Melambat atau Berhenti Sejenak
Photo by Polina Kuzovkova on Unsplash
Topik tulisan saya kali ini sebetulnya tidak sengaja saya temukan ketika sedang mengendari sepeda motor, waktu itu jalanan sedang cukup ramai, dan saya ini mengendarai motor untuk berputar balik dari sisi jalan yang satu ke yang lain, karena kendaraan yang lewat tidak kunjung berkurang dan saya pun cukup terburu-buru, saya pun memberanikan diri untuk menyeberang secara perlahan, tapi akibatnya saya mendapatkan klakson emosi dari kendaraan yang melintas, dan sepertinya kalau mereka lengah, bisa saja saya tertabrak.
Dari pengalaman singkat tersebut, saya mencoba merenung untuk kondisi yang lain, sering kali dalam hidup ini kita mengalami saat harus membuat keputusan dalam waktu yang singkat akibat dikejar tenggat waktu, dan banyak kesempatan keputusan yang dihasilkan mengarah ke keputusan yang salah atau buruk yang beresiko menimbulkan "Kecelakaan" entah itu kerugian materil ataupun non materil. Dalam situasi tersebut mungkin kita bisa mencoba untuk melambatkan laju pikiran atau cukup berhenti sejenak dengan mengambil napas dalam-dalam untuk beberapa saat, tujuannya adalah untuk mencegah kita membuat keputusan yang buruk.
Sering kali dalam kondisi terburu-buru, kita hanya bisa melihat suatu hal dari sudut pandang yang sempit, mungkin kita pernah mengalami mendapatkan tawaran dari seorang penjual yang memberikan iming-iming penawaran tersebut terbatas, apabila tidak segera dieksekusi harga akan naik atau kita tidak akan pernah lagi mendapatkan barang serupa karena diproduksi secara terbatas atau berbagai macam alasan lainnya, percaya atau tidak sering kali ancaman tersebut memang manjur, tapi sering kali ancaman tersebut tidak benar-benar terjadi. Saat kita dihadapkan pada keadaan demikian, mungkin kita bisa berhenti dan mencoba melihat dari beberapa sudut pandang, apakah pembelian tersebut benar-benar saya butuhkan? apakah tanpa pembelian tersebut saya tidak bisa melanjutkan kehidupan?, kalau terlalu ekstrim mungkin bisa dipikirkan pertanyaan-pertanyaan lain juga, apakah tidak ada yang seperti itu dengan harga lebih miring atau ada yang serupa namun memiliki kekurangan sedikit, sehingga bisa kita komparasi. Pertimbangan-pertimbangan tersebut untuk menunda sementara dan membuat pikiran kita bisa melihat dari banyak sudut pandang dan terhindar dari penyasalan akibat membuat keputusan yang salah.
Jikalau contoh sebelumnya adalah tentang belanja, mungkin juga disaat lain dalam kehidupan, kita bingung akan melanjutkan studi dimana, membeli rumah, memilih tempat kerja dan lain sebagainya, terkadang nafsu atau ego kita mendorong pikiran kita untuk lekas membuat keputusan, yang sebetulnya jikalau kita bisa meredam ego dan memperpanjang waktu berpikir, mungkin pilihan yang kita buat bisa jauh lebih baik dibandingkan "Memaksa" diri kita untuk terburu-buru membuat keputusan. Memang ada beberapa kondisi kita diharuskan untuk memilih atau membuat keputusan secara cepat, namun disaat segenting apapun, sebetulnya kita bisa menenangkan diri untuk sebentar saja mengatur napas dan memikirkan pilihan kita secara lebih hati-hati.
Kunci dari keputusan yang tepat adalah berpikiran jernih, mengatur nafas seringkali membantu menjernihkan pikiran yang rumit, jadi dalam kondisi genting jangan biarkan kita membuat keputusan yang terburu-buru apalagi dengan pikiran yang kacau. Selalu ada waktu untuk menenangkan diri, dan kalau emosi mengacaukan pikiran, jangan andalkan diri kita sendiri, kita bisa bertanya ke orang kepercayaan, meminta pendapat, itulah kenapa dalam suatu perusahaan biasanya sebuah keputusan tidak dibuat oleh seorang pemimpin saja, melainkan juga mendapatkan persetujuan dari pemimpin lainnya, untuk mencegah bias-nya pilihan dan menjaga agar keputusan yang dibuat benar-benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Saat ragu-ragu, lambatkan langkah atau berhenti sejenak agar keputusan kita benar-benar tepat.