pergantian tahun dan signifikansi satuan waktu: an incoherent ramblings in one late afternoon at new year day
Realitas terbagi dalam dua dimensi pengukuran yakni ruang dan waktu. Dimensi ruang bisa dipersepsikan oleh indra sehingga pemaknaannya tidak serumit memaknai waktu yang abstrak. Waktu hadir dalam berbagai satuan pengukuran.
Milenium penting hanya untuk para sejarawan dan ilmuwan yang subjek keilmuannya berkutat pada hal-hal yang bertumpu pada periode waktu yang telah lalu. Abad pun begitu mengingat angka harapan hidup rata-rata manusia di dunia ini tidak lebih dari 90 tahun. Dekade lebih terukur namun jarang dimaknai secara khusus. Bulan, minggu, dan hari berganti pada frekuensi yang terlalu sering, lebih-lebih jam dan menit, apalagi detik, pergantiannya sebegitu tidak signifikan sampai seringkali orang-orang lupa bahwa satu hari adalah akumulasi 86.400 detik yang berlalu. Maka tahun adalah titik tengah, periode yang paling pas untuk dirayakan, cukup panjang sehingga pergantiannya terasa signifikan, namun juga cukup pendek sehingga relatif sering berganti.
Secara historis, penetapan 1 Januari sebagai permulaan tahun dilakukan oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM sebagai bagian dari pengenalan kalender Julian yang berdasar pada pergerakan matahari menggantikan kalender Romawi yang diperkenalkan Kaisar Romulus pada masa romawi kuno di abad ke 8 SM. Penanggalan 1 Januari menyimbolkan permulaan, sebagaimana asal namanya, Dewa Janus, yang memiliki dua wajah sehingga memungkinkannya untuk menengok ke depan dan ke belakang, penegasan simbolis pada waktu yang berlalu dan yang akan datang. Setelah pada abad pertengahan melewati berbagai intrik yang menyebabkan pergantian permulaan tahun dari 1 Januari ke tanggal-tanggal yang berkaitan dengan peringatan hari-hari penting dalam agama Kristiani, Paus Gregorius XIII menetapkan kembali tanggal 1 Januari sebagai hari dimulainya tahun baru pada tahun 1582, di mana penetapan tersebut berlaku hingga hari ini.
Perayaan pergantian tahun dapat ditelusuri eksistensinya dari masa jauh sebelum pengenalan kalender yakni masa Babilonia kuno, yang saya sejujurnya tidak mengerti mengapa perayaan-perayaan tersebut ada hingga saat ini, meskipun tidak memungkiri saya cukup menikmati, bukan perayaan tahun barunya, tapi lebih pada liburnya dan berbagai diskonnya (hihi).
Mengapa tahun baru cukup penting sehingga harus dirayakan, atau paling tidak diperingati. Ocehan tidak penting di sore hari nan sejuk dengan angin semilirnya ini pada dasarnya berawal dari pertanyaan itu.
Kembali pada mosi awal mengenai persepsi terhadap realitas dalam kaitannya dengan dimensi waktu yang abstrak, manusia sebagai konsekuensi dari keabstrakan tersebut menjadi membutuhkan hulu dan hilir, titik awal dan titik akhir yang cukup konkret agar parameter-parameter "keberhasilan" menjalani waktu bisa diaplikasikan. Manusia membutuhkan batasan waktu yang jelas agar ia dapat melihat sejauh mana ia telah mengusahakan hidupnya dalam periode waktu itu. Tahun menjadi satuan pengukuran paling pas sebagaimana penjelasan di awal.
Baik dalam sudut pandang filosofis maupun fisika teoritis, ucapan Happy New Year sebenarnya tidak populer, beberapa memandangnya tidak berdasar. Mungkin bagi mereka, mengapa merayakan sesuatu yang dasar pembuktian eksistensinya saja masih menjadi topik diskursus. Tapi biarkanlah saja para filsuf dan para fisikawan, saya menikmati memandang hidup dalam kacamata yang terkontaminasi pengaruh literatur romantisme. Jika membuat hati senang dan manusia dapat saling berbagi kehangatan dan doa yang baik, maka kenapa tidak mengakui sesuatu yang dirayakan massa. Meskipun ya, jika mau dijadikan subjek kontemplasi, maka apalah arti 1 Januari, hanya pergantian detik ke detik sebagaimana mestinya, yang kebetulan pada satu titik pergantian detik tersebut jatuh pada titik awal orbit revolusi bumi terhadap matahari selaras dengan kalender Gregorian, yang karena besarnya pengaruh gereja terhadap perkembangan peradaban pada abad pertengahan maka seluruh dunia ikut mengadopsi hingga hari ini.
Pergantian tahun sesungguhnya tidak lebih dari sekadar momentum. Ketika berbicara momentum, maka kita berbicara pergerakan dan akibat dari gerak. Signifikansi sebuah momentum terletak tidak pada momentum itu sendiri, melainkan pada pemaknaan terhadap momentum tersebut.
Momentum tahun baru adalah tentang evaluasi ketercapaian resolusi dan perumusan resolusi-resolusi baru. Tahun baru adalah tentang refleksi diri, apa yang dialami, apa yang dirasakan, dalam kurun waktu satu tahun yang telah diizinkan Allah untuk kita jalani.
Tahun sebagai satuan waktu memudahkan manusia untuk melihat hidupnya dari sudut pandang orang ketiga, menyusun timeline waktu yang sudah dilalui dan ditargetkan untuk dilalui dalam garis linear yang titik akhirnya adalah misteri paling besar dalam eksistensi seorang manusia.
Momentum tahun baru adalah tentang melatih diri untuk melakukan evaluasi yang objektif terhadap diri sendiri dan apresiasi yang berdasar pada kasih sayang untuk diri sendiri. Banyak orang merasa evaluasi dan apresiasi adalah dua konsep yang eksklusif terhadap satu sama lain, ibarat himpunan, maka tidak ada irisan. Evaluasi berarti keras dan objektif, apresiasi berarti lembek dan berbasis emosi yang sudah pasti akan subjektif.
Bagi saya, hidup itu adalah tentang menyelaraskan evaluasi diri dan apresiasi diri. Ketika hidup rasanya berjalan begitu-begitu saja tanpa ada loncatan yang sifatnya signifikan (read: settling down, getting married, having children), maka sangat mudah bagi 'evaluasi' untuk memukul KO 'apresiasi, uppercut punch tepat di diafragma-lah kira-kira (hiks). Namun hidup ini jika dihidupi dengan sungguh-sungguh, dengan atau tanpa loncatan nan jauh dan tinggi, maka hidup sudah sangat pantas mendapatkan apresiasi. Soal sungguh-sungguh atau tidak, kita sendiri yang tahu persis. Membiasakan rasa malu jika tidak hidup dengan sungguh-sungguh ketika merenungkan waktu yang sudah berlalu harus dijadikan norma dan standar, agar seorang manusia memiliki sudut pandang adil dalam melakukan refleksi diri.
Menjalani waktu itu adalah tentang mendefinisikan syukur. Kita sering dengar orang bilang, bahagia itu sederhana, lantas bagaimanakah bahagia yang sederhana itu. Bahagia itu sederhana karena sesungguhnya kita sudah dianugerahi rezeki yang berlimpah bersama dengan setiap hembus napas kita. Kita yang perlu mengenali tiap-tiap anugerah yang tidak terhitung jumlahnya itu. Maka bahagia itu memang sederhana, karena ada bersama basis keberadaan dan kemanusiaan kita, sesederhana kita ada, menghirup oksigen bersama miliaran manusia lain di muka bumi ini.
Waktu adalah akumulasi kesempatan yang bergerak linear hanya ke depan dan tidak dapat berulang untuk kita terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik seiring pergantian detiknya, menjadi manusia yang lebih berilmu, lebih berempati, lebih bersyukur, lebih manusia, lebih menghamba pada Tuhannya. Waktu hanyalah kendaraan bagi nyawa untuk memiliki bentuk sehingga manusia yang dianugerahi nyawa bisa memahami untuk apa dia dipinjami waktu. Untuk apa dia ada di sini. Apa makna eksistensinya.
Berhubung waktu maghrib sudah mendekat, saya sudahi sampai di sini ocehan tidak jelas ini.
Edit: Sebenarnya tulisan ini ingin saya edit dulu sebelum dipost di sini, tapi setelah saya pikir-pikir, mempost apa adanya pun tidak masalah, lebih otentik sebagaimana jujurnya gejolak perasaan saya sore tadi.
I guess, Happy New Year everyone, or not 😕