19 Februari 2016
Being far far away from the people you love is the worst feeling ever. Ya, menurut aku pernyataan itu akurat. Itu yang aku rasakan saat ini.
Sekitar empat bulan lalu, aku memutuskan untuk terbang ke Singapura, menuntut pendidikan bisnis, yang sebenarnya jurusan itu masih diduakan oleh diriku sendiri. Ya, karena hatiku sempat sepenuhnya berlabuh di jurusan Psikologi. Ceritanya panjang. Disingkatkan saja, aku memulai kuliah bisnis sebelum aku menyelesaikan SMAku. Mengapa? Bagaimana bisa? Caranya? Pasti banyak yang bertanya-tanya. Aku hanya ingin menjawab bahwa itu termasuk salah satu program, dimana aku harus memulai dengan diploma, bukan bachelor, karena aku tak meluluskan diri di jenjang SMA. Kau tahu? Ada secerca penyesalan dari hatiku yang paling dalam, karena tidak menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan. Lagi, itu cerita yang panjang. Akan ku sempatkan menyatakan penyesalanku itu di tulisan-tulisan berikutnya. Aku yang terbiasa diberi perhatian dan perlindungan dari dekat oleh orang tua, harus memulai lembar baru tinggal di negeri orang sebatang kara. Memang, tidak ‘sebatang kara’ juga, namun setidaknya ada seribu satu hal yang harus kulakukan sendiri yang sebelumnya orang tuaku membantuku melakukannya. Sekarang, semuanya serba sendiri. Termasuk menyimpan semua lembar-lembar kejadian yang terjadi dalam kehidupanku di negeri tetangga ini. Tawa, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan, kegagalan, kesulitan, kegelisahan, ketakutan, semuanya, memang ada yang kubagikan dengan mereka meski hanya media sosial yang membantuku menyampaikannya. Tidak bisa bertatap muka dengan muka. Namun, tetap saja ada sisa sisa dari kejadian itu yang tak terjelaskan. Yang tak terungkapkan. Dan untukku, makhluk yang suka berbagi, itu bukan hal yang menyenangkan. Tapi, jangan salah, aku selalu membaginya dengan Sang Pencipta. Dia memang tak secara langsung menjawab curhatanku even sepatah katapun. Tapi ku tahu, Dia bertindak. Dia sedang memprosesnya. Masalahku, keberhasilanku, kebahagiaanku, persoalanku, sedang ada dalam tanganNya. Aku tahu, Dia tidak pernah mengecewakanku.
Aku tahu. Aku yakin.
Well, i admit, tidak jarang aku mengabaikan orang tuaku ketika aku sedang bahagia. Dan tidak jarang pula mereka jadi sasaran dan wadahku mengeluh ketika aku sedang dalam masalah. Aku tahu, itu berbahaya. Aku paham, aku tak seharusnya begitu. Maafkan aku. Aku hanya tak terkendali. Aku sering lupa kalau karena restu mereka-lah aku bisa berdiri dan meraih kesuksesanku di negeri ini. Aku sering lalai menanyakan kabar mereka. Namun, aku tahu, ini pasti pengaruh jarak.
Ya, jarak.
Musuh terbesarku. Sesudah waktu.
Aku benci jarak.
Dia mempengaruhiku dalam banyak hal. Dia membuatku kurang peduli pada orang yang jauh dariku, padahal mereka-lah yang paling dekat dihatiku. Jarak membuatku mengabaikan semuanya. Termasuk membuatku mengabaikan perasaan orang-orang yang aku sayang, dan ceroboh dalam menjaganya. Jarak-lah yang membuat orang-orang yang kucintai sulit mendengar penjelasanku. Aku tahu mereka masih bisa mendengarnya, hanya saja, sulit bagi mereka, karena jarak membuat kita tak bisa saling menyentuh, juga saling menatap.
Aku tak akan pernah bisa berdamai dengan jarak. Sampai ia membawaku kembali, kembali disamping orang-orang yang aku cintai, dan tidak memisahkan kita lagi.










