Hai, diriku. Tidak terasa yah, tiba-tiba masa kuliah sudah selesai dan kini on the way menuju fase baru, fase dimana kamu harus lebih berhati-hati, fase dimana segala pilihan akan menjadi penentu hidupmu dalam waktu yang amat panjang.
Jika di fase-fase sebelumnya kamu hanya galau menentukan ingin sekolah dimana, ingin ikut les dimana, ingin masuk organisasi apa, kini kamu akan melangkah untuk menentukan sekolah kehidupan, dimana di dalamnya kamu mungkin akan belajar dari 0 lagi, dan ilmunya akan kamu terapkan sepanjang hidup, bahkan sudah dipastikan akan mengalami perubahan dan evaluasi seiring berubahnya keadaan zaman dan masyarakat.
Jika di fase-fase sebelumnya kamu merasa tidak apa-apa menangis karena sesuatu yang sia-sia belaka, tapi di sekolah kehidupan kamu akan dapati bahwa begitu banyak hal kecil yang akan membuatmu menangis haru serta hal-hal besar yang membuat hatimu semakin kuat dan kokoh karena kamu sadar bahwa kamu harus menghadapinya, bahwa kamu harus tetap hidup karena ada mereka yang bahagia dengan keberadaanmu.
Memori kamu akan kembali pada hal yang lalu-lalu. Apa yang tak bisa kamu dapati dari orang tuamu, mungkin kamu ingin mulai melakukannya untuk anakmu nanti. Apa yang tak bisa kamu ceritakan pada orang tuamu, kamu ingin anakmu kelak bisa menceritakan segala halnya padamu, kamu tak ingin menekan dia, tak ingin langsung menyalahi prinsipnya dan hal-hal yang akan membuatnya menjauhimu sebagai orang tua. Kamu ingin mendengarkan dan mendekap dia. Kamu tidak ingin menjadi sekedar orang tua, tetapi juga sebagai temannya yang mengerti perasaan sesamanya ketika sebuah perasaan jiwa sedang bergejolak.
Dan untuk seseorang yang tidak kutahu siapa kamu, semoga Allah mudahkan kamu dan segala niat baikmu. Sampai jumpa di waktu yang aku juga tidak tahu, hehe.
Sebelumnya, izinkan aku untuk memenuhi egoku dahulu, aku ingin membaca seluruh buku milikku yang belum sempat kubaca. Aku ingin memperbanyak waktu di rumah dahulu karena kini keluargaku adalah prioritasku, ya bahkan mungkin sampai kapanpun, dan kita harus saling dukung tentang hal itu. Kalau kamu menyangka bahwa aku wanita yang senang berkarir, mungkin sedikit meleset. Aku sebenarnya tidak paham, wanita karir itu harus yang seperti apa. Jika keinginanku adalah menjadi penulis rumahan saja, apakah bisa dikatakan bahwa aku punya karir?
Baru-baru ini seorang mentor berkata, buatlah life plan yang besar semisal menyangkut tabungan. Tahu tidak, aku tidak punya ambisi untuk memiliki apa-apa. Aneh memang karena yang kupikirkan nanti tabunganku untuk apa, ya. Maka dari itu kategorinya akan kujadikan dana darurat; mungkin bisa untuk membantu orang lain, membahagiakan orang lain, untuk berobat kalau aku atau keluargaku sakit, atau apalah nanti kupikirkan. Bisa juga nanti kusisihkan untuk membangun rumah impianku. Barangkali roda kehidupan tak selamanya di atas, mungkin itulah mengapa kita harus punya dana darurat.
Ya sebenarnya banyak hal yang perlu kita bicarakan. Jadi, kalau kamu tidak punya life plan, mohon maaf kita tidak sefrekuensi sepertinya. Masa kamu ikut life plan-ku? Aku mau masing-masing dari kita punya rencana dan nanti kita akan saling dukung.
Persoalan banyak tempat yang ingin kukunjungi dahulu, ya mungkin nanti bisa diatur ulang denganmu. Untuk list yang ini, kamu boleh ikuti aku, hahaha.
Tulisan ini adalah tulisan ngawur di hari-hari terakhirku di dalam kamar kosku di kota ter-mem-bahagiakan, Yogyakarta.
Jika aku mengenang yang ada, aku dipastikan sangat sedih. Sekarang yang aku pikirkan adalah apa yang nanti akan kulakukan dalam fase berikutnya.
Allah, aku benar-benar butuh bantuan-Mu untuk menapaki fase selanjutnya, ya bahkan seluruh fase dalam hidupku akan selalu membutuhkan petunjuk-Mu.
Semoga aku berada di jalan yang Kau ridhoi, jalan yang membuatku tenang dan mempertemukanku dengan banyak orang baik di fase selanjutnya. Aamiin.
Ygykrt, 27 Sep 2020 | 05.40 | @wedangrondehangat