Berbakti pada Orang Tua
Sebagai seorang muslim, kita tahu bahwasannya berbakti pada orang tua merupakan hal yang mulia. Namun, apakah semudah itu berbakti, ketika hubungan di dalam keluarga tidak harmonis, juga mempunyai orang tua yang durhaka terhadap anaknya? Tentu tidak mudah.
Namun, jika memang itu tidak mudah, benarkah Islam mengajarkan untuk membalas orang tua, dikarenakan apa yang mereka lakukan di masa lalu terhadap anaknya?
Masa lalu yang pahit karena kesalahan orang tua, barangkali sangat membekas dan memunculkan kembali luka-luka pengasuhan di masa lalu. Kita tidak tahu, apa yang dirasakan mereka yang tidak mendapati keharmonisan keluarga. Ditambah lagi, muncul standar toktok yang menjadi kompor, seakan-akan menghukumi orang tua yang menorehkan luka pengasuhan terhadap anaknya, sehingga mempengaruhi pola pikir anak, untuk tidak berbakti pada mereka.
Bisa jadi luka itu benar-benar menyakitkan, menggerogoti hati dengan bara api. Namun.. sampai kapan memendam luka dan amarah itu? Adakah obatnya?
Cobalah untuk membersihkan hati yang sakit dengan belajar agama; memperbanyak membaca Asy- Syifaa' (nama lain Al -Quran yang artinya ialah obat); memahami bagaimana adab dan akhlak yang baik; menjadi seorang yang pemaaf; menjadi manusia yang hatinya lapang. Teruslah berusaha mendengarkan kajian-kajian, bagaimana seharusnya kita sebagai seorang muslim; berbakti pada orang tua. Terus memperbaiki niat, tauhid kita; meyakini bahwasannya segala sesuatu yang terjadi ialah atas kehendak Allah.
Dosa mereka biarlah menjadi urusannya dengan Allah. Jangan sampai kita ikut berdosa hanya karena hawa nafsu. Islam selalu mengajarkan kita untuk tetap berbakti pada orang tua, bagaimanapun keadaannya.
Tidak mudah.. tentu tidaklah mudah. Disaat teman-teman banyak dibantu orang tuanya, banyak orang sudah meraih impian-impiannya, kita masih berusaha menopang kondisi orang tua, diri sendiri, juga keluarga. Lelah itu manusiawi, insyaAllah semua perlahan diterima, ketika kita memiliki hati yang lapang. Kondisi yang demikian bukanlah sesuatu yang hina, melainkan salah satu dari sekian banyak jalan pahala; tabungan sesungguhnya, sebagai wasilah kita meminta sesuatu pada-Nya.
Bersabarlah.. jangan perhitungan dengan mengandalkan matematika manusia. Allah ganti, percayalah Allah Yang Maha Kaya akan mengganti dengan yang lebih baik nanti.
Sekarang kamu percaya, kan? Ketika kamu berusaha untuk membahagiakan orang tuamu, meskipun serpihan luka itu masih ada, Allah lancarkan urusan-urusanmu; Allah cukupkan rezekimu, Allah tenangkan hatimu. Bersabarlah.. selama kamu percaya pada Allah, dunia akan baik-baik saja~
Jakarta, 12 April 2025 | Pena Imaji














