Embung èlèh—atau nggak mau kalah—kayaknya memang built-in. Fitur bawaan pabrik. Sudah terpasang sejak lahir.
Saya pernah mendengar dua lelucon tentang ini. Entah kejadian nyata atau bukan.
Sekelompok ibu-ibu sedang menjemput anak di sekolah dasar. Rumpian mereka hari itu temanya kebanggaan.
“Nggak nyangka ya, anak saya udah hafal sepuluh surat pendek, Teh.”
“Ah, anak situ baru sepuluh? Anak saya mah juz amma udah di luar kepala.”
Ibu-ibu ketiga tak mau ketinggalan, "Kalau anak saya sholatnya rajin banget. Lima waktu nggak pernah bolong. Kemarin saya sampai malu, dibangunin Subuh sama dia. Sholat sunnahnya juga cakep. Tahajudnya siang malam.”
Tapi ternyata embung èlèh bukan cuma soal prestasi. Coba sekali-sekali jam sembilan pagi main ke taman komplek. Biasanya di situ ada rombongan nenek-nenek yang sedang menjaga cucu. Bapak ibunya 'kan kerja.. [zaman sekarang banget nggak, tuh.]
Tema obrolan mereka biasanya nggak jauh dari kondisi tubuh.
"Tensi saya sudah tinggi banget, Jeng”
“Ah itu mah belum apa-apa, saya encoknya tiap malam kambuh.”
"Tempo hari mantu saya ngajak ke Dharmais, ehh kata dokter, jantung saya udah bermasalah.”
Dan entah bagaimana, penyakit pun berubah jadi semacam turnamen. Siapa paling parah, dia juaranya.
Dua adegan itu buat saya seperti potret kecil dari kebutuhan akan sesuatu yang sangat purba, yaitu pengakuan. Orang sekarang menyebutnya validasi.
Dan untuk mendapatkannya, kadang mereka rela membuat narasi tahajud jadi siang malam, atau membuat pilek seolah-olah kanker stadium akhir.
Karena bagi mereka menjadi biasa—lebih menakutkan daripada kalah.
Tapi kok yang jadi contoh perempuan mulu, Mang?
Laki-laki juga banyak sih, Neng. 😁