Malam selalu menjadi waktu terindah untuk menumpahkan perasaanku pada-Nya. Atas segala perasaan yang aku lawan. Selama ini.
Namaku Toeckino Soemartojo. Teman-teman biasa memanggilku, Ino. Aku baru berusia tujuh belas tahun. Sejak kecil, aku tak pernah melihat wajah kedua orang tuaku. Kata nenek, mereka berpisah ketika aku berumur dua tahun. Usia dimana seorang manusia sedang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang tersayangnya, dari kedua orang tuanya. Namun tak apa, aku senantiasa mencoba bersyukur, sebab satu-satunya orang tuaku saat ini adalah nenek. Ia yang merawat dan membesarkanku hingga kini.
Meskipun orang-orang menilaiku terlihat kuat. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, aku menangis. Menumpahkan semua perasaan yang aku miliki. Hampir sebelas tahun aku melakukan “ritual” ini. Berharap perasaan ini terhamburkan lewat air mataku.
Namun beberapa hari ke belakang, aku mulai meninggalkan perilaku ini. Tepat semenjak aku mengenal seseorang yang baru dalam hidupku. Seorang wanita yang baik hati dan perilakunya. Namanya Eren. Erenia Putri.
Aku baru mengenalnya ketika kami sama-sama berada di kelas dua belas Sekolah Menengah Atas. Entah apa yang aku rasa, aku tak paham. Namun yang jelas, aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama tujuh belas tahun ke belakang.
Perasaan ini membuat diriku berbeda. Aku mudah sekali bersemangat, bahagia di setiap tempat dan keadaan, serta memberikan energi berlebih di segala halnya. Aku seperti “terlahir kembali”.
Apakah ini yang namanya kebahagiaan?
Siang itu, pelajaran Bahasa Jerman. Materinya adalah latihan berdialog. Entah kebetulan atau tidak, rekan dialogku adalah Eren. Hari itu teman satu mejaku sedang berhalangan hadir. Dan Eren yang duduk sendirian memintaku untuk menjadi rekan dialognya.
Lima belas menit kami saling latihan berdialog, sebelum maju ke depan kelas. Saat itu, wajah Eren begitu jelas terlihat di depanku. Sesekali aku membuang pandanganku, menjaga agar aku tetap dalam fokus utamaku. Walaupun adab berdialog mengatakan untuk saling menatap mata lawan bicaranya, namun aku lebih mendengarkan nasihat nenek. Bahwa memandang lawan jenis itu seperlunya saja, karena pandangan pun harus dijaga.
“Ino dan Eren, silahkan!” ujar Frau Schena.
Aku dan Eren maju ke depan kelas. Menampilkan hasil latihan kami. Lima belas menit berlalu dan kami berhasil menyelesaikannya dengan baik. Aku senang melihat Eren yang saat itu juga terlihat senang. Lagi-lagi aku belum paham dengan perasaan ini.
Sepulang sekolah, kami juga sering pulang bersama—dengan berjalan kaki. Lokasi rumah kami memang searah, namun tidak berdekatan. Eren tinggal di sebuah perumahan elit, sementara aku harus berjalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai ke bangunan berlantai empat di wilayahku—rumah susun. Keterbatasan ekonomi membuat aku dan nenek harus tinggal di tempat itu. Apapun bentuknya, aku mencoba menikmati dan tetap bersyukur. Dan karena nenek juga yang selalu mengajarkan bahwa hakikat rumah itu ketika nyaman berada di dalamnya. Tidak peduli seberapa luas dan besarnya.
“Ketika kamu nyaman, maka itulah rumahmu.” Begitu kata nenek.
Frekuensi pertemuan yang sering aku lakukan dengan Eren berbanding lurus dengan semakin menguatnya perasaan yang aku rasa.
Di kelas, di kantin, dan di tempat-tempat dimana Eren sedang berada, aku selalu mencoba untuk mencuri-curi pandang. Sesekali aku juga menyapanya tanpa keperluan. Hanya sebatas ingin bertegur sapa. Dan melihat senyum indahnya.
Tiga bulan mendekati Ujian Akhir, kami selalu menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Biasanya di rumah Eren. Tiap kali aku ke sana, aku tak mendapati keberadaan orang tua Eren. Hingga sampai di suatu waktu, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Orang tua kamu kemana, Eren?” tanyaku.
“Mereka sedang bekerja, Ino.”
“Keduanya?” tanyaku lebih heran.
“Iya. Papaku seorang sibuk di salah satu perusahaan milik negara. Sementara Ibuku seorang konsultan manajemen. Biasanya mereka pulang agak malam. Ada apa, Ino?”
“Ooh sibuk sekali kedua orang tuamu. Tidak apa, aku hanya bertanya.”
Aku jadi ingat kedua orang tuaku. Bahkan mengingatnya membuatku sedih. Kadang aku bertanya dalam hati apa alasan mereka meninggalkanku, kalau hanya karena perdebatan belaka rasanya tak sampai seperti ini.
Ah, sudahlah. Aku sudah tak berniat mengingatnya. Semoga Tuhan menjaga mereka.
Siang itu, sepulang sekolah. Seperti biasa, aku dan Eren belajar bersama guna mempersiapkan Ujian Akhir. Tidak seperti hari-hari kemarin, hari itu Ibu Eren sedang berada di rumah. Beliau menyapa dan menyambutku dengan ramah.
Satu jam berlalu, saat itu sedang rehat sejenak. Kemudian Ibu Eren menghampiri kami. Mengajakku berbicara.
“Ino ajarin Eren ya biar pintar seperti kamu,” ujar Ibu Eren dengan nada bercanda. Aku hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum.
“Omong-omong rumah kamu dimana, Ino?” tanya Ibu Eren.
Sejak delapan bulan aku mengenal Eren, memang dia belum sama sekali mengetahui rumahku. Aku sedikit menjaga identitas keluargaku.
“Di ujung perumahan ini, tante. Sekitar satu kilometer dari sini,” jawabku.
“Satu kilometer... ooh yang dekat rumah susun itu ya.”
“Rumah saya di sana tante.”
Persis sesaat aku menjawab pertanyaan Ibu Eren. Seketika itu juga wajah beliau mulai berubah. Wajah sambutan yang nyaman perlahan mulai berubah menjadi ketidaksukaan dengan kehadiranku di sana. Aku merasakan itu. Kemudian beliau pergi meninggalkanku dan Eren. Di saat itu pula kami melanjutkan belajar.
Keesokannya, Eren tampak berbeda. Dia tak menyapu bahkan ketika berpapasan. Seperti membuang pandangannya terhadapku. Aku tak paham mengapa demikian.
Sejak kejadian sore itu, kami tak pernah lagi menghabiskan waktu bersama. Eren tak lagi memintaku untuk mengajarkannya. Begitu pula denganku, aku tak mungkin memintanya untuk belajar bersama. Ada rasa canggung di dalam diriku.
Waktu terus berlalu, namun sikap Eren tak kunjung kembali seperti dulu. Dia benar-benar telah berubah, terhadapku. Meskipun demikian, perasaan yang aku rasakan ke dia tak berubah—tetap sama dan aku tetap tak memahaminya.
Dua minggu berlalu bahkan sampai Ujian Akhir berakhir dia tak kunjung berubah. Sesaat ketika dia berjalan pulang, aku mengejarnya. Menghalangi langkahnya seraya bertanya, “Eren, kamu kenapa? Aku salah apa? Kenapa sikapmu dingin seperti ini?”
Eren tak menjawab. Dia mencoba melanjutkan perjalanan, aku pun terus berusaha menghalanginya. Meminta dia menjawab pertanyaanku.
“Aku tak bisa bergaul lagi denganmu!!! Ibuku melarang aku bergaul dengan anak-anak rusun itu. Tak terkecuali kamu. Maafkan aku,” ujar Eren sambil berlari menjauhiku. Tampak jelas air mata yang tertahan darinya. Aku merenung diam, di sana. Duduk terjatuh. Tak percaya dengan perkataan yang baru saja aku dengar. Bahkan keadaan harus memisahkan aku dengan Eren. Dengan semua perasaan yang belum pernah aku alami selama tujuh belas tahun.
Malam harinya, perasaan yang aku rasakan kepada Eren mulai pudar. Gejolak pertarungan antara membiarkan dan menghilangkan bercampur aduk. Malam itu aku kembali menumpahkan air mata pada gelapnya malam. Kali dengan perasaan berbeda. Kesedihan yang lebih mendalam.
Hari-hari mulai terlihat kosong bagiku. Bahkan sampai pengumuman kelulusan, aku tak terlalu menggubris hasil yang aku peroleh. Meskipun saat itu, aku memperoleh nilai tertinggi di sekolah. Aku tak peduli, tidak ada lagi perasaan bahagia sedikitpun. Aku kehilangan kemampuan merasakannya. Yang tersisa hanya kesedihan.
“Kakak kenapa?” tanya salah seorang anak perempuan yang tinggal satu rusun denganku. Aku yang saat itu sedang menangis, lekas menghapus air mata yang mengalir di pipi.
“Kakak tidak apa-apa,” jawabku berusaha membaikkan keadaan.
“Jangan bohong kak. Air mata kakak berkata sebaliknya. Cerita saja kak,” ujar anak perempuan itu.
Dengan menunjukkan senyumku, aku menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.
“Baiklah, kak. Kalau pangkal kesedihan kakak ada di kerasnya hidup, kata almarhum ibu saya jangan dituruti kak perasaan sedihnya. Lawan perasaan yang membuat kakak sedih tersebut. Aku masuk dulu ya kak, semoga kakak lekas membaik.” Dia pun kembali menuju kamar di sebelah kamar aku dan nenek.
Aku tersentak mendengar anak perempuan berusia sebelas tahun itu. Dengan penuh keyakinanya, dia menasihatiku. Dan entah mengapa, aku menerima nasihat yang mulus masuk ke sanubariku. Membuatku lebih tentram dari sebelumnya.
Anak perempuan itu benar. Kesedihan yang dituruti hanya akan membuat kesedihan baru, bukan menyelesaikan kesedihan sebelumnya. Membuat sisi-sisi yang seharusnya dinikmati dengan bahagia, terlewatkan begitu saja dengan rasa sedih.
Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk melawan perasaan sedih yang hadir di kehidupanku. Dan membuatnya tersisih dalam kamus hidupku.