Rumitnya PR matematika belum ada apa-apanya jika dibandingkan rumitnya cinta kamerad. Cc: @kitasayembara @kitajateng #spk2017 #sayembarapenakita #masakecil #lombacerpen #lombapuisi
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Poland
seen from United States

seen from Canada

seen from South Korea

seen from United States
seen from South Africa
seen from Saudi Arabia
seen from Netherlands

seen from Canada
seen from Russia
seen from Yemen

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from China
Rumitnya PR matematika belum ada apa-apanya jika dibandingkan rumitnya cinta kamerad. Cc: @kitasayembara @kitajateng #spk2017 #sayembarapenakita #masakecil #lombacerpen #lombapuisi
Tatkala singgah di rumah lama untuk waktu yang lama, akhirnya kamu menyadari: yang kamu rindukan ternyata bukanlah rumah lama, melainkan masa kecilmu. #lombacerpen#cerpenremaja#kumpulancerpen#cerpenanak#sastrawan#sastrainggris#kafka#literasi30detik#literasicinta#marimembaca#sabtubacabuku#bukuanak (di Cairo, Egypt) https://www.instagram.com/p/CH1DwBxH5Et/?igshid=1nt0wkt6qn0k1
#Repost @icha.khalisa09 • • • • • • Hi, namaku Khalisa. . Buat kamu yang sudah menunggu sejak lama untuk ikut event LMCN di @ikutlomba, sekarang kamu bisa langsung daftar GRATIS lho! Yuk, ikutan karena kamu bisa menangin hadiah TOTAL SAMPAI RP 9.000.000.00 . Pendaftaran, Share Poster, Upload Twibon, Konfirmasi 17 Oktober 2020 s.d 18 Januari 2021 Kirim Karya 17 Oktober 2020 s.d 18 Januari 2021 . Pendaftaran pada link www.ikutlomba.co.id/IKUTLMCN4 Panduan pada link www.ikutlomba.co.id/INFOLMCN4 . Info lebih lanjut hubungi : Instagram : @ikutlomba Facebook : Ikut Lomba Kreasi Media Website : www.ikutlomba.co.id #ikutlomba #ikutlombagratis #lombacerpen #lmcn4il (Tag 3 of your friends or more here) Get yourself this twibbon at twibbonize.com/TWIBONLMCN4 Also follow @twibbonize on Instagram #twibbonize (di Jakarta, Indonesia) https://www.instagram.com/p/CGxPyfdr6zu/?igshid=1aqzhf3sei9tr
Muara
Malang, 17 September 2017
Saat itu malam tengah berkuasa di sudut Kota Malang, angin yang berhembus seakan menyatakan bahwa kemarau akan tiba dan musim segera berganti rupa. Hanya satu yang ada di pikiranku kala itu: aku butuh selimut.
Lelaki di sebelahku, sedang berceloteh tentang data balita gizi buruk dan bagaimana tim kesehatan akan bekerja sama menanggulanginya. Otakku yang tidak ingin bekerja sama, aku tidak mendengarkan apapun ucapannya tentang data dan program, bahkan ketika ia menyentuh lenganku pelan, aku masih terpaku pada kaki telanjangku.
“Seharusnya aku memakai kaus kaki,” gumamku.
Laki-laki itu menoleh, “Apa?”
Aku cuma tersenyum kecil dan menggeleng pelan, memilih menatap layar laptop dan mengabaikan pertanyaannya.
Ia kembali berceloteh, “Kita bisa menggerakkan para kader posyandu agar program ini sukses, seluruh sektor harus ikut terlibat.”
Aku cuma mengangguk, mengiyakan seluruh pendapat yang dilontarkannya sambil berpura-pura fokus mengetik ucapannya di laptop untuk dibicarakan esok hari bersama seluruh anggota tim kesehatan.
Malam masih panjang dan desa ini lebih sunyi dari dugaan.
Sebulan lalu kami melakukan survei lokasi untuk mengetahui kondisi lapangan, desa ini cukup jauh dari kota bahkan merupakan perbatasan dengan wilayah kota lain, namun yang menjadikannya menarik adalah berbagai permasalahan kesehatan yang dialami warganya, tempat ini sangat cocok untuk program intervensi kami. Pada siang hari jalanan selalu ramai karena merupakan jalan lintas kota dan sering dilewati truk logistik serta kendaraan umum, namun tidak kusangka pada malam hari desa ini begitu sunyi seakan kehidupan terserap ke dalam inti bumi.
