Suatu hari, seorang perempuan mengunggah cerita, betapa mesra suaminya. Ia membelikan bunga dan memberi kejutan. Tidak lupa secarik kertas bertuliskan serangkaian kalimat yang indah kata-katanya. Wah, menyenangkan sekali! Persis seperti adegan drama. Hati sang istri pasti meleleh.
Namun tanpa disadari, ada perempuan lain yang membaca cerita tersebut dengan dengusan berat. Suaminya tidak pernah melakukan hal romantis seperti itu. Bahkan saat hari ulang tahunnya, sang suami hanya berkata, "Eh, kamu mau hadiah apa? Pilih sendiri ya, nanti kukasih uangnya."
Tidak ada kejutan sama sekali. Selain itu, sang suami sangat jarang mengatakan "I love you". Apalah lagi diharapkan menulis surat berkalimat syahdu. Hmmm, perempuan ini meringis dan kembali mendengus.
Moms and dads, pernahkah merasakan hal seperti itu? Merasa bahwa pasangan kita tidak seperti ekspektasi dan keinginan kita. Sedangkan saat melihat pasangan orang lain, rasanya begitu sempurna!
Suaminya begitu romantis, sedangkan suamiku tidak.
Istrinya begitu pintar memasak, sedangkan istriku tidak.
Suaminya rajin sekali membantu membersihkan rumah, sedangkan suamiku tidak.
Istrinya pandai sekali merawat rumah, sedangkan istriku tidak.
Awalnya hal-hal kecil, tapi lama-kelamaan kenapa jadi terlihat banyak sekali kekurangan pasangan sendiri?
Moms and dads, jika pikiran seperti itu mulai menghantui, barangkali kita perlu duduk sejenak lalu bertanya pada diri sendiri. Benarkah yang diri ini lihat, bahwa pasangan kita sama sekali tidak memiliki kelebihan? Benarkah pasangan kita jauh lebih buruk daripada pasangan orang lain?
Jangan-jangan, kita saja yang menutup mata. Terlalu sibuk melihat rumput tetangga yang dirasa lebih hijau.
Saat kita merasa suami tidak romantis, misalnya. Benarkah perhatian dari suami harus dalam bentuk kata-kata dan bunga? Jangan-jangan suami kita mengungkapkan cintanya dengan berbeda. Dengan diam tapi tiba-tiba mencucikan pakaian. Dengan diam tapi ternyata berani membatalkan semua acara di Hari Ahad hanya agar bersama dengan istri dan anaknya.
Saat kita merasa istri tidak bisa memasak dengan baik, misalnya. Benarkah dia tidak bisa melakukan hal lainnya? Barangkali dia tidak pandai memasak, tapi dia begitu terampil memijit punggung lelah kita. Barangkali dia tidak pandai memasak, tapi dia sabar sekali mendidik anak-anak kita.
Jadi, kenapa dia begitu? Tidak seperti yang lain?
Jawabannya, tentu karena manusia terlahir dengan karakter berbeda-beda. Maka kita tidak bisa menyamaratakan bahwa istri yang baik harus begini dan suami yang baik harus begitu. Carilah kelebihan pasangan kita dan fokuslah pada hal tersebut. Setiap kali kita melihat kekurangan pasangan dan membuat kita kesal, ingatlah bahwa kita pun punya kekurangan. Barangkali kita pun sering membuat kesal pasangan. Hanya pasangan kita ternyata lebih mudah memberikan maaf dan memaklumi kita.
Salah satu yang bisa dilakukan untuk menciptakan komunikasi yang lebih menenangkan terkait hal ini adalah dialog dengan hati. Obrolkan bersama pasangan terkait hal apa yang masing-masing harapkan dari pasangan serta jenis perhatian yang bagaimana yang diinginkan. Hal ini diperlukan agar kita bisa menemukan kesepakatan cara membahagiakan pasangan meski tidak sama seperti pasangan orang lain atau adegan dalam sebuah drama. (dp)
SUPERMOM's NOTE
Edisi #marriedbydesign 27 November 2019
Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/
Twitter : https://twitter.com/supermom_w
Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/
Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/