Buku - Buku Lawas
“Menggali buku-buku lama dan mancari khazanah di dalamnya memang menjadi keasyikan tersendiri bagi saya. Isinya yang masih relevan ditambah dengan sosok-sosok besar di baliknya membuat saya tidak bisa menahan rasa penasaran.“
Sabtu (19/10) siang selepas menerima kunjungan dari Rohis salah satu SMA di Jawa Timur, saya memutuskan pergi untuk menyegarkan pikiran yang suntuk. Berbekal motor pinjaman, meluncurlah saya ke tengah jalanan kota Yogyakarta. Setelah melalui jalan berliku-liku, sampailah saya di tempat yang menjadi tujuan semenjak 2 minggu sebelumnya.
Dilihat dari luar, bangunan itu hanya terlihat seperti rumah biasa, tidak ada yang spesial kecuali adanya plang di depannya yang bertuliskan “Toko Buku Massa Aksi Yogyakarta.” Namun begitu masuk ke dalamnya, pemandangan yang menakjubkan muncul. Hamparan buku hadir menyejukkan mata saya. Ada yang tersusun rapi di rak, ada pula yang masih berada dalam kardus atau sekedar tertumpuk di lantai. Aroma khas dari buku-buku lawas tercium, mengingatkan saya dengan rak buku di rumah kakek.
Tempat ini memang surganya pencari buku lawasan. Buku-buku yang dihadirkan mayoritas original, dengan tahun terbit yang bervariasi mulai dari 1900-an awal hingga 2000 an. Kualitasnya pun rata-rata masih terjaga. Hal ini tentu membuat pencari lawasan seperti saya betah untuk berlama-lama di situ,
Pada awanya, saya berniat untuk menggaet buku “Pesan dari Timur,” sajak-sajak karangan Iqbal yang menjadi magnum opus-nya itu. Namun setelah sampai di sana, ternyata butuh waktu lama untuk menimbang-nimbang buku mana yang akan saya ambil. Akhirnya, setelah kurang lebih 1 jam berkutat menelisik satu per satu rak di sana (ditambah perjalanan ke ATM untuk menarik uang), saya memantapkan pilihan. Tidak jadi menggaet Iqbal, dua buku terbitan “Pustaka” keluaran 80-an pun mendarat di tangan, Harga yang didapat tergolong wajar, tidak terlalu mahal pun tidak terlampau murah. Masing-masing dapat saya beli dengan banderol 45 ribu rupiah dan 30 ribu rupiah. itupun masih ditambah dengan potongan 5 ribu. Keadaan ini yang kemudian membuat saya betah dan tertagih untuk mendatanginya lagi.
Menggali buku-buku lama dan mancari khazanah di dalamnya memang menjadi keasyikan tersendiri bagi saya. Isi yang masih relevan ditambah dengan sosok-sosok besar di baliknya membuat saya tidak bisa menahan rasa penasaran. Ditambah minimnya penerbitan ulang buku-buku tersebut, menjadikan berburu buku lawasan terasa menarik. Tentunya, terlepas dari hobi saya yang satu ini, saya mengharapkan bahwa buku-buku lawas senantiasa diproduksi ulang, agar pemikiran yang telah susah payah disusun oleh para penulis tidak mati begitu saja. Tapi entah, saya masih meragukannya, utamanya melihat fakta bahwa para penerbit masih berpatokan pada keuntungan, ditambah para konsumennya yang lebih menyukai novel dengan genre yang ringan. Namun bukan berarti tidak mungkin, setidaknya beberapa penerbit sudah berusaha menerbitkan ulang tulisan-tulisan lama itu. Hanya kembali lagi kepada para pembaca, akankah kita mau untuk membeli dan mendaras buku-buku tersebut? Jika tidak, tentu penerbit-penerbit yang seperti ini akan urung untuk menerbitkan kembali karya-karya lawas tersebut, dan memilih tema yang lebih populer ke depannya.
Yogyakarta, 22 Oktober 2019, 11:34 p.m. Dan Yusuf, menghayati buah tangan penulis tua
















