there are so many languages i want to learn, books i want to read, places i want to visit but im here lying down with no motivation to go anywhere but to the kitchen.
hello vonnie

JBB: An Artblog!
d e v o n
No title available

JVL

Love Begins
we're not kids anymore.
cherry valley forever

roma★
Misplaced Lens Cap
No title available

ellievsbear
Monterey Bay Aquarium
occasionally subtle
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
I'd rather be in outer space 🛸
One Nice Bug Per Day
Keni
🪼

Janaina Medeiros

seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from Hong Kong SAR China
seen from South Africa

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from United States
seen from Indonesia
seen from Laos

seen from Barbados
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
@danyusuf
there are so many languages i want to learn, books i want to read, places i want to visit but im here lying down with no motivation to go anywhere but to the kitchen.
Jika ada yang bertanya kenapa skripsi saya belum selesai, maka jawabannya sesungguhnya adalah karena saya sudah ada dalam kondisi burnout. Sederhananya, saya kehilangan motivasi. Gejalanya sudah terasa sejak semester 7 sebenarnya. Hanya saja, keadaan semakin parah ketika semester 8 pandemi menghantam, menyebabkan rencana saya untuk menjaga motivasi dengan tetap ke kampus pudar.
Masalah ini diperparah dengan sifat saya yang cukup perfeksionis. Hampir di setiap saya mengerjakan skripsi, pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang sedang saya kerjakan selalu bermunculan. Sayangnya, pertanyaan ini tidak bisa saya jawab sendiri, dan saya belum menemukan orang yang bisa membantu saya untuk menjawabnya, mengingat tema yang saya ambil tergolong baru, bahkan untuk dosen pembimbing saya.
Walhasil, tanpa terasa sudah hampir genap 2 tahun sejak saya memutuskan mengambil tema ini, belum ada kemajuan yang signifikan. Padahal, dalam kondisi ideal, saya yakin bisa menyelesaikannya dalam hitungan 3 bulan saja. Tentu ini menjadi pr besar bagi saya. Bagaimana saya akan melanjutkan studi lanjut apabila saya masih dalam keadaan seperti ini?
Tapi setidaknya, saya masih bersyukur diberikan banyak nikmat di sela kegalauan ini. Pertama tentu saja keluarga yang tetap sabar dan memberikan kepercayaan penuh. "Kalau kamu, Ummi percaya kamu tau dan bisa menyelesaikan masalahmu sendiri." Begitu kata Ummi ketika bertemu sebulan yang lalu. Selain itu, lingkungan asrama juga cukup mendukung untuk terus belajar, meskipun kadangkala saya jadi terlampau asyik belajar yang lain. Terakhir tentu saja saya bersyukur diberikan dosen pembimbing yang sampai sekarang membimbing saya dengan sabar, yang akhirnya dalam banyak kasus berhasil meredam ketakutan saya akan kekurangan di skripsi saya.
Saat ini, saya sedang mengurus perpanjangan studi semester 11, bersamaan dengan semester terakhir di asrama. Teman seangkatan pun sudah mulai banyak yang telah menyelesaikan studinya. Dengan kondisi seperti ini, maka saya kembali menata hati, pikiran, dan perasaan, untuk fokus menyelesaikan tugas yang tertunda. Sudah cukup barangkali setahun lebih tugas ini "menyakiti" saya, sudah saatnya saya melawannya dan menghilangkan semua beban ini. Bismillah, insyaallah semester depan terakhir.
