Kalau kita tidak mampu meluruskan kekhilafan saudara kita, tak perlu membicarakan kekhilafannya dibelakang.
Waktu itu seseorang bertanya, "Gimana Bi, si A ? Sekarang kok begitu."
Aku cuma bisa jawab, "yaudah, nasihatiin". Dalam hati, malas menanggapi pertanyaannya. Gak sekali dua kali dilempar pertanyaan yang sama dari orang yang sama dan selalu berujung diajak membahas khilaf si A saja.
"Gimana si, teman lagi khilaf kok ga perduli gitu."
Bukannya gak perduli. Masalahnya, untuk menasihati si A pun, takut salah ucap. Buruk-buruknya malah memperkeruh pertemanan. Menasihati juga ga ujug-ujug dilontarkan begitu saja.
Emang diri ini yang lemah juga si. Mungkin hanya punya level mendustakan dengan hati. Belum bisa merubah dengan tangan dan lisan.
Tapi siapapun yang masih berada di level yang sama, tolong untuk diingat, kalau kita tidak mampu menjelaskan kekhilafannya pada orangnya, jangan asyik menjelaskan kekhilafan dia dengan orang lain.
Hati-hati dengan alibi membicarakannya untuk mencari jalan keluar. Alih-alih mencari jalan keluar, kita malah disesatkan setan ke jalan lain.