“Padma?” lelaki di sebelahku membuyarkan lamunan dan membawaku kembali ke detik ini. Ia memintaku untuk mencatat rencana program yang akan menjadi topik rapat pertama tim kami.
Aku tak banyak bicara selain menanggapi dengan gumam setuju dan jawaban “Ya.”
Lalu tiba-tiba saja tangannya mencegah jemariku yang sedang menari di atas tuts keyboard.
“Kamu tidak fokus,” ujarnya.
Aku tidak terkejut ia berkata demikian, “Ya, maafkan aku, ini sudah hampir tengah malam dan aku tidak terbiasa bekerja sampai larut.”
Aku mengira ia akan terus memaksaku mencatat, namun ia justru memindahkan laptop dari pangkuanku ke pangkuannya.
“Istirahat saja,” katanya sambil mulai mengetik di laptop.
Aku tidak ingin menjadi seorang sekretaris tim yang tidak bertanggungjawab, maka aku tetap menemaninya meskipun tidak membantu apa-apa. Aku bahkan masih tetap bersandar di tembok saat ia berhenti mengetik, kelihatannya rancangan program telah selesai.
“Padma, tahukah kamu aku seorang anak pertama?” pertanyaan itu dilontarkan tanpa dugaan. Aku terkejut dan seketika menoleh ke arahnya, ekspresinya tidak sanggup kubaca, ini bukan seperti dirinya yang telah kukenal tiga tahun lamanya. Masih terkejut, aku susah-payah berusaha menyembunyikan raut kaget dari muka dan cuma mengangguk.
Ia tersenyum ke arahku, lalu matanya menatap ke arah lain, menerawang.
“Ayahku orang yang tegas, ia mendidikku seperti seorang tentara yang akan melaju ke medan perang. Aku harus selalu fokus dan memiliki tanggung jawab untuk mencapai tujuan.”
Aku menunduk, apakah ia sedang membicarakanku?
“Tenang saja, aku tidak menyindirmu, hanya saja aku butuh teman bercerita.”
Oh, hebat, kini dia bisa membaca pikiranku.
“Ibuku orang yang lembut, tapi keadaan keluarga kami sekarang rumit dan hanya aku orang yang diharapkannya untuk membawa kehidupan kami menjadi lebih baik.”
Aku tidak tahu kemana arah pembicaraannya tetapi aku diam dan mendengarkan. Ia tetap bercerita mengenai kisah hidupnya, keresahannya, mimpinya, di akhir cerita ia menatapku, mata kami bertemu.
“Rasanya aku seperti langit, keadaanku kini kelabu penuh awan gelap, hanya dua kemungkinan untuk bisa menyelamatkan keadaanku. Pertama, hujan deras bahkan badai sehingga akan datang pelangi esok hari. Kedua, mengharap keajaiban untuk matahari datang menyinari.”
Aku termenung sejenak mendengar kalimat puitis datang dari seorang yang biasa terlihat begitu serius dan kaku.
Dan entah mendapat kekuatan dari mana, bibirku dengan entengnya melontarkan kata-kata. “Kalau betul kamu langit, sesungguhnya kamu tidak butuh hujan dan matahari untuk membantu mengusir awan-awan gelap itu, karena sejatinya kamu tetap biru.”
Ia tersenyum, cukup lama kami membatu sehingga cukup waktu untuk mengetahui bahwa sesuatu telah berbenih dalam hatiku.
Laki-laki itu, Rawa, menggenggam jemariku. Ia tersenyum.
“Kamu butuh selimut?”
Aku mengangguk dan balas tersenyum.
*
Bandung, 4 Desember 2017
Bandung tampak sendu, setidaknya buatku.
Berada di kota ini untuk melakukan pekerjaan adalah hal yang menyebalkan, padahal aku ingin berkeliling di Braga, mencoba berbagai kuliner yang ada di sana sambil memotret jalanan dan orang-orang yang sedang berjalan. Namun beban pekerjaan membuatku tidak bisa menikmati Bandung semestinya.
