Seandainya Tak Terlambat
Pada akhirnya, Kita hanya berdiri di ujung cerita Menyesap getir dari cangkir yang kita tuang sendiri Menyesali kenapa airnya tak kita dinginkan lebih dulu
Andai waktu itu kita lebih sabar, Seperti pohon menunggu buahnya matang Mungkin amarah tak akan tumbuh dan kecewa tak menjelma belukar
Andai lebih banyak mendengar, Bukan sekadar menangkap bunyi, Tapi memahami sunyi di balik jeda Mungkin kita tahu arah yang mestinya tak dilewati
Andai lebih peka membaca tanda, Lebih tenang menelaah luka Mungkin perpisahan tak perlu jadi akhir Karena semestinya, kita pun tak perlu memulai
Tapi begitulah hidup mengajarkan: Penyesalan datang layaknya hujan di senja pesta Terlambat, tapi tetap membuat becek langkah kita Sedang keputusan seperti pendaftaran, datangnya di awal, tak bisa ditunda
Namun tak apa.. Meski payung tak sempat terbuka Setidaknya basah ini bisa jadi pelajaran Agar esok tak salah lagi memilih langit yang hendak ditantang

