Nb: tulisan ini sengaja saya buat sebagai coping saya, setelah akhirnya kembali merasakan sakit perut dan pusing-pusing yang disebabkan oleh proses dalam mengurus perpanjangan studi. Bagi yang membaca tulisan ini, tidak perlu menanyakan lebih lanjut secara pribadi, karena dalam beberapa kasus hal itu dapat memberikan dampak negatif kepada saya. Cukup doakan saja, semoga saya bisa segera menuntaskan tugas ini.
Asya'irah dan Atsariyyah
Saya lahir di lingkungan Nahdliyyin, namun dididik dalam kecondongan ke Muhammaddiyah. Dengan keadaan demikian, saya sering berjumpa dengan konflik yang berada di ranah fiqh. Entah pengucapan niat, penggunaan qunut, atau tentang penentuan awal bulan hijriyah. Tidak ada sama sekali terpikir bahwa perkara khilafiyyah juga muncul di ranah Aqidah.
Sebenarnya saya sudah menyiapkan tulisan yang agak panjang tentang kisah bagaimana akhirnya saya mempunyai 2 partner baru berupa HP dan laptop. Namun karena ada kecelakaan sedikit, tulisan itu akhirnya hilang -meskipun sesungguhnya tinggal dipublikasikan. Maka akhirnya saya coba sampaikan paragraf penutupnya saja.
Intinya, kita tidak akan pernah tau tentang apa yang akan kita alami. Sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi baik untuk kita, pun sebaliknya. Seperti saya yang mengalami kehilangan laptop di kala proses pengerjaan skripsi. Setelah mencoba meridai dan mengambil hikmah darinya, banyak hal baik datang bertubi-tubi hingga akhirnya sebulan setelahnya saya telah mendapatkan laptop (yang meskipun second tapi lancar jaya, bahkan mengalahkan laptop yang dicuri), dan HP baru untuk menggantikan HP lama yang sudah berumur lebih dari 4 tahun. Di titik ini, tidak ada ruang bagi saya untuk tidak bersyukur. Tinggal bagaimana ke depannya saya harus memastikan agar rasa syukur itu tereksekusi dan tidak hanya berhenti di lisan.
Yogyakarta, 13 Februari 2021 Dan Yusuf, dengan 2 partner baru
Refleksi Dua-dua: Literasi & Pergeseran
Sekali lagi, tulisan ini seharusnya saya buat di bulan November lalu. Namun berhubung ada satu-dua keadaan, ditambah dengan kejadian hilangnya laptop, butuh waktu bagi saya untuk memulai kembali menulis di sini.
Di antara hal yang ingin saya biasakan dalam setiap tahunnya ialah mencoba merefleksikan kegiatan literasi saya. Sejak memutuskan untuk menjadikan literasi sebagai hobi, saya merasa perlu untuk membuat satu-dua tulisan berkenaan dengannya. Utamanya untuk melihat seberapa jauh saya menikmati hobi ini, dan seberapa bermanfaatnya hobi ini.
Refleksi Dua-dua: Bukan Sebuah Krisis
Tahun telah berganti –baik Masehi maupun Hijriah, dan umur pun telah bertambah. Dua puluh dua sudah bukan angka yang bisa dianggap kecil bagi manusia kini. Di umur ini, apa yang didaku sebagai quarter-life crisis, sebuah “penyakit psikis” yang dialami manusia “modern” mulai banyak melanda. Sederhana saja, di umur ini, jika menurut kebiasaan, pendidikan jenjang strata 1 telah usai dilampaui. Setiap orang mulai memikirkan urusannya masing-masing. Berpisah dengan kawan dekat sudah menjadi hal yang biasa. Dan tanpa sadar, kita semua mulai sibuk menanyakan diri sendiri. Tentang apa yang akan dituju? Apa yang akan dilakukan setelah ini? Serta apa tantangannya? Dan tak lupa dengan siapa akan melewatinya?
Pagi Bersama Intelektual Islam Indonesia
