seseorang punya daya tarik yang melekat dalam, sulit dilupakan, meski posisinya telah tergantikan.
—memelena
seen from China

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Sweden
seen from Austria
seen from China
seen from Romania

seen from Slovakia

seen from Australia
seen from Egypt

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from China
seseorang punya daya tarik yang melekat dalam, sulit dilupakan, meski posisinya telah tergantikan.
—memelena
MANENG (Mari Merenung) - Ini Peranku, Kamu?
Seringkali aku merenungi tentang kenapa Tuhan memberiku hidup sepahit ini? Kenapa aku yang harus mengalami hidup begitu pahit? Kenapa aku harus hidup seperti ini? Kenapa aku cerita hidupnya semenyedihkan ini? Apakah salah dan dosaku sebesar itu hingga hidupku sesengsara ini? Kenapa tidak orang lain? Kenapa pula ada orang-orang yang hidupnya setragis itu?
Seiring banyaknya perjalanan yang membawa pelajaran, aku sampai pada sebuah kesadaran bahwa benar setiap manusia memiliki perannya masing-masing. Aku yakin kamu pernah dengar soal 'setiap manusia yang diturunkan di bumi memiliki peranNya masing-masing.' Sehingga kita acapkali disuruh untuk mencari 'peran' hidup. Entah itu menjadi seorang insinyur, pengusaha, guru, profesional, politikus, atau juga menjadi seorang pemimpin, pelaksana, pemelihara, dan lain sebagainya. Tapi nyatanya, peran manusia tidak hanya sebatas itu. Bukankah ada orang-orang yang baru beberapa jam turun ke bumi dan langsung diminta kembali? Bukankah menyedihkan karena dia tidak bisa hidup dengan menjalani peran menjadi 'sesuatu' yang seharusnya dia laksanakan?
Lantas, mari merenung bersamaku.
Selayaknya tokoh sebuah drama, tidak mungkin bukan kalau semua orang akan jadi tokoh utamanya? Baiklah, betul, seseorang adalah tokoh utama dalam hidupnya sendiri, setiap dari kita adalah tokoh utama dalam panggung kita sendiri -sudut pandang kita sendiri, tapi jika dilihat dalam panggung sandiwara yang lebih luas, tidak! Tokoh utama punya perannya sendiri, tokoh figuran juga. Diterima atau tidak, dalam panggung milik manusia lain aku hanyalah tokoh ke-dua, ke-tiga atau bahkan hanya figuran yang numpang lewat. Namun semua harus ada sebab itulah terjadi cerita yang utuh dan penuh. Semua adalah cerita ciptaanNya yang sempurna.
Dengan memiliki kesadaran bahwa aku hanya perlu menjalani peran-Nya, aku akhirnya bisa melepaskan segala kemelekatan diri bahwa aku hanyalah manusia yang diberikan peran dan cerita seperti itu, tapi hal itu (cerita dan peran) bukanlah aku, sebab aku yang sejati adalah hambaNya yang senantiasa beribadah dan berbahagia. Bukankah Tuhan menciptakan kita ke dunia untuk hal itu? Beribadah dan berbahagia.
Jadi, meski itu adalah peran dan cerita yang Tuhan berikan padaku, itu bukan aku yang sebenarnya, bukan aku yang sejati. Walau badai tangis rasanya masih begitu pekat, tapi aku sadar bahwa itu adalah peranku. Peranku yang harus menangis, peranku yang memiliki kisah tragis -setidaknya untuk saat ini. Lantas, untuk apa aku berlarut dalam kesengsaraan jika semua itu hanyalah sebuah adegan yang perlu aku perankan? Aku pernah mendengar sebuah kelakar -entah siapa, yang berkata bahwa dunia adalah panggung sandiwara, manusia adalah pemerannya, tapi banyak orang yang aktingnya jelek. Kurasa, kelakar itu ada benarnya. Banyak manusia sibuk mengeluh daripada harus melaksanakan peran-Nya dengan baik dan benar.
Dan sungguh, beban beribu ton di pundakku rasanya langsung hilang entah kemana. Inikah yang disebut memerdekakan kemelekatan? Selama ini aku selalu merasa bahwa hidupku adalah si paling -si paling menyedihkan, mengenaskan, tragis, kasihan. Padahal, oh tidak! Itu hanya sebuah cerita dan peran yang Tuhan sematkan padaku, itu bukanlah diriku yang sejati!
Aku yakin, di balik peranku yang saat ini terlihat mengenaskan akan ada cerita dan peran 'baik' untukku nantinya. Misalnya aku mendapat peran besar -jadi tokoh ternama yang mengubah dunia menjadi lebih baik, tetap saja peran itu bukan diriku yang sejati. Peran itu hanyalah sesuatu yang Tuhan sematkan padaku, agar ceritaNya lebih seru. Tapi jikapun tidak ada, tidak mengapa. Aku hanya perlu menjalankan peran apapun itu dengan sebaik mungkin, bukan? Sebab di luar panggung, aku tetaplah aku dengan diri sejatiku yang Tuhan kirim ke bumi untuk beribadah dan berbahagia. Diriku yang sejati bukanlah peran dan cerita itu.
Akhir kata, mari melaksanakan peran dengan benar. Tuhan selalu beri kebebasan di atas maupun belakang panggung. Peranilah dengan sepenuh hati. Tapi sadarlah, bahwa peran itu bukanlah dirimu yang sejati. Hiduplah saat ini dengan menjalani peranmu sekarang ini. Saat di 'luar' panggung, selamat beribadah dan berbahagialah!
*catatan kecil,
Aku sadar dan tahu betul kalau tulisan ini jauh dari kata sempurna. Masih perlu perenungan panjang untuk bisa dekat dengan kebenaran absolut. Maka, marilah merenung bersamaku! Jika kamu berkenan memberikan kritik dan saran ataupun berdiskusi, hal itu akan sangat membahagiakan!
- Sastrasa
Sabtu-Minggu/ 3-4 Desember 2022
Hijau Merdu
Aku merindukanmu tidak dalam diam,
menunjukkan rasaku tak hanya lewat doa
aku menyentuhmu dalam canduku
memimpikanmu bahkan di kehidupan nyataku
aku menatapmu lekat
membawaku ke lorong lorong kepedihan disana
merasakan aroma sisa-sisa kenangan yang tak biasa,
aku tak ingin disana.
Dan kau menatapku lekat
tetaplah disini saja
tetaplah begini
jangan beranjak
biarkan waktu memahat hati menjadi hijau merdu.
Senyumnya sih cuma beberapa detik, tapi nempel di ingatannya itu loh.. Kaya noda gulai dibaju putih, susah ilang.. Dududuuuhh ~