"Jangan sampai, lukamu terus menciptakan luka."
Membaca kutipan Mas Gun ini, aku teringat bagaimana sebuah infeksi bekerja. Dalam dunia medis, kita mengenal istilah transmisi; sesuatu yang merusak akan terus mencari inang baru agar tetap hidup. Jika rantainya tidak diputus, ia akan menjadi siklus penularan yang tidak berujung.
Ternyata, rasa sakit punya pola yang mirip. Kalau luka batin tidak benar-benar kita sembuhkan, ia tidak akan hilang begitu saja. Tanpa disadari, ia menyelinap ke dalam cara kita bicara atau bagaimana kita bereaksi. Kita jadi sering menularkan rasa perih yang sama kepada orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Ada kalanya muncul perasaan bahwa kita "berhak" untuk bersikap dingin atau sinis karena pernah dikecewakan. Rasanya seperti sebuah pembelaan diri untuk bersikap keras karena dunia pernah sekasar itu pada kita. Namun, setelah dijalani, pola ini sebenarnya sangat melelahkan. Jika setiap orang membalas luka dengan luka, kita hanya akan terjebak dalam pusaran yang saling menyakiti tanpa henti.
Memutus siklus ini memang berat. Itu artinya kita harus berani berhenti sejenak dan mencoba berdamai dengan rasa pahit itu sendiri, alih-alih melampiaskannya. Kita perlu menjaga agar amarah dari masa lalu tidak menjadi racun bagi mereka yang datang dengan niat tulus hari ini.
Pada akhirnya, kedewasaan mungkin adalah tentang keberanian untuk bilang: "Cukup berhenti di aku." Jangan sampai apa yang rusak di masa lalu malah menghancurkan apa yang sedang dibangun sekarang. Setidaknya, itu yang sedang aku usahakan hari ini.
