Di sela-sela kesibukan asrama dan skripsi, hari ini saya memutuskan untuk rehat sejenak, menikmati pagi dengan seduhan teh sereh dan kayu manis, sembari berselancar dan membaca tulisan tentang tokoh-tokoh islam terdahulu. Biografi singkat dari beberapa tokoh telah terbuka, di antaranya adalah Rasjidi, A Hassan, dan Hasbi Ashiddiqie. Ketiga tokoh besar ini memang sedang ingin saya pelajari, mengingat geliat mereka di dunia intelektual islam yang mengesankan namun tidak begitu diketahui khalayak umum.
Satu per satu tulisan mengenai mereka saya daras, dan semakin lama saya semakin menggelengkan kepala. Heran! Pada masanya, geliat intelektual umat islam di Indonesia begitu menakjubkan, namun kini semua jejak itu hilang begitu saja.
Hilangnya jejak ini tentu membuat saya berpikir, “Ada apa gerangan sehingga nama mereka seakan menjadi tidak familiar di kalangan umat sekarang?” Lebih lanjut lagi, “Mengapa semangat tokoh-tokoh demikian tidak terwariskan ke umat islam sekarang, utamanya kaum muda muslim?” Ah, nampaknya saya memang harus mencoba untuk mencari referensi mengenai keterputusan garis intelektual ini, menuangkannya dalam tulisan, sembari berharap agar kejadian serupa tidak hadir kembali di masa depan.
Yogyakarta, 10 Oktober 2020 Dan Yusuf, dalam usaha mencari semangat intelektual
Percakapan Yang Tak Bisa Dilupakan
“Saya tau kok Mas Ibay itu siapa.”
Bunga Yang Di-”nanti”-kan
“Kau benar-benar tidak ingin menanam mawar merah?”
HAMKA Bicara al-Quran
Ramadan lalu, setelah iseng berselancar di instagram, saya menemukan beberapa eksemplar Tafsir al-Azhar terpampang di lapak buku bekas, Massa Aksi Yk. Saya tergelitik untuk membelinya. Maklum, target membaca tafsir saya kala itu tidak bisa berlanjut karena kendala kepemilikan buku. Selama ini, saya membaca tafsir tersebut hanya dari hasil pinjaman di Perpustakaan Baitul Hikmah, dan itu pun dibatasi waktu maksimal 2 pekan. Di sisi lain, sebenarnya kakek saya juga mempunyai satu set tafsir tersebut dari juz 1 hingga 30. Ummi pun pernah berkata untuk mengusahakan agar buku-buku tersebut “diwariskan” saja ke saya. Namun berhubung rasa cinta kakek saya terhadap buku-bukunya, tidak tega rasanya untuk mendesak agar buku-buku itu segera dikirimkan ke saya. Maka tak perlu pikir panjang, saya menghubungi Mas Lentho -pemilik lapak Massa Aksi Yk- untuk memeas buku tafsir tersebut.
Tentang Masakan
Salah satu hal yang paling menyenangkan ketika tinggal di asrama adalah memasak. Apalagi semenjak ditunjuk menjadi penanggung jawab bagian dapur dan bahan makanan, kegiatan memasak dan berbelanja menjadi hiburan selingan di sela-sela kesibukan (?) yang lain.
Ini rumit, tapi pada akhirnya aku selalu ingin menyendiri.
Fardan, hanya ingin menjadi Fardan
Renungan di Rumah Sakit
Seperti malam-malam biasanya, Rumah Sakti Akademik (RSA) UGM malam ini terasa lengang. Ruangannya yang luas namun minim pencahayaan menjadikannya terkesan “horor”, utamanya bagi orang-orang yang penakut-tentu saja aku tidak termasuk!-. Aku membaringkan tubuh di pojok salah satu kamar pasien di lantai 4. Kebetulan saat ini, salah satu teman asramaku sedang mengidap penyakit Demam Berdarah, maka satu per satu di antara kami saling bergantian menjaganya, dan aku kebetulan mendapatkan kesempatan malam ini.
Agaknya, suasana keheningan di RSA berhasil kembali menerbangkan imaji pikiranku, berkelana ke sana ke sini, hingga akhirnya ia berakhir kembali ke diri sendiri. Mencoba menerka, seperti apa sebenarnya diri ini? Apa yang ia butuhkan? Apa yang ia inginkan? Apa yang sedang ia rasakan?
Sedih dan Syukur
