Kalau bukan karena pertolongan Allah, anak kecil ini tak akan mampu berdiri sampai di titik saat ini
d e v o n
todays bird

No title available
Alisa U Zemlji Chuda
AnasAbdin
🪼

Origami Around

祝日 / Permanent Vacation

Kiana Khansmith

tannertan36
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
TVSTRANGERTHINGS
macklin celebrini has autism
Claire Keane
tumblr dot com

No title available
we're not kids anymore.
Jules of Nature
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
seen from T1

seen from Ecuador
seen from United States

seen from Israel
seen from Argentina
seen from Colombia
seen from Colombia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@gaungpikiran
Kalau bukan karena pertolongan Allah, anak kecil ini tak akan mampu berdiri sampai di titik saat ini
Percuma ngejelasin sesuatu ke orang yang gak pernah ngerasain apa yang kita rasa. Mau sedramatisir apa juga ngejelasinnya, kalau emang gak paham dan gak ngerasain, sampai upin ipin wisuda juga ya gak akan paham.
It's ok bercerita dengan tujuan biar plong. Maklum ya, cewek. Tapi jangan berharap orang itu akan paham
Gue pernah baca tulisan, ketika lu tertimpa kesulitan, pada akhirnya yang berdiri untuk berjuang sampai titik darah penghabisan adalah diri lu sendiri. Detik ini gue paham, hal ini bisa diberlakukan soal perasaan.
Pada akhirnya, yang paham sama perasaan lu, ya hanya diri lu seorang.
Kita (pr) tegas bukan berarti sombong, songong. Tapi karena kita menjaga. Agar tak ada dosa berserakan.
...
@putrhanna
“Ketika Allah memberi ujian yang begitu berat padamu, tetap tersenyumlah pada dunia, meski diam-diam kamu selalu mengaduh dan menangis di hadapanNya. Segala upaya telah kamu lakukan untuk selalu menjaga dirimu, tak perlu berkecil hati. Barangkali, jalan inilah yang harus kamu tempuh sendirian; tidak ada yang tau beban hidupmu kecuali hanya kamu dan Rabbmu. Jangan pernah takut, sebab, tiada suatu perkara apapun yang terjadi, kecuali atas kehendakNya. Kamu jangan menangis, menguatlah, dan terus berdo'a. Lapangkan hatimu untuk selalu ikhlas beribadah bagaimanapun keadaannya. Kamu juga tak perlu bersedih, percayalah, Allah akan selalu melindungimu”
— Pena Imaji
Ketika otak mengajak berkompromi dengan hati. Mencoba rasional dan tidak perlu ada yang di rasai. Wajah ini kuat untuk terlihat bahagia setiap hari. Mulut tersenyum, tertawa dan ceria. Mata? Tidak bertugas untuk membendung sedikitpun, karna tidak ada yang keluar disana. Hidung dapat normal untuk menyaring udara.
Aku tidak menangis dalam keramaian. Bukan! Aku tidak akan pernah menangis dalam kondisi apapun.
Sampai ketika, hati tergelincir dan menolak ajakan otak. Seolah memutuskan koneksi dan tidak ingin bergabung menjadi satu bagian dengan tubuh. Tidak menurut akan perintah. Mulut mulai bergetar, hidung berlendir, air mata mengalir. Mereka mengikuti hati yang tidak patuh pada tuannya. Otak pun sendiri, tidak ada yang mau peduli.
Untuk hati ayo berkompromi -it's enough
283.
Kita akan terus berjalan dengan setumpuk amanah dan beban berat.
Satu sisi meminta dikuatkan sisi lainnya mengutuk keadaan.
Sesekali menatap nanar pada pencapaian yang sudah jauh berjalan, sedang kita masih begini saja, seperti berjalan di tempat.
Pengharapan dan keinginan, dua sisi yang selalu membawa semangat sekaligus kutukan.
