Aku tahu kamu rindu masa SMA-mu. Teman-temanmu. Kota asalmu. Warung bakso langgananmu. Masjid kesukaanmu. Jalan besar dan kecil kotamu. Rumahmu. Keluargamu. Ibumu.
Aku tahu kamu rindu “waktu itu”-mu.
Aku tahu di sini menyebalkan. Suasananya. Teman-temannya. Kotanya. Makanannya. Kosannya. Orang-orangnya. Semuanya menyebalkan.
Aku juga ingin kembali ke “waktu itu”. Ketika sejak bangun hingga tidur lagi, semua diisi canda tawa. Yah, walaupun kadang diselingi banyak ke-bete-an, dan tangis satu-dua kali dalam satu bulan. Tapi semuanya terasa konstan dan stabil, walau terkadang ada sedikit rasa berat di hati, tapi aku masih sangat yakin aku tidak benar-benar sendiri. Yah, paling tidak esok hari, ketika aku bangun pagi, aku tahu akan ada makanan hangat tersaji untuk aku makan di jalan atau aku bawa sebagai bekal di sekolah.
Pada akhirnya juga aku akan hidup “sendiri”.
Aku tahu kamu rindu.
Tapi lihatlah, aku juga rindu. Aku juga berjuang melewati rindu-rindu itu. Aku juga berjuang melewati hari-hari di sini. Aku juga berjuang tidak larut dalam “waktu itu”.
Lihatlah, kamu juga berjuang. Kamu tidak sendirian. Kamu bisa bagi perjuanganmu itu denganku. Walaupun akhirnya aku juga membagi perjuanganku denganmu. Tapi yang kutahu, hal itu tidaklah lebih berat dari kita berjuang sendiri-sendiri. Paling tidak kita tahu kita tidak sendirian.
Lihatlah, jangan egois. Jangan kamu merasa kamulah yang paling sedih. Jangan merasa kamulah yang paling berat merasakan. Jangan merasa rindumu yang paling besar. Kita berjuang bersama.
Walau pada akhirnya kita juga akan hidup sendiri.
Aku tahu kamu rindu, hati. Aku juga.
Beberapa menit sebelum kuis Psium
Di ruang tertinggi di gedung D,