Jika benci dengan Ayah sendiri,
Seharusnya nabi Ismail lah yang lebih pantas untuk membenci Ayahnya sendiri!
Bagaimana tidak?
Sedari bayi sang ayah membawa pergi bayi Ismail dan ibunya, Hajar ke sebuah gurun tandus tak berpenghuni,
tak ada kehidupan, hanya Hajar dan bayi Ismail,
Sang ayah pergi tanpa berkutik,
Jika Ismail mau, sangat bisa ia membenci ayahnya, karena telah memberikan luka masa kecil yang amat mendalam.
Tapi Ismail memilih tidak,
Sebab baginya yang utama ialah perintah ilahi.
Beranjak besar, Ayahnya datang dan mengatakan bahwa dirinya--Ismail, akan disembelih,
Anak mana yang tak akan benci, setelah di tinggal pergi sang ayah, tiba-tiba ayah datang memberi kabar untuk menyembelih dirinya?
Jika Ismail mau, sangat bisa ia membenci ayahnya,
Tetapi, lagi Ismail memilih tidak,
Sebab baginya yang utama ialah perintah sang ilahi.
Sampai dewasa ketika berumahtangga pun, Ayahnya meminta Ismail untuk mengganti pintu rumahnya.
Maksudnya tersirat, ayahnya meminta Ismail menceraikan istrinya.
Jika Ismail mau, sangat bisa ia membenci ayahnya sebab telah mengintervensi kehidupan rumahtangganya.
Tetapi lagi, Ismail memilih tidak,
Sebab baginya ucapan sang ayah merupakan sebuah perintah sang ilahi.
Serang, 15 Juli 2020.
16.11.
Edisi kangen bapak :" Alfatihah..