Drrtt.. drrrttt…
Satu pesan masuk. Aku lantas melihat layar ponsel yang menyala, dari Rawa.
Ugh, mengapa laki-laki itu mengirimkan pesan padahal jarak kami hanya satu bangku? Pikirku.
Aku menoleh ke belakang, tepat di sana duduk seorang laki-laki dengan senyumnya.
“Apa?” kataku.
“Cek ponselmu,” ia berkata.
Aku mendelik padanya, ia bisa saja menjawab pertanyaanku secara langsung.
“Aku tidak membawa permen,” sahutku setelah melihat isi pesan yang dikirimkannya. Setelah memberikan jawaban, aku kembali fokus ke jalanan di luar jendela.
Perjalanan ini membuatku mengantuk.
Baru saja aku ingin memejamkan mata, aku merasakan lenganku ditusuk dengan tidak sabar oleh jari seseorang dari belakang.
Aku kembali menoleh pada Rawa, tanpa bertanya ia sudah memberondongku dengan kata-kata.
“Padma, perjalanan ke Desa Anti Stunting itu masih jauh, tidurlah dahulu.”
“Ya,” jawabku singkat.
“Kamu butuh selimut? Aku membawa selimut kecil, pakai saja kalau AC nya terlalu dingin.”
Aku cuma menggeleng, “Tidak.”
Setelah itu, aku malah tak bisa tidur. Seiring laju bus yang semakin kencang membelah Bandung, pikiranku justru kembali ke belakang, aku mengingat Rawa dan perjalanan tim kami dari sudut Kota Malang hingga kini meninjau sebuah desa di kawasan Bandung.
Tiga bulan lalu Rawa menggenggam tanganku, itulah saat aku menyadari ada perasaan yang mekar, setelah pulang dari desa di Malang dan kembali bekerja di kantor dinas kesehatan, Rawa berubah sikap seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Kini dalam perjalanan bis di Bandung, ia justru kembali menawarkan kehangatan.
Aku jadi bertanya-tanya, mengapa ia bersikap seperti itu? Apakah ini berhubungan dengan kecenderungan sikap zodiaknya?
Penasaran, aku menengok laman Facebook milik Rawa. Ia lahir pada 9 April, aries, pikirku mantap.
Pantas saja ia menjadi orang yang dipercaya menjadi ketua tim kami, ia memang terlahir menjadi pemimpin. Namun, sikap Rawa yang tidak memberikan kepastian kepadaku bukanlah sifat aries sejati.
Di tengah perbincangan hangat dengan kepalaku sendiri, aku terkejut ketika Rawa tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
“Padma,” panggilnya.
“Hah?”
“Kamu melamun, kita sudah sampai. Ayo turun.”
Benar kata Rawa, kami sudah sampai. Bahkan anggota tim kesehatan yang lain sudah lebih dahulu turun dari bus. Aku seketika merapikan rambut dan mengambil tas ransel di bagasi, Rawa masih menunggu dan menatapku bersiap.
“Duluan saja, kamu ketuanya, nanti yang lain menunggu.”
Rawa menggeleng, “Aku menunggumu. Sebagai sekretaris kamu tidak boleh jauh dariku untuk mencatat hal-hal penting. Sebagai Padma, kamu tidak boleh ke mana-mana kecuali bersama denganku.”
Aku melongo.
“Sudah?” tanyanya.
Aku cuma mengangguk dan tidak merasakan apapun di sekitarku kecuali genggaman tangan Rawa yang menuntunku turun dari bus. Ketika ia melepas genggaman tangannya, aku kembali tersadar kami sudah berada di lokasi peninjauan kasus dan Rawa sudah berada di tengah-tengah anggota tim kesehatan lain untuk bersiap menemui kepala desa setempat.
Ugh, Rawa.
Kamu berhasil membuatku penasaran setengah mati, aku akan mendapatkanmu, lihat saja nanti.
*
Bandung, 6 Desember 2017
Aku terbangun kaget karena berondongan dering ponsel yang entah sudah ke berapa kalinya. Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku langsung memencet tombol hijau.
“Halo,” suaraku parau.
“Padma, kamu tidur?”
“Rawa, aku akan menyelesaikan laporan kunjungan esok saat kembali ke kantor.” sahutku tanpa menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak menagih itu,”
Perlahan, aku duduk dan menyadari bahwa Tiara, teman sekamarku yang seorang petugas sanitarian di dinas kesehatan, sudah tidak di tempat tidur. Senja di kejauhan kini tampak dari jendela kamar.
“Kamu mau?” suara Rawa menyadarkanku.
“Eh, apa?”
“Padma, aku mengajakmu jalan-jalan,” sahut Rawa di seberang.
“Haa?”
“Cepat mandi dan bersiap, pukul enam aku akan menunggu di depan kamarmu.”
Telepon itu dimatikan.
Aku menengok jam di dinding. Sialan. Aku lupa kalau ini kamar hotel, bukan kamar kosku.
Pukul 17.23 saat aku menatap layar ponsel dan Rawa bilang akan menunggu pukul enam tepat? Aaarrgghh, dasar aries gila.
Aku masih menyemprot parfum di baju ketika terdengar ketukan di pintu. Ketika aku membukanya, Rawa sudah berdiri dengan pakaian casualnya, sungguh pemandangan yang berbeda dengan ketika ia di kantor.
“Kamu tahu, semua orang sudah memanfaatkan waktu malam ini untuk jalan-jalan dan membeli oleh-oleh, bahkan kamu sampai ditinggal oleh teman sekamarmu dan kamu malah tidur?” Rawa mengoceh dan seperti biasa, ia adalah seorang ketua tim yang menyebalkan.
“Kita mau ke mana?” tanyaku tanpa menggubris ocehannya.
“Kamu yang menentukan.”
Aku berpikir, dan belum sempat aku menjawab, Rawa sudah menggandeng tanganku.
“Ayo kita mengunjungi kafe kecil di Braga,” ia tersenyum.
Aku baru saja ingat bahwa tentu saja seorang aries sudah merencanakan tempat untuk jalan-jalan, dan bukan tempat sembarangan yang ia tuju.
Kami tiba di kafe yang dimaksud Rawa setelah empat puluh lima menit kemudian.
Aku mengedarkan pandangan, di depan kafe itu terdapat lampu-lampu kecil berwarna kuning keemasan, ada tempat duduk di halaman dan juga di dalam ruangan.
Tanpa bertanya kepada Rawa, aku sudah memilih satu tempat duduk di halaman yang menghadap langsung ke jalanan. Lelaki itu mengikutiku saja, ia mengambil kursi tepat di depanku.
Aku melihat jalanan kecil Braga, penuh orang-orang yang sedang berjalan menikmati kota dan mungkin menikmati cahaya lampu dari banyaknya kafe dan restoran.
“Kenapa menatapku terus?” Rawa memulai pembicaraan.
Aku menatapnya heran, “Aku melihat jalanan, sayang sekali aku tidak membawa kamera, padahal aku sangat ingin memotret Braga.”
“Padma pernah ke sini?”
Aku mengangguk, “Sudah, dulu jalanan Braga belum seindah ini, aku ingin mengabadikannya dan membuat perbandingan.”
Mendengar jawabanku, Rawa cuma mengangguk.
Beberapa menit berlalu dan kami tetap diam, sampai akhirnya seorang pelayan mengantarkan pesanan kami. Rawa memesan nasi goreng dan es jeruk, aku memilih french toast dengan kopi aroma.
Baru suapan pertama, Rawa sudah kembali berbicara.
“Aku suka matamu,” katanya.
Aku cuma menatapnya, lalu menatap french toast di depanku, es krim vanilla di atasnya hampir mencair. Aku melanjutkan mengunyah.
“Padma,” ia menyentuh lenganku pelan, aku sampai harus menaruh garpu di atas piring.
“Rawa, kamu tahu aku tidak suka digantungkan. Dulu saat di Malang, kamu bercerita banyak tentang keluargamu dan menggenggam tanganku, lalu di kantor kamu berubah seolah tak pernah terjadi apapun di antara kita, sekarang di Bandung kamu mengajakku jalan-jalan dan apalagi setelah ini?” aku memberondongnya dengan pertanyaan, sepertinya lelaki itu tidak siap.
Tidak tahan menatap Rawa, aku memilih kembali terfokus pada french toast yang kini tampak tidak menggoda.
“Padma, kamu tahu bahwa aku seorang aries?” Rawa mengalihkan pembicaraan.
Aku cuma menanggapinya dengan “Hmm.”
Rawa lalu meraih tanganku, menyelipkan jemarinya di antara jemariku.
“Sebagai seorang aries, aku tidak akan membiarkan orang tanpa kejelasan. Apalagi jika orangnya kamu,” aku merasakan suara Rawa melembut dan ia menggenggam tanganku lebih erat.
“Aku sudah tertarik padamu sejak kita berkuliah dulu, bahkan aku senang kita bekerja di tempat yang sama dan menjadi satu tim. Aku tertarik karena namamu Padma, dalam ajaran Buddha, teratai melambangkan pencerahan, cinta, dan kemurnian.”
“Aku tahu, kamu tak perlu membicarakan namaku di depan diriku sendiri.”
“Padma, dulu aku mengajakmu berbincang mengenai masalah keluargaku, hanya untuk meyakinkan diri bahwa kamu orang yang tepat. Ternyata selain memiliki kecerdasan dan terkadang berdebat denganku masalah tugas sebagai tim kesehatan, kamu juga punya hati yang tulus. Seorang aries akan jatuh cinta habis-habisan dengan sifatmu itu,” Rawa melanjutkan, aku semakin tidak berani menatap matanya.
Cukup lama Rawa tidak melanjutkan kata-katanya, aku bahkan akan menarik tanganku ketika lelaki itu menggenggamnya lebih kuat. Mau tak mau, aku menatapnya.
“Kenapa selama ini justru seperti tidak terjadi apa-apa?” hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku, Rawa tak juga melepas genggaman tangannya.
Rawa hanya tersenyum, “Maaf, butuh waktu bagiku untuk menyadari perasaan ini. Aku mengira ini hanya kekaguman biasa, ternyata semakin hari justru semakin menguat. Sampai akhirnya, hari ini aku yakin untuk mengatakan yang sejujurnya.”
Aku tidak menjawab lagi, perlahan aku menarik tanganku dari genggaman tangan Rawa, lelaki itu tak menahanku.
“Ayo kita kembali ke hotel, sudah pukul sembilan, besok kan kita mengambil penerbangan pagi ke kantor di Jakarta untuk laporan.”
Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kasir, menolak ditraktir, aku membayar sejumlah uang kepada kasir yang dengan bingung menerima uang dari Rawa juga. Setelahnya Rawa mencegat taksi dan dalam perjalanan menuju hotel, kami tak saling bicara, memilih tenggelam dalam pemikiran masing-masing sambil menengok ke luar jendela, menikmati cahaya lampu kota Bandung beserta jalanan yang penuh lampu kendaraan bermotor.
Hanya beberapa langkah menuju pintu kamar hotelku, Rawa menggenggam tanganku lagi, ia menarikku dan merengkuh tubuhku dengan erat.
Aku sangat terkejut, tapi tak bisa menolak. Aku menyandarkan kepala di dadanya, detak jantungnya bergema, bahkan aku bisa mendengar suara napasnya.
“Rawa,” panggilku.
“Sebentar saja, Padma. Biarkan aku begini sebentar saja, karena kamu tak berhasil jadi milikku, biarkan aku memelukmu untuk pertama dan terakhir kalinya.”
Aku membalas pelukan itu, membiarkan jemariku mengelus punggung dan kepalanya.
“Rawa,”
Tak ada jawaban, lelaki itu semakin erat merengkuhku.
“Jika aku memiliki perasaan yang sama, hubungan ini akan membawa kita ke mana?” tanyaku.
Rawa melepas pelukannya, ia kini menatapku.
“Kamu memiliki perasaan yang sama denganku?” ia balik bertanya.
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Muara,” ia berkata dengan mantap.
“Hubungan ini akan membawa kita ke muara, kamu Padma, sudah selayaknya hidup bersama Rawa. Akulah muara, pemberhentian terakhir yang kamu punya.”
Aku kembali tersenyum, sebuah peluk dan cium dihadiahkan Rawa malam itu, entah bagaimana hubungan kami esok hari, untuk saat ini biarkan aku memiliki dirinya yang utuh. Muaraku.
Tag Senja. Reposted from @platinumpublisher.id Lomba Cerpen Anniversary Platinum Publisher ke 2 Tahun Tema: Senja Genre: Realisme (Teenlit/ young Adult/ Adult) 📌31 Agustus - 12 September 2020 Pendaftaran https://bit.ly/PPCerpenSenja 📌31 Agustus - 30 September 2020 Pengiriman karya 📌1 Oktober - 14 Oktober 2020 Penjurian Pengumuman pada tanggal 19 Oktober 2020 Juara 1 : Rp 350.000 + eSertifikat + Terbit Buku Juara 2 : Rp 100.000 + eSertifikat + Terbit Buku Juara 3 : Rp 50.000 + eSertifikat + Terbit Buku 17 Cerpen Pilihan : eSertifikat + Terbit Buku Baca persyaratan umum pada banner, dan jangan lupa ajak teman kalian, Lits. Gratis!!! #platinumpublisher #selfpublishing #penerbitindie #lombacerpen #anniversary #AntologiCerpenPlatinum #CerpenSenjaPlatinum #PlatinumPublisherAnniversary - #regrann (at Paciran, Jawa Timur, Indonesia) https://www.instagram.com/p/CExW_5xAes6/?igshid=1e1q9qukvrjo3
Bertahan dalam Hujan untuk Pelangi Dari Australia Barat untuk Indonesia Penulis: William Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia ISBN: 978-602-433-793-3 Dimensi: 14,5 x 21 cm Jumlah Halaman: xviii + 188 hlm Tahun Terbit: 2019 Original Harga Rp85.000 Sinopsis Buku ini sejatinya berisi tiga hal. Pertama, apa yang dialami, dirasakan, dan diambil pelajarannya oleh ke-36 penulis selama proses belajar dan bersosialisasi di Perth, Australia Barat. Kedua, mengapa pengalaman dan pelajaran tersebut penting untuk diadaptasi dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia di berbagai bidang. Ketiga, buku ini berisi bagaimana cara para pembaca bisa mendapatkan intisari dari apa yang dibagikan oleh para penulis untuk kemudian ditindak-lanjuti lewat langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan sesegera mungkin. Buku ini dapat dibaca sebagai buku tips dan trik, cerita pendek, lempingan kehidupan pencari ilmu pengetahuan yang menempuh jalan sunyi intelektual di negeri orang serta sebuah buku untuk merayakan semangat ke-Indonesia-an saat para penulisnya tidak berada di Indonesia. #cerpen #lombamenulis #lombacerpen #menulis #menuliscerpen #puisi #lomba #lombamenuliscerpen #sma #sastraindonesia #lombanasional #infolomba #novel #literasi #buku #kompetisi #infolombamahasiswa #informasilombamenulis2019 #infoterkini #info #lombanulis #internasional #indonesiamenulis #oufestiii #olimpiade_update #opsilon #olimpiade #smp #siswa #lombaonline https://www.instagram.com/p/CDuA666ppxk/?igshid=19xj40aoodeo4
Saat #dirumahsaja kreatifitas tak boleh kandas. Melalui sayembara Penulisan esai, cerpen dan puisi dengan tema #jejakrindu dalam rangka soft launching www.gowrite.my.id semoga bisa jadi picu kreatifitas literasi kita. Sayembara berhadiah total 34,5 Juta ini terbuka untuk umum dan akan berakhir pada 20 Juni 2020. Yuk ramaikan. Ketentuan teknisnya lihat di website kami ya atau bisa email ke [email protected] atau WA 085774540495 untuk mendapatkan panduan lengkap sayembara. Follow supporter kami @infountukguru #lombaesai #lombacerpen #lombapuisi #lombapuisi2020 #kursusmenulisonline #kursusmenulis #lombacerpen2020 #lawancovid19 #literasi #literasiindonesia #sahabatdikbud #eventindonesia #lombauntukguru #lombauntukpenulis (di Seluruh Indonesia) https://www.instagram.com/p/B_Gm4Dgpu-2/?igshid=1hk609v8h71i6
Lomba Menulis Cerpen Islami Ansoruna