Malam ini aku kembali terharu tersebab nikmat Allah yang begitu besarnya yang Ia berikan di saat yang tak terduga. Pada awalnya, hari ini kujalani dengan diliputi kesedihan. Kesedihan ini hadir sebab hari ini adalah waktu bagiku untuk memulai kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara daring. Padahal di saat yang bersamaan, beberapa kawan mengunggah kenangan KKN mereka yang dilaksanakan tepat satu tahun lalu. Sebagai seseorang yang “gagal” mengikuti KKN tahun lalu, dan “gagal” terjun secara langsung di KKN kali ini, sedikit banyak perasaan sedih menghhampiriku.
Tazkiyyatun Nafs
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ - ٩ “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)“ (QS asy-Syams: 9)
Selepas salat isya’, Mas Naufa tiba-tiba bergerak menghadap ke rak asrama. Terdiam sejenak, meneliti satu per satu judul buku, beliau akhirnya mengambil salah satunya. Tazkiyyatun Nafs, begitu yang tertulis di wajah buku tersebut. Karena buku itu hanya ada satu di asrama, maka dapat dipastikan buku itu adalah buku milik saya. Melihat hal itu, tiba-tiba terlintas sejarah tentang bagaimana saya mendapatkan buku tersebut. Seingat saya, buku itu saya dapatkan ketika dalam forum kajian khusus menyambut mahasiswa baru yang diadakan Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM). Buku tersebut dibagikan secara gratis selepas acara. Jujur saja ketika itu, sebagai peminat kajian pemikiran, saya tidak begitu tertarik dengan tema-tema tentang hati. Karena bagi saya, urusan hati adalah urusan yang bisa dilatih sendiri tanpa perlu mengkajinya secara serius. Maka buku tersebut saya simpan begitu saja tanpa pernah membacanya. Hal yang ternyata saya sesali di kemudian hari.
Merasa Bodoh
Berada di Bentala, sejujurnya selalu membuatku merasa bodoh. Betapa tidak? Orang-orang di sekitarku bukan sembarang orang. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang bisa membuatku minder. Pengetahuan mereka luas, dibalut dengan kemampuan mengartikulasikannya dalam diskusi atau tulisan selalu merasa membuatku berpikir, “Ah, aku ini bodoh sekali!”
Sudut Produktif
Semenjak #dirumahaja, saya memutuskan untuk berpindah “tempat tinggal” dari kamar ke ruangan tengah. Alasannya sederhana, selain karena kamar saya lebih dibutuhkan sebagai tempat kerja salah satu penghuni asrama, saya merasa lebih nyaman berada di ruang tengah dengan fasilitas karpet, meja belajar, dan buku yang berderet-deret. Fasilitas yang ada ini secara tidak langsung mampu memaksa saya untuk mengurangi kegiatan bermalas-malasan dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Setelah beberapa kali mengatur, akhirnya saya menemukan konfigurasi tempat yang sesuai dengan keinginan. Saya namakan konfigurasi ini sebagai “sudut produktif”. Di “sudut produktif”, saya meletakkan dua meja. Meja lipat bermerek PEMBINA untuk laptop, dan meja belajar yang lebih pendek tapi lebar untuk membaca buku. Tak lupa terpasang lampu belajar juga di sana. Di bagian atas, terjajar buku-buku yang sedang dipelajari, sedang dibaca, terjadwalkan dibaca, dan referensi yang perlu beberapa kali dibuka.
Dari “sudut produktif” ini, saya berharap, khususnya selama #dirumahaaja, motivasi untuk membaca, membaca, dan menulis terus tumbuh. Bahkan saya targetkan selama sebulan ini minimal 8 buku terdaras, dan review buku dapat tertuliskan di kanal ini setiap harinya mulai besok. Sambil menyelesaikan tugas akademik tentunya.