Tema acara minggu ini: Mengeluh (1)
Hari ini sama seperti kemarin, well engga secara persis sama seperti aku mengulang waktu atau sejenisnya. Namun perasaanku masih sama. Sesak, frustasi, ingin menangis tapi itu engga menyelesaikan apa-apa, aku juga semakin lama semakin malas untuk menangis karena sudah terlalu sering. Bising di kepalaku juga masih sama, masih bising memikirkan segala tugas yang harus aku emban 2 minggu kemudian. Bersama orang-orang baru yang sifatnya hanya sekilas aku tau, kalau diibaratkan seperti membaca sebuah berita di koran aku baru baca sampai paragraf pertamanya saja. Baru intro, perkenalan.
Tapi, manusia berbeda dengan koran yang bisa kamu tebak isinya hanya dari headline berita kalau kamu sudah sering baca dan langganan koran di minggu pagi. Kalau manusia berapa kalipun kamu bertemu orang baru, kamu engga bisa langsung menebak isinya kalau cuma liat dari tampilan luarnya. Kalau istilah kerennya “Don’t judge the book by it’s cover” yang artinya jangan menilai orang hanya dari tampilannya. Selain gak sopan, kamu bakal dianggap sok tau dan bakaln diejek atau dijauhin sama orang-orang yang denger kamu ngejudge orang lain seenaknya.
Anyway, back to the topic. Adaptasi memang hal tersulit dalam hidup. Tapi mau bagaimana lagi kalaupun nanti aku dimarahi habis-habisan dan ada kemungkinan bakal remedial salah satu mata pelajaran. Tapikan itu semua adalah salah satu proses, dan pengalaman dari adaptasi. (Ya walaupun aku berharap; sangat berharap, untuk bisa lancar dan engga remedial dalam mata pelajaran ini). Karena serius deh, aku benci mata pelajaran ini dan aku paling benci remedial. Terkadang tugas remedial jauh lebih sulit dari pada tugas awalnya, padahalkan tujuan remedial untuk memperbaiki nilai tapi kalau tugas remedialnya lebih sulit, ya nilaiku sama aja dong☹
Sebentar, aku ingin curhat juga tentang aku yang masih belum dapat teman lain selain teman baru yang aku ceritakan bulan lalu. Serius deh aku engga ngerti sama diriku sendiri. Aku pengen banget punya banyak temen, tapi di satu sisi aku males banget kalau aku harus memakai topeng yang bukan diriku hanya untuk mendekatkan diri ke mereka. Karena kalau aku tunjukin aku yang sebenar-benarnya aku yakin aku engga bakal dapat temen seenggaknya sampai semester 1 berakhir. Mereka semua mengabaikan aku seolah aku tuh barang yang di pajang di etalase paling bawah. Engga menarik dan engga dibuat untuk menarik pelanggan membeli aku karena... ya aku engga semenarik barang-barang lain yang di pajang di etalase paling atas.
Aku dengan gamblang berani bilang kalau diriku yang sebenarnya itu engga menarik, kenapa? Karena sudah kebukti. Aku selalu menjadi si dia yang membujuk bukan dibujuk, yang meminta bukan memberi, yang menawarkan bukan ditawarkan. Sebetulnya aku lelah seperti ini, namun akhir-akhir ini aku mempunyai kesenangan baru. Membaca novel, membuat aku seenggaknya punya alasan kalau ditanyain kenapa aku masih bertahan hidup sampai sekarang. Well, sebenernya mamah juga jadi faktor utama kenapa aku sampe sekarang engga berani buat eksekusi diri sendiri walaupun tiap malam memikirkan caranya. Karena mamah adalah orang baik, dan dia engga pantas untuk mendapatkan seorang anak yang meninggal karena bunuh diri.
Aduh kok bahasan aku semakin lama semakin berat ya. Padahal aku adalah orang yang anti untuk membicarakan topik berat karena tiap ditodong pertanyaan, mostly aku engga bisa menjawabnya. Jurus aku kalau ditodong pertanyaan tentang topik-topik berat cuma “engga tau, engga pernah mikirin”. Padahal sebetulnya pernah, tetapi berbagi pikiran kepada orang lain tentang skenario yang aku buat di dalam kepala rasanya bukan ide yang bagus. Aku pernah baca beberapa reply-an di sebuah cuitan, kalau oversharing itu engga bagus karena kamu engga bakal tau apa yang mereka lakukan sehabis kamu berbagi hal itu kepada orang lain.
Udah ya sekian dulu untuk sambatan aku hari ini. Lagi-lagi permasalahan yang sama, dan lagi-lagi aku belum bisa mengatasinya.
-aydailyfeelings













