Layangan Putus
Suka risih gak sih, mendengar lelaki yang rajin kajian dan taat ibadah tapi sering menjadikan nikah dan poligami jadi bahan bercandaan?
Gimana ya, paham sih sebenernya bahwa soalan asmara selalu menarik bagi banyak orang. Mungkin ada yang dulu sebelum hijrah asik banget ngomongin cewek dan pacaran. Pas udah hijrah, yang sesuai koridor agama ya ngomongin nikah, termasuk poligami. Koridor nilai/normanya berubah, tapi concernnya relatif sama.
Salah? Gak juga. Tapi yang berlebihan itu gak baik, kan? Salah-salah nanti malah jadi lalai dari mengingat Allah, melenceng dari tujuan, atau keganggu ibadahnya.
Teman saya cerita, saat baru menikah, dia sering ditanyai oleh seorang ikhwan, "Kapan nambah? Kapan nambah? Kapan nambah? hehehe." Mungkin maksudnya bercanda. Tapi teman saya ini, sampai gedeg ditanya begitu melulu.
Di banyak forum, kelakar soal nikah dan poligami sangat manjur mengundang tawa lepas para hadirin. Tak terkecuali juga group whatsapp. Ini jadi fenomena dalam budaya kita yang perlu disorot baik-buruknya.
Poligami itu bukan bercandaan sebagaimana menikahi satu orang juga bukan mainan. Maka bagaimana jika dari kelakar-kelakar itu ada orang yang akhirnya terobsesi poligami tanpa terbekali ilmu dan adab yang mumpuni?
Poligami itu hal yang besar sebagaimana setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka sudah siapkah kita yang sukanya becanda perihal poligami dimintai pertanggungjawaban atas orang yang kita pimpin? Apalagi lebih dari satu.
Saya tak ada masalah dengan poligami. Saya hanya bermasalah dengan kita, para lelaki, yang kerap kali bercanda saat bicara poligami.
Apa Rasulullah dan para sahabat pernah memberi contoh menjadikan poligami sebagai bahan bercandaan? Kalau bukan Rasulullah, maka siapa yang antum contoh, ya akhi?
Taufik Aulia
