Jatuh, tersungkur dan terjerembab. Berharap ada pelita yang mampu menjadi teman berjalan.
Tidak bisa, nyatanya hidup adalah tentang pertanggungjawaban diri sendiri.
“Bahagiamu tidak bisa dititipkan pada manusia lain.”
Meja kerja, 10.28 | 4 Februari 2021.
Kepercayaan & Sekeping Hati
Kepercayaan tak ternilai harganya. Bahkan rupiah dan dolar sekalipun tidak bisa membayar lunas harga sebuah kepercayaan. Kepercayaan adalah investasi seumur hidup, yang masa tanam dan panennya selalu beriringan setiap hari. Semakin gigih kau menanam, semakin banyak kau panen. Semakin baik kau merawat, semakin baik kualitas dan kuantitas yang kau dapat.
Menjaga kepercayaan bukan pekerjaan orang sembarangan. Karena amat merugi ketika sebuah kepercayaan disia-siakan. Kekecewaan yang berujung hilangnya rasa percaya adalah sebuah malapetaka besar. Sebab butuh waktu lebih lama untuk membangun daripada menghancurkan.
Apalagi kalau sebelumnya mengumbar banyak harapan. Saat harapan pupus satu per satu bersama hilangnya kepercayaan, ini yang akan membuatmu hancur lebur menjadi debu yang tiada berarti. Bahkan lebih pahit dari sekadar kehilangan kepercayaan. Bagaimana tidak, bukan sekadar kepercayaan yang hilang, tapi juga harapan untuk percaya pun telah pupus.
Maka, merawat kepercayaan adalah niscaya. Jangan sampai sia-sia—bahkan lebih hina dari sia-sia. Memenuhi apa yang menjadi harapan dan mengantisipasi apa yang menyebabkan kekecewaan berarti menyemai benih-benih kepercayaan. Memenuhi harapan tanpa cela dan membabat habis semua peluang kekecewaan adalah cara paling jitu agar kepercayaan tetap tumbuh, kokoh menjulang.
Setiap orang selalu butuh alasan untuk percaya. Maka penting untuk mencari tahu dan membuat-buat alasan tersebut. Agar kelak, dapat selalu kau rawat apa yang menjadi alasan orang percaya padamu. Sebab hilangnya alasan untuk percaya akan selalu disertai hilangnya rasa percaya itu sendiri.
Alasan dan harapan, dua hal ini yang harus selalu kau tumbuhkan. Kau sirami dan beri pupuk tiap hari. Dari sebutir biji jadi kecambah, lalu pohon besar yang lebat dan ranum buahnya. Dapat kau petik dan makan bersama.
Satu hal yang mungkin sekarang kau belum mengerti bagaimana rasanya: penyesalan yang bertambah-tambah dari hilangnya sebuah kepercayaan.
Kalau kepercayaan begitu berharga dan kau jaga sepanjang masa, bagaimana dengan hati yang telah dipercayakan padamu?
Kita hanyalah manusia. Seseorang yang tak luput berbuat salah dan dosa. Akan ada hal yang tak mampu kita hadapi dengan sikap berlapang dada. Kendali diri yang tidak lagi terjaga.
Sesekali, luka membuat kita butuh untuk bicara. Bukan untuk membela kesalahan yang ada, namun menjelaskan hal yang barangkali keliru di terima. Meskipun beberapa hal perlu di abaikan begitu saja.
Terlepas dari sikap dan kata-kata yang mampu membuat luka, kita selalu punya cara untuk mengendalikan itu semua. Ada hati dan logika. Keduanya butuh bekerjasama, agar apa yang terasa, tidak melukai setelahnya.
Katrina Vabiola
25/01/2018
“Calon Imam yang mengharapkan seorang istri yang shalihah, yang terjaga dan pandai menjaga, yang menyejukkan mata dan hatinya.. adalah seorang lelaki yang pandai “bercermin”.
Sudahkah ia melihat sosok dirinya seperti yang ia harