Lemah yang Bertambah-tambah
Sebelum seorang anak mengenal dunia, ada tubuh yang lebih dulu menanggung beratnya.
Sebelum ia dapat meminta, ada tangan yang sudah bersiap memberi.
Sebelum ia bisa mengucapkan terima kasih, ada malam-malam panjang yang dilalui dengan sabar.
Begitulah sebagian jasa ibu: banyak yang terjadi ketika kita belum mampu mengingatnya.
Allah mengingatkan manusia dengan kalimat yang membuat kepala tertunduk:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali.” (QS. Luqman: 14)
“Lemah yang bertambah-tambah.”
Al-Qur’an tidak menyebutnya ringan.
Tidak menyebutnya sekadar lelah sebentar.
Ia adalah kelemahan yang datang berlapis.
Hari berganti hari.
Bulan menyambung bulan.
Badan berubah, tidur berkurang, rasa sakit mendekat, kekhawatiran datang tanpa selalu bisa diceritakan.
Di dalam keadaan seperti itu, seorang ibu tetap membawa amanah kehidupan.
Ia menahan banyak rasa yang dulu tidak kita pahami.
Ia mungkin takut, tetapi tetap menjaga.
Ia mungkin lelah, tetapi tetap bertahan.
Ia mungkin menangis diam-diam, sementara anak yang dikandungnya belum mengenal satu huruf pun untuk berterima kasih.
Lalu waktu berjalan.
Anak tumbuh, memiliki urusan, memiliki rumah, memiliki kesibukan.
Di titik itulah ujian berbakti sering bermula.
Bukan pada kata-kata besar.
Melainkan pada suara yang dijaga.
Pada kabar yang tidak sengaja diputus.
Pada doa yang tetap disebut meski hari sedang padat.
Pada kesabaran ketika orang tua mengulang nasihat yang sama.
Pada kemampuan menahan diri agar tidak menjawab dengan nada yang menyakiti.
Allah menggandengkan dua syukur dalam ayat ini:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”
Ini bukan kalimat kecil.
Ia menegur cara kita memahami ibadah.
Seseorang bisa tampak rajin mengucap syukur kepada Allah, tetapi masih perlu memeriksa adabnya kepada ayah dan ibunya.
Bisa sangat ramah kepada orang jauh, namun kaku dan keras kepada orang yang dahulu paling banyak berkorban.
Bisa menjaga citra di hadapan manusia, tetapi kehilangan kelembutan di dalam rumah sendiri.
Padahal sering kali orang tua tidak meminta dunia yang luas.
Mereka cukup tersentuh oleh ucapan yang baik.
Oleh kabar yang datang tanpa harus diminta.
Oleh wajah yang cerah ketika bertemu.
Oleh bantuan sederhana yang dilakukan tanpa keluhan.
Oleh doa anak yang tidak melupakan mereka.
Ayat itu ditutup dengan pengingat yang dalam:
“Hanya kepada-Ku tempat kembali.”
Semua hubungan di dunia memiliki batas waktu.
Kebersamaan dengan orang tua pun tidak selamanya terbuka.
Akan datang masa ketika kesempatan mencium tangan tidak lagi ada.
Suara yang biasa menegur tidak lagi terdengar.
Rumah yang dahulu ramai oleh nasihat menjadi tempat yang membuat dada sesak oleh rindu.
Karena akhirnya semua kembali kepada Allah, jangan sia-siakan jalan bakti yang masih Allah bukakan.
Jika masih bisa menghubungi, hubungilah dengan lembut.
Jika masih bisa meminta maaf, rendahkanlah hati.
Jika masih bisa membantu, lakukanlah tanpa merasa paling berjasa.
Jika mereka telah tiada, jangan putuskan doa.
Berbakti bukan usaha membayar lunas semua pengorbanan.
Sebab jasa orang tua tidak pernah benar-benar selesai dihitung.
Berbakti adalah bentuk malu seorang hamba di hadapan Allah: malu jika tubuh yang dahulu dijaga dengan lemah yang bertambah-tambah, tumbuh menjadi anak yang keras dan lupa.
Maka lembutkanlah lisan sebelum penyesalan membuatnya terlambat.
Lapangkanlah hati untuk berbuat baik, selama pintu itu masih dibuka.
Ya Allah, ampuni kedua orang tua kami.
Rahmatilah mereka sebagaimana mereka merawat kami ketika kecil.
Jaga lisan kami agar lembut kepada mereka.
Beri kami hati yang lapang untuk berbakti tanpa menunda.
Dan jangan jadikan kami anak yang baru menyesal setelah kesempatan itu tertutup.
Aamiin.












