banyak pertanyaan.
Lalu wanita itu menjabat tanganku, memperkenalkan diri, “Kenalin, aku Kiara.”
“Aku Bianca.”
Tersungging senyum kecut di bibirku. Namun tampaknya wanita itu tak sadar. Dia lebih fokus ke kursi kosong yang ada di sisi kiri Angga. Kemudian Kiara duduk menjajari Angga. Menit demi menit berjalan. Mereka mengobrol asik tanpa mempedulikan ada satu manusia lagi yang duduk semeja dengan mereka. Sesekali Angga melirik ke arahku. Sepertinya dia tahu aku mulai tak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Hallooo! I’m here. Kalian pikir aku cameraman yang merekam adegan mengobrol kalian di sini, hah? Batinku menggerutu.
Dari sorot mata dan bahasa tubuh, wanita ini menyimpan rasa padanya, aku tahu. Sial, ternyata dia membuat janji tidak hanya denganku. Lebih baik tadi aku tak usah datang, daripada harus menikmati pemandangan semacam ini. Membuat gerah. Sebentar, kenapa aku menggerutu? Aku cemburu? Ah, tidak. Aku tidak cemburu.
Kulihat Angga mengobrol sambil meringis-meringis memegangi perut. Sepertinya asam lambungnya naik. Pasti dia belum makan. Aku tak tega melihatnya. Tanpa memberitahu akan ke mana, aku berpamitan sebentar. Mencarikannya obat. Namun ketika aku kembali, hanya tertinggal kursi dan cup bekas minuman yang kami minum tadi.
Beep. Beep. Suara pesan masuk di ponselku.
"Kamu di mana? Saya pergi mencari makan sebentar dengan dia. Perutku sakit, belum makan. Tadi kutunggu kamu, kupikir ke toilet, tapi lama sekali."
Serasa ada palu yang baru saja memaku tubuhku. Mataku tertuju pada pesan itu. Tanganku bergetar. Kakiku berat. Seperti ada reruntuhan atap gedung yang menimpa tubuh. Baiklah, hati, kau benar. Aku, cemburu.
Meski jemariku terasa beku, kuusahakan membalas pesannya setenang mungkin.
"Oh, aku tadi cari obat untukmu karena kulihat kamu mengobrol dengannya sambil meringis kesakitan dan memegangi perut. Tapi tak apa, obat ini bisa kutitipkan ke cassier di coffeeshop ini. Diambil ya. Disimpan untuk jaga-jaga."
Sent.
Beep. Beep. Pesan balasan masuk.
"Kamu mau ke mana? Sudah makan? Susul kami aja. Kami makan di lantai tiga."
Angga menawariku duduk makan siang bersama mereka. Aku tak perlu berpikir ulang untuk menolak. Lebih baik menjawab tidak, daripada menyakiti hati dan mataku.
"Ah, tidak usah. Sudah makan kok. Just take you time with her. Aku pulang dulu ya. Senang bisa bertemu kamu lagi. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. :)"
Sent.
Aku berbohong. Perutku pun masih kosong sedari pagi, tapi kejadian ini membuatku mendadak kenyang. Seharusnya aku mengisi perut ini dengan sepiring nasi yang tersaji bersama tawa kita seperti yang sudah kubayangkan semalam, Angga.
Hologram
Konyol. Di tengah kebosananku yang hanya duduk sembari mendengarkan dongeng dosen, aku masih bisa memikirkan kamu. Ini fatal. Perasaan aneh yang membuat seseorang mempunyai keahlian baru, yaitu memunculkan wajah-wajah yang sebenarnya tak nyata di depan mata. Bagaimana bisa aku melihat bayanganmu terbentang di layar depan kelas, dengan transparansi tujuh puluh sekian persen, terselip di antara formula-formula hasil temuan ilmuwan gila terdahulu? Mengerikan. Semacam lukisan yang muncul secara tiga dimensi di permukaan layar, dan bisa kusaksikan dengan mata tak berbalut apapun. Tak logis. Ini bisa jadi cikal bakal atau ide dasar munculnya teknologi generasi kelima, yang mana orang-orang tak memerlukan lagi mouse, keyboard, atau monitor sebagai media yang mampu memunculkan dengan jelas lekuk-lekuk wajah pujaannya. Ya, cukup dengan satu rasa yang mereka kenal sebagai cinta, bayangan itu telah ada di hadapanmu. Salah satu keyakinan yang menguatkan eksistensi absurditas hologram. Sosok hologram serupa kamu yang muncul secara rapat di setiap milisekon yang kumiliki ternyata menyadarkan aku akan beberapa fakta, yaitu aku mencintai kamu bukan hanya dengan logika, rasio, ataupun deret ordinal. Bukan hanya karena kamu memenuhi standar kriteria ideal yang aku tetapkan. Bukan pula sebatas menyentuh-disentuh-tersentuh. Aku mencintai kamu di luar akal, dengan nama kamu berputar-putar di sekitar kepala. Bukankah itu cukup rasional untuk menjelaskan hal-hal irasional yang terjadi? Apa dengan membaca ini kamu jadi jatuh kepusingan? Baiklah, jangan lagi dipikirkan, sebab ini bukanlah pertanyaan yang memburu jawaban. Cukup rasakan, simpan dan beri aku satu senyuman.