Muslimah Melawan Teroris #KamiTidakTakut
Curhat dulu: Jadi, nadya setiap hari ke kampus atau ke tempat lain hampir selalu mengenakan baju gamis hitam, baik yg bermotif atau sekedar plain-black. Suka aja gitu, simple dan tidak mencolok. Setelah kejadian teroris baru-baru ini, nadya sempat dilarang oleh mama agar tidak memakai baju serba hitam, “gausah pake hitam-hitam gitu ah, serem mama”. Sontak nadya shocked! gawat banget yang dilakuin teroris tersebut, tidah hanya membunuh dengan keji banyak orang, tidak hanya merusak nama Islam, namun juga menciptakan pola pikir baru yang membuat suatu hal baik menjadi cenderung ditakuti. Tidak usah jauh-jauh, mamaku saja sudah terpengaruh atas “image” hitam, cadar, gamis sebagai sesuatu yang menuju ke arah kejahatan. Tapi, nadya tak pantang arah. Bismillah!
Sebelumnya, kita sepakat ya bahwa teroris tidak merepresentasikan Islam, tidak menjalankan syariat Islam sebagaimana yg diajarkan Rasulullah. Tindakan teroris bukanlah ajaran yang berasal dari agama Islam. TITIK!
Belakangan ini Indonesia, negeri kita tercinta dilanda kepedihan yang tak disangka-sangka. 3 gereja di Surabaya dibom oleh orang-orang kejam tak beradab. Korban pun berjatuhan. Masih di hari dan kota yang sama, beberapa titik lain juga ikut menjadi sasaran bom. Pedih sekali rasanya. Negeri yang aman dan damai ini tiba-tiba berubah menjadi mencekam, masyarakat pun dibuat resah.
Namun, hati ini seakan kian terkikis tatkala mengetahui bahwa pelaku membawa-bawa Islam dalam kegiatan dzolim tersebut. Kini, pelaku tak sebatas lelaki saja, namun juga melibatkan anak-anak serta perempuan bercadar. Rasanya seperti makan hati berulam jantung. Pasca peristiwa tersebut, bangsaku dilanda Islamophobia. Banyak masyarakat yg takut kepada muslimin dan muslimah yang berpakaian jingkrang, memakai peci, memakai baju koko, serta memandang was-was kepada muslimah bergamis, plus bercadar.
Kini, perempuan bercadar menjadi sasaran empuk kecurigaan bagi banyak orang. Ketakutan ini pun menjangkiti seluruh pelosok negeri. Tidak hanya itu, muslimah yang bergamis pun tak luput dari serbuan lirikan was-was masyarakat. Sakit? Iya. Tapi, Allah tidak menimpakan cobaan/musibah diluar batas kemampuan umatnya. Seluruh ketetapan ini harus kita terima. Allah pasti memberikan hikmah di setiap kejadian yg terjadi. Peristiwa pelik ini tidak hanya menguji bangsa Indonesia, tidak hanya menguji kaum muslimin, namun juga bagi muslimah.
Ya, kita sedang diuji oleh Allah. Allah mau lihat, siapakah hamba-Nya yg tegak berdiri mempertahankan akidah dan pakaian ketaatannya meski dihadapkan dengan cobaan dari banyak pihak. Allah ingin melihat, hamba-Nya mana yg istiqomah akan pendiriannya dalam menutup aurat, dalam menjalankan syariat meski terus dirundung fitnah dari berbagai sisi.
Maka, tetaplah tutup aurat kita yaa wahai muslimah, tetaplah bergamis, tetaplah bercadar, tetaplah bungkus aurat serapat mungkin meski kita mungkin menjadi sorotan tajam mata-mata “waspada”. Allah Maha Mengetahui, biarlah Ia menilai ketulusan dan ketangguhan hati kita menjalankan syariat dan perintah-Nya. Jadikan ini sebuah ladang amal, jadikan ini sebuah jihad melawan teroris dan tuduhan-tuduhan tak berdasar.
Buktikan bahwa pelaku bom itu tidak merepresentasikan muslimah bercadar. Buktikan pada Allah, pada dunia, bahwa muslimah bercadar memiliki budi pekerti yang baik, memiliki misi untuk memajukan bangsa. Muslimah itu kunci utamanya, jika seorang muslimah baik, maka baiklah lingkungannya. Lawanlah tuduhan itu dengan kebaikan, tunjukkan bahwa tak ada kaitannya teroris dengan pakaian penutup aurat kita. Mari jadikan momen ini sebagai perbaikan diri, perbaikan akhlak. Mari ubah pemikiran mereka dengan kebaikan, banyakin senyum, saling membantu tanpa pandang bulu, saling menghormati dan mengasihi.
Sebentar lagi ramadan, jadikan bulan mulia ini sebagai agenda besar-besaran kita untuk bersama menghapus segala tuduhan “buruk” di masyarakat terhadap perempuan bergamis dan bercadar. Semoga Allah senantiasa melindingi kita, semoga Allah beri petunjuk bagi kita semua.
“Kamu salah kalau membenci semua mawar hanya karena pernah tertusuk durinya”















