Namanya Liana. Teman duduk di Kereta Lodaya malam Jumat kemarin. Beberapa tahun lagi, usianya menginjak kepala enam. Namun, semangatnya seperti masih kepala dua saja.
"Saya punya hobi yang aneh", ucapnya padaku. "Main layang-layang", tambahnya. Namun, bukan layang-layang biasa yang ia mainkan. "Saya biasa main yang 'art'....".
Jika melihat tayangan berita di bulan Juli-Agustus, kita seringkali menyaksikan tayangan perlombaan layang-layang raksasa. Mulai berbentuk tokoh kartun, hingga berbentuk hewan ukuran raksasa. Seperti itulah gambaran layang-layang yang diterbangkan Liana.
Liana belajar membuat layang-layang raksasa secara otodidak. Jangan salah, meski begitu, desain layang-layangnya telah diproduksi di daerah Weifang, Tiongkok. "Saya dapat bagi hasil dari tiap penjualan," katanya.
Ia pernah membuat dan menerbangkan layang-layang berukuran panjang 50 meter. Ia juga kerap menjuarai perlombaan layang-layang tingkat dunia. Terakhir, ia meraih juara pada tahun lalu. "Saya hanya ingin bilang ke anak muda, tak ada yang tak mungkin," tegasnya.
Di sela-sela mengobrol tentang layang-layang, Liana juga menceritakan bagaimana kisah hidupnya.
Ayahnya meninggal ketika ia berusia 12 tahun. Hal itu, membuat ia dan saudaranya hidup terpisah-pisah. Menginduk di rumah-rumah kerabatnya.
Ia sendiri lama ikut di tempat buliknya di Solo, tempat yang ia tuju kemarin dari Stasiun Bandung.
Namun, kali ini berbeda. Buliknya telah terbujur kaku setelah menghembuskan nafas terakhirnya.
Liana. Meski ia telah putus sekolah sejak usia remaja, ia tak berhenti belajar. Ia bercerita seringkali datang ke toko buku hanya untuk membaca, bukan membeli. "Kita tak usah malu," katanya.
"Jaman sekarang lebih enak", ungkapnya. "Saya biasa tanya Mbah Google", gumamnya. "Dan jawaban [pertanyaan]nya ada di Mbah Google", ucap Liana sambil senyumnya mengembang.
Meski di masa kecilnya ia memiliki akses pendidikan terbatas, ia tak lantas menyerah. Anak-anaknya lulusan luar negeri. Anak pertama lulusan Stuttgart, Jerman. Anak keduanya mengambil bisnis internasional. Yang bungsu, kuliah di NTU Singapura -- umurnya sepantaran denganku.
Tak hanya pandai mendidik anak, ia juga pandai berbisnis. Ia menjadi pemasok terbesar jaket musim dingin dan kaos kaki di Hypermart. "Sekarang agak lesu, karena pengaruh ekonomi global," curhatnya. Dulu, ia sempat memiliki 30 lebih karyawan (ia menyebut mereka anak angkat), kini tinggal belasan. "Kalau mengejar harta, segunungpun tak akan puas," kata Liana. Kini, ia lebih menikmati hari-harinya bersama cucu dan suaminya yang pensiunan dosen Teknik Industri ITB.
"Yang menentukan sukses tidaknya keluarga itu istri," nasihat Liana padaku malam itu. Ia punya kenalan yang rumah tangganya berantakan, karena sang istri tidak pandai menyenangkan suami.
"Gimana nggak ngelirik yang lain, kalau suami datang ke rumah dia cuma dasteran, rambutnya juga cuma diikat gulung ke atas," ucapnya agak kesal. "Makanya, istri punya peranan sukses tidaknya sebuah keluarga".
Seperti ibuku yang sering menanyaiku, Liana juga bertanya padaku, "apakah Fauzan belum berminat punya teman hidup?".
Malam semakin larut, kereta Lodaya terus melaju. Membawa kami ke stasiun pemberhentian masing-masing....