Dulu seorang pernah menanyaiku tentang mahabbah, sempat aku cari dan maknannya sampai saat ini belum benar-benar kupahami apa maksud pertanyaan itu.
Belum pula bisa aku memaknainya dengan begitu dalam, yang kutau mahabbah artinya pembagian cinta, dan dibagi kedalam dua hal, yang pertama cinta ibadah, kedua adalah cinta umum (aku lupa nama lainnya).
Cinta yang pertama disebutkan adalah mutlak hanya untuk Allah SWT dan yang kedua itulah yang terbagi-bagi untuk manusia dan hal lainnya.
Ya manusia, termasuk itu Rasul, nabi, ulama, suhada, orang tua kita, guru kita, orang yang kita kasihi walaupun tak pernah kita kenali, sebut saja misal penjual yang sudah rentan, anak kecil yang dijalanan, atau siapapun yang kita lihat lalu timbul kasih sayang kita.
Cinta umum yang disebutkan sebenarnya terbagi lagi kedalam beberapa jenis cinta, ada jenis cinta yang membuat kita sanggup meneteskan air mata pada kejadian yang menyentuh nurani, dan kecintaan yang datang dari cinta kita kepada Allah lalu turun ke makhluknya disebut cinta lillahi wa fillah.
Lalu apa itu cinta untuk hal lainnya? Adalah kecintaan yang merupakan tabiat manusia, cinta terhadap makanan, pakaian, tempat tinggal, hal-hal yang tidak hidup.
Pada cinta hal lainnya itu, rasanya enggan menyebutnya kecintaan, terasa lebih pantas disebut kesukaan bukan rasa cinta, sementara cinta yang kupahami adalah apa yang menimbulkan kasih sayang dan belas kasih (rahmah), apa yang dirasakan sejalan dengan apa yang dilaksanakan, sebagaimana kita menyebut diri ini mencintai Allah lantas menaati aturannya, mendekatkan diri pada apa-apa yang diridhainya.
Bagaimana menurutmu, mencintai apa yang tak pernah kita lihat? Tapi kasihsayangnya jelas terasa, tidak pernah aku kecewa atas yang dijadikann-Nya, kecuali pada beberapa hal yang kemudian setelah aku pikirkan ternyata oh ada maksudnya, biar aku belajar.
Cinta yang sama jenisnya aku rasakan dari kedua orangtuaku, sesekali mereka pernah marah, lalu tak berapa lama baik kembali, bukankah kasih sayangnya begitu jelas terasa walau tak selalu mampu mereka menjelaskan dengan sebuah kata, dari apa yang mereka korbankan, perjuangkan dan dalam doa yang diucapkannya terlebih dahulu untuk kita, kurasa kuncinya adalah karena mereka (orang tua kita) selalu menyebut nama kita dalam setiap doa nya pada Zat yang memiliki kita. Bukankah Allah yang membolak balikan hati kita?
Jadi dalam mahabbah (pembagian cinta), dimana posisi manusia lainnya berada, menurut pahamku adalah, seberapa keras usaha kita sesama manusia mencintai Dia yang memiliki seutuhnya hati ini, dan dihadapkannya kita pada dia yang memiliki kadar cinta yang sama pada Nya.
Kasih dan sayang barangkali adalah hal yang harusnya bisa dirasakan secara ekuivalen, dan takaran itu bukan perhitungan manusia, tidak cukup dijelaskan dengan angka, apalagi prasangka saja.
Bukankah ketika hendak meminjam suatu hal kita tidak berbicara pada hal itu, tapi pada pemiliknya. Apa yang dipilihkan Nya, tidak akan pernah salah, rona cinta akan memiliki spektrum yang sama pada setiap pemiliknya. Banyak-banyak berkisah tentang kasih sayang pada-Nya, supaya dimunculkannya cinta itu pada jelmaan dia yang sama.
|| aku, disela menggarap skripsi, dan lelahnya perjalanan pulang ke rumah mengadapi banjir. (sungguh ini adalah distraksi dalam menulis skripsi)