Matinya Kepakaran : Ketika Ilmu Tidak Diletakkan Sebagaimana Mestinya
“Membaca “Matinya Kepakaran” membuat saya teringat dengan adab kita terhadap ilmu. DI islam, kita diajarkan untuk menghargai ilmu. Di islam pula, kita diajarkan bahwa orang-orang berilmu adalah orang yang spesial. Bukan karena dirinya sendiri namun karena ilmu yang dimilikinya.”
Gerakan anti-vaksin, bumi datar, dan sederet fenomena “lucu” lainnya seakan sudah menjadi hiasan wajar di beranda media sosial kita. Para ilmuwan dan pakar pun sebenarnya telah berbusa-busa menjelaskan argumennya, namun semua tertolak begitu saja, bahkan semenjak premis pertama dimunculkan. Di titik inilah kita baru sadar, bahwa kepakaran telah mati.
Sesuai judulnya, buku karya Tom Nichols ini adalah salah satu buku yang mencoba menguak fenomena yang terjadi di masyarakat dunia khususnya di Amerika Serikat, yakni “Matinya Kepakaran”. Tom Nichols memulai pemaparan dalam bukunya dengan mencoba membedakan pakar dengan bukan pakar. Apakah orang yang mempunyai banyak informasi bisa disebut pakar? Atau orang yang banyak membaca buku mampu dipanggil pakar? Menurut dia, tidak. Pakar adalah orang yang memiliki penegetahuan “komprehensif” dan “otoritatif” sehingga bisa dikatakan dalam bidangnya, pakar merupakan sumber informasi yang paling terpercaya. Namun sayangnya, mastarakat saat ini mulai tidak mempercayai otoritas itu dan menganggap bahwa pakar terlalu memonopoli ilmunya. Berkali-kali dialog antara pakar dan masyarakat luas terjadi, namun seakan tidak ada titik temunya, pada akhirnya masing-masing hanya menghabiskan energinya. Setidaknya, ada beberapa penyebab perilaku masyarakat menjadi seperti ini. Di antaranya adalah keluasan informasi yang dapat diakses, “Efek Dunning-Krueger” yang menyatakan bahwa “semakin bodoh kita, semakin kita tidak mau mengakuinya”, bias konfirmasi (hanya menyetujui apa yang ingin disetujui), dan munculnya teori konspirasi yang mampu memuaskan hasrat heroik masyarakat.
Selanjutnya, Tom Nichols mencoba memaparkan penyebab-penyebab semakin kuatnya kematian kepakaran. Pertama, ia memulai dari tempat yang justru idealnya menjadi produsen pakar, yakni dunia kampus. Dengan era dimana gelar sarjana menjadi suatu kewajiban, kampus menjadi arena yang berubah dari yang sebelumnya penuh dengan kegiatan intelektual menjadi seonggok lahan bisnis. Gelar-gelar yang seharusnya menjadi bukti otoritas keilmuan nampak seperti barang dagangan begitu saja. Para pakar (baca:dosen) yang seharusnya dihormati, menjadi direndahkan oleh mahasiswa dengan dalih “kami sudah membayar.” Penyebab selanjutnya ialah adanya kemudahan akses internet. Dengan adanya internet, masyarakat dapat dengan mudah mengakses segala informasi yang seringkali tidak dapat dipertanggung jawabkan. Keadaan ini diperparah dengan berjalannya algoritma mesin pencari yang cenderung menyuguhkan apa yang kita mau, sehingga bias konfirmasi makin menjadi-jadi. Sampai di titik ini kita sadar, bahwa satu-satunya penyelamat kita adalah si pencari berita--jurnalis, Namun faktanya, dunia jurnalisme pun bermasalah. Setiap wartawan dituntut untuk mampu menghadirkan berita selama 24 jam non-stop. Akibatnya, banyak bermunculan berita-berita yang tidak memiliki bobot informasi atau lebih parah lagi berupa hoaks. Jurnalisme pun berubah tujuannya dari menghadirkan “informasi yang dibutuhkan masyarakat” menjadi menyuguhkan “informasi yang diinginkan masyarakat”. Dengan kondisi dimanjakan oleh informasi ini, maka masyarakat pun mulai menyingkirkan pakar dari posisinya. “Pakar memang bisa salah.” Begitu tulisnya. “Namun kesalahan pakar jauh lebih jarang dibandingkan kesalahan orang awam.” Lanjutnya, ketika menceritakan kesalahan-kesalahan pakar. Pada akhirnya, matinya kepakaran adalah efek dari pemikiran bahwa semua manusia itu sama, bahwa “ketidaktahuan saya sama berharganya dengan pengetahuan anda”. Bahwa saat ini, ilmu tidak dimaknai dengan benar.
Membaca “Matinya Kepakaran” membuat saya teringat dengan adab terhadap ilmu. DI islam, kita diajarkan untuk menghargai ilmu. Di islam pula, kita diajarkan bahwa orang-orang berilmu adalah orang yang spesial. Bukan karena dirinya namun karena ilmu yang dimilikinya. Di sini kita dapat pahami, bahwa sejatinya ilmu bukanlah sesuatu yang boleh diremehkan, Bahwa kita harus menghormati orang-orang yang berilmu dengan segala otoritasnya. Dan bahwa kita harus menata kembali adab kita dalam berilmu
Yogyakarta, 8 Oktober 2019. 10:34 p.m Dan Yusuf, dalam penghayatan makna ilmu