Lomba Menulis Cerpen Islami Ansoruna - Ansoruna Business School, Storial.co, dan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI akan mengadakan kompetisi menulis cerita pendek bertemakan Islam Rahmatan-lil-alamin, yakni Islam yang mengedepankan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, dan kerukunan terhadap sesama. Kompetisi dengan total hadiah Rp 11.000.000,- dan 4.000 Storial coin ini terbagi menjadi dua kategori peserta, yakni umum dan santri/pelajar. Latar belakang dan tujuan: Kompetisi menulis cerpen diadakan Storial dan Ansoruna untuk menemukan penulis berbakat dari berbagai daerah. Periode kompetisi/submission: 16 Maret – 21 Juni 2020 Periode penjurian: 22-30 Juni 2020 Pengumuman pemenang: 1 Juli 2020 Campaign: #RahmatUntukSemua Kategori Umum Santri/ Pelajar (maksimal 20 tahun) Ketentuan Menulis: Panjang cerpen minimal 2500 s/d 5000 kata Menggunakan Bahasa Indonesia Cerpen kamu harus bersifat orisinal dan tidak terikat dengan pihak mana pun Satu peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen Syarat utama kompetisi: Wajib follow salah satu media sosial Storial Twitter Instagram Facebook dan Ansoruna Instagram Repost/re-share e-flyer lomba #RahmatUntukSemua di akun media sosialmu sebagai tanda pendaftaran. Cantumkan username akun Storial milikmu di kolom caption Instagram atau tweet-mu. Jangan lupa untuk tag/mention Storial dan Ansoruna Upload cerpenmu ke website Storial dan email [email protected] Pengiriman Tulisan: Tahap I – Kirim cerpenmu ke email [email protected] Tulisan dikirim ke email [email protected] Subject Email ditulis CerpenIslamRahmatUntukSemua-Nama Lengkap-Kategori-Judul Cerpen Contoh: CerpenIslamRahmatUntukSemua-Ahmad Riza-Santri/Pelajar-Pelangi Surga Upload cerpen kamu dan kartu identitas (KTP/SIM), khusus untuk Santri/ Pelajar juga mengupload Kartu Santri Pesantren/ Kartu Pelajar/ Kartu Mahasiswa/ Surat Keterangan Santri dari Pesantren. Deadline pengiriman tulisan hingga 21 Juni 2020 pukul 23.59 WIB Naskah akan diseleksi juga dapat dipublikasikan di website ansoruna.com Promosi: Setelah mengunggah cerpen, peserta wajib melakukan promosi melalui media sosial masing-masing dengan menyertakan kutipan atau link tulisan. Media promosi: Twitter, Instagram, Facebook (boleh pilih salah satu) Hashtag: #RahmatUntukSemua #LombaCerpenIslam #CeritainAja Mention/tag: akun media sosial Storial Mention/tag: instagram Ansoruna Tahap II – Upload cerpenmu ke website Storial Upload hasil tulisan kamu ke storial.co Kategori yang digunakan Spiritual Tulis di kolom deskripsi naskah kamu di Storial.co: Nama lengkap/pena, media sosial, serta kalimat berikut “Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti kompetisi #RahmatUntukSemua 2020 – Kategori.” Contoh: “Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti kompetisi #RahmatUntukSemua 2020 – Kategori Santri/ Pelajar.” Kata kunci/label: “RahmatUntukSemua”, “LombaCerpenIslam”, dan judul cerpen kamu (tanpa tanda petik dan tanpa spasi) Naskah para pemenang wajib tetap berada di Storial.co selama satu tahun sejak pengumuman pemenang
Pemenang dan Hadiah: Kategori Umum Juara I: Rp3.000.000 + voucher 1.000 Storial koin Juara II: Rp1.500.000 + voucher 500 Storial koin Juara III: Rp750.000 + voucher 200 Storial koin Juara Harapan 1-3: Rp500.000 + voucher 100 storial koin Kategori Santri/Pelajar Juara I: Rp2.000.000 + voucher 1.000 Storial koin Juara II: Rp1.000.000 + voucher 500 Storial koin Juara III: Rp500.000 + voucher 200 Storial koin Juara Harapan 1-3: Rp250.000 + voucher 100 storial koin Pengumuman pemenang: 1 Juli 2020 Media Partner: Nulisbuku Media Kontan Supporting: Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Read the full article