My Love Stage
Stage Two: I’m Crushed
Ketika gue tahu bahwa gue akhirnya menyukai seseorang dalam kehidupan nyata, gue juga tahu bahwa akan ada akibatnya. Because life is all about cause and effect. Akibatnya adalah patah hati. Yes. That’s right, I’m brokenhearted since I knew my first crush is dating someone.
Harusnya gue sudah tahu bahwa orang semenarik dia gak mungkin single. It’s almost impossible for him to be single unless he’s Hamba Allah yang taat or gay. Lebih sialnya lagi, dia bucin banget sama pacarnya, gue GUMOH (jealous) liatnya. Pertama kali gue liat dia boncengin pacarnya pulang sekolah pakai motor, gue pikir cewek yang dia bonceng cuma temennya aja. Abisan dia friendly banget, bisa aja ‘kan dia bocengin temennya dia pulang. Tapi, tahu-tahunya yang dia bonceng itu pacarnya. Tahu dari mana? Awalnya gue firasat aja, abisnya mereka kalau pulang berdua terus. Eh, pas ujian akhir semester ketahuan juga tuh akhirnya kalau mereka pacaran. Yaiyalah gila, itu cowok nganterin pacarnya ke ruang ujian yang sialnya satu ruangan dan satu tempat duduk sama gue. Kurang komedi apa lagi coba hidup gue? Itu cowok dengan perhatiannya sampai nyariin kursi tempat duduk ceweknya dari nomor peserta ujian. PADAHAL itu cowok juga bukan satu kelas sama cewek dia.
Lo mau tahu gak? Gue pas itu cowok deketin meja gue yang sebelahan sama meja ceweknya, gue nahan napas, deg-degan. Ya, walaupun tahu dia udah punya pacar tetep aja sih deg-degan mah ada. Mau gimana lagi? He’s my first crush, coy. My first crush being lovey-dovey infront of my fucking salad, SERIOUSLY?? And didn’t I told you that he’s bucin? He’s indeed whipped for her. He even posted a photo of them in Bali on his IG with caption ‘Mi Amor’. Congrats sist, I’m jelaous of you.
Hey Bixby, play Jealousy, Jealousy by Olivia Rodrigo
I kinda wanna throw my phone across the room
‘Cause all I see are girls too good to be true
With paper-white teeth and perfect bodies
Wish I didn’t care
Oh, how to be her, setiap hari dianter jemput pacar, sampai sekolah masih dianter sampai kelas (padahal jarak kelas mereka jauh), setiap istirahat diapelin, diapresiasi dan dipamerin di IG. Oh, to be young and being in love, I wish I were her.
All you friends are so cool, you go out every night
In your daddy’s nice car, yeah, you’re living the life
Got a pretty face, a pretty boyfriend too
I wanna be you so bad I don’t even know you
All I see is what I should be,
Happier, prettier, jealousy, jealousy
All I see is what I should be
I’m losing it, all I get is, jealously, jealously
Dengan begitulah kisah frst crush gue berakhir karena gue terlanjur cemburu dengan apa yang mereka punya sampai-sampai menutupi rasa suka gue terhadap cowok itu. memang pada dasarnya gue ga suka liat orang lain senang aja kali, ya. Pokoknya sekarang, waktu gue nulis chapter ini gue sudah benar-benar move on dari dia. Gue udah gak peduli lagi dia ngapain dan di mana, gue juga udah ga buka-buka lagi Instagram dia karena gue tahu yang akan pertama kali gue lihat adalah kebucinan dia.
Even though gue jealous sama apa yang mereka punya (re: love). Tapi gue ga nyesel ngecrushin cowok itu. Karena dia memang semenarik itu kalau tahunya dia gak punya pacar. Siapapun akan langsung uncrush ketika mereka tahu dia udah punya pacar, soalnya dia BUCIN. At least, tebakan gue di chapter sebelumnya salah walapun ada benarnya juga. Di chapter sebelumnya gue pernah nulis gini:
I’m very exciting to know how this will be end? But I put my batting on, ‘I will uncrush you bcs of my inferiority complex, or simply bcs I don’t have any courage to crushing on you.’ Because at the very end, I always lose and this time I will too.
Pada kenyataanya gue uncrush dia bukan karena inferiority complex yang gue punya. Tetapi, memang karena dia sudah punya pacar dan gue gak mungkin ngerebut cowok yang udah punya pacar alasannya, 1) gue akan dilabrak oleh ceweknya dan seluruh teman mereka yang sebenarnya adalah senior (gue junior). 2) Gue ga punya nyali bahkan untuk bayangin gue akan dilabrak, dibicarakan, dan dikucilkan oleh semua orang hanya gara-gara gue mau confess aja rasanya gue mau menenggelamkan diri di palung mariana. 3) Gue benci yang namanya perebut milik orang lain dan kalau gue jadi ceweknya gue juga ga akan mau milik gue direbut orang.
Tapi, gue benar soal pada akhirnya gue akan kalah. Gue kalah sebab gue berhasil jatuh cinta dan akhirnya ditampar oleh kenyataan bahwa dia udah ada yang punya. At the end gue yang paling tahu gimana akhir dari kisah ini, karena hanya gue yang pegang kuasa. Gue pegang kuasa atas diri gue sendiri yang memilih untuk jatuh cinta dan juga berhenti untuk menyukai dia. Karena di kisah ini cinta gue bertepuk sebelah tangan, dan sampai akhir pun begitu.
Written by,
Ay















