Sore itu aku tengah menyiapkan hidangan buka puasa untuk keluarga. Seperti biasa, akan ada obrolan di sela-sela kebersamaan bersama keluarga. Papa kala itu memulai obrolan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Teh, kamu ingat dengan Kolonel Simon?"
Aku menjeda sejenak. Mencoba mengingat kembali ingatan masa kecilku, sambil menerka-nerka ke arah mana percakapan ini akan berakhir.
"Maksudnya Papa, Pak Simon tetangga kita dulu bukan?"
Alih-alih menjawab justru aku bertanya ulang kepada Papa. Aku penasaran, apa sebenarnya yang ingin Papa bagi sore itu. Biasanya, dia akan memberi penekanan kata yang berupa pesan tertentu yang harus dipelajari, dipatuhi dan mampu mengambil hikmah dalam akhir cerita.
"Iya betul. Syukurlah, kalau kamu masih ingat. Dia orang hebat, yang sayang sama kamu seperti anak kandungnya sendiri. Papa harap kamu jangan pernah melupakannya."
Deg, tiba-tiba saja aku menghentikan aktivitasku. Mengingat tentang Bapak, seperti ada sengatan energi tersendiri. Ada ruang dihati, sebuah aroma kerinduan untuk sosok yang kukagumi dan juga dihormati. Memori masa kecil yang indah, seperti flash back masa lalu mulai menari-nari dalam benakku.
Diam-diam dalam hatiku berkata, "Neng kangen banget sama Bapak. Bahkan pengen lihat dan ngobrol sama bapak meski cuma lewat mimpi."
Papa melanjutkan bercerita, karena melihat reaksiku seperti tengah menahan tetesan air mata yang akan jatuh.
"Kalau ingat, jangan lupa kirim doa. Lagian sebelum Bapak meninggal, dia sudah berpindah keyakinan sama seperti kita. Insyaallah, doa tulus dari kamu bisa sampai buat Bapak."
"Iya, Pah. Insyaallah kirim doa tiap ada kesempatan, sama seperti mendoakan para leluhur kita tanpa pandang kasta."
Papa tersenyum sambil melanjutkan kata, "Jangan pernah menjadi orang yang lupa akan kebaikan orang lain kepada kita."
Usai percakapan itu, ingatan masa kecil bersama Bapak semakin menguat. Berhari-hari hati seakan gelisah, ada kerinduan yang belum tersampaikan kepada sosok yang di rindu.
Di tengah ketidakberdayaan diri, aku bermunajat pada Allah. Lebih ingin bercerita, tentang apa yang tengah hatiku rasa. Sebuah rasa yang tidak bisa tergambar oleh logika, juga tak mampu di definisikan dengan kata.
Yang kuingat tentang Bapak, sosoknya yang berwibawa dan berkharisma. Suaranya bulat nan lembut, dengan aksen penuh ketegasan. Wajah bulat dengan mata sipit, sorot mata meneduhkan siapa saja yang memandang. Papa bilang, Bapak salah satu umat kristiani yang taat. Wajar, jika energi ketenangan terpancar darinya.
Dulu aku sempat merasa takut dengan Bapak. Tidak mau di gendong, bahkan di sentuh. Aku tidak menyukai orang asing yang hendak masuk dalam kehidupan tanpa permisi. Lambat laun, seiring berjalannya waktu cinta, kebaikan dan ketulusan Bapak yang mengubah segalanya.
Bapak mengajarkan banyak hal, menanamkan sikap gigih (tidak menyerah pada keadaan), percaya diri, berargumentasi, cinta pada binatang, menyukai beragam olahraga, dan tak terhitung lagi apa yang di tanamkannya agar anak perempuannya tumbuh menjadi anak yang tangguh.
Yang paling kusuka dari Bapak, jika berjanji ia akan tepati. Kalaulah belum mampu mewujudkannya dia akan datang meminta maaf, dan membuat ulang rencana agar bisa menepati. Aku hanya akan mengangguk perlahan saat menerima penjelasan darinya. Bagaimana aku akan menyangkal, dari banyaknya janji Bapak selalu penuhi. Padahal aku bukan anak kandungnya.
Saat TK mendekati perpisahan kelas, aku diminta oleh guru untuk membawakan salawat. Bapak memfasilitasi, dengan membeli mic dan sound untukku lebih giat berlatih. Terkadang, aku memamerkan hafalan surat pendek dihadapan Bapak. Aku menunjukkan buku juz amma agar Bapak mengkoreksi dengan melihat latinnya.
Bapak mengijinkanku menyentuh setiap barangnya, dengan catatan harus meminta ijin terlebih dahulu. Kupahami aturan itu, sampai satu ketika ada larangan untuk menyentuh satu barang milik Bapak. Ya, aku menyukai membaca dari kecil. Meskipun saat TK masih terbata-bata membaca, tetap tak menyurutkan semangat belajarku.
Aku mengambil buku di atas nakas atas seijinnya. Namun, beliau mengambil dengan refleks saat buku itu mulai kubaca. Kata-katanya saat itu sungguh berkesan, masih kuingat jelas dan seperti tertanam di alam bawah sadarku.
"Neng, boleh baca buku yang lain kecuali buku yang ini!" Menunjukkan satu buku dengan sampul berwarna coklat yang baru saja kupegang. Ini kitab punya bapak. Neng gak boleh buka."
"Kenapa Pak? Memangnya itu buku apa?"
Gadis mungil yang polos merasa belum puas dengan alasannya. Dia berusaha bertanya kembali agar terpuaskan dari rasa penasarannya.
"Ini kitab punya Bapak, Neng. Nanti pulang tanya sama Papa kitab yang Neng punya di rumah yah. Kitab kita berbeda, tapi Bapak gak bisa jelaskan lebih jauh, suatu saat nanti neng akan paham perbedaan di antara kita."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Dulu Papa sempat melarang aku dekat dengan Bapak. Tapi, setelah kuceritakan kejadian itu, Papa tidak melarangnya lagi. Dia tahu anaknya diberikan kasih sayang, tanpa syarat apapun. Bahkan soal keyakinan saja, Bapak menjaga dengan baik.
Ada dua pesan dari Bapak, sebelum aku pulang dan bertanya kepada Papa tentang kitab yang dimaksud. Pesannya yaitu kelak ketika dewasa ingat dua hal ini ya Neng. Pertama, jadilah muslim yang taat dan penuh kasih sayang pada sesama. Kedua, pelajari kitab (Al-Quran), agar bisa paham tentang tujuan kehidupan.
Sepenting itu ketaatan, hingga membuat seseorang menjadi candu untuk terus mencari Tuhannya.
Kemudian takdir mengubah semuanya. Bapak dan aku harus terpisah, entah apa yang menjadi sebab utama. Aku masih terlalu kecil untuk perpisahan yang tidak kupahami alasannya.
Setelah terpisah belasan tahun lamanya dengan Bapak, bertemu kembali di usiaku menginjak belasan tahun. Dia hadir, seakan mengobati kerinduan anaknya yang sempat mencarinya. Pertemuan rahasia antara aku dan Bapak. Empat mata, antara aku dengannya.
Kekhawatiran seorang ayah kepada anaknya, yaitu menanyakan kabarnya. Selain itu memastikan bahwa dia dalam keadaan terpenuhi semua kebutuhannya, baik itu pendidikan, kesehatan, dan penjagaan.
Dalam pertemuan rahasian itu, Bapak bertanya dua pertanyaan penting. Bagaimana pendidikanku? Lalu, siapa lelaki terdekat yang ada di sampingku. Saat itu bapak menawarkan biaya pendidikan, juga tawaran agar aku bisa dekat dengan salah satu prajurit setia.
Kedua tawaran itu aku tolak secara halus. Aku menyadari, itu bentuk kasih sayangnya. Hanya saja, aku lebih senang berjuang sendiri saat itu. Ingin belajar mandiri dan bertanggung jawab pada hidupku sendiri.
Usai pertemuan itu, aku berjanji akan lebih sering berkunjung ke rumahnya. Namun, alasan sibuk lagi-lagi membuatku belum mampu memenuhi janji itu.
Sampai suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa Bapak telah di panggil oleh Yang Maha Kuasa. Ada sebuah penyesalan dalam diri, mengapa aku tak memenuhi permintaan terakhirnya. Jikalau aku tahu itu pertemuan terakhir, aku tidak akan pernah menolak permintaan itu. Yang tersisa hanyalah penyesalan.
Kepergian Bapak, meninggalkan duka yang mendalam. Namun, saat kepergian itu aku bersyukur. Bapak telah memiliki keyakinan yang sama, dan itu jauh lebih penting dari hal apapun. Itulah alasan mengapa aku masih bisa bahagia meski hati dipenuhi tangisan dan luka.
Setelah itu hanya tersisa kenangan. Kolonel Simon, nama yang terpatri dalam hati yang memberikan cinta tanpa syarat. Aku bangga pernah menjadi anakmu, Pak. Meskipun, aku bukanlah anak kandungmu seutuhnya. Tapi, semua yang diberikan itu seperti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.
Bapak yang tenang di sana. Neng masih berjuang untuk memenuhi dua misi yang Bapak berikan. Menjadi muslim yang taat dan mengenal kitab yang Neng yakini, adalah tugas sepanjang hidup yang masih terus di perjuangkan.
Semoga kelak, Neng bisa bertemu sosok lelaki seperti Bapak. Dari lisannya mampu mengarahkan, mendidik dan membimbing. Dari sikapnya mampu mengajarkan kebaikan budi dan akhlak. Dari ilmu dan keimanannya, mampu membuat diri semakin dekat dengan Sang Pencipta dan mengenal jati diri sebagian hamba. Aamiin, Ya Rabb...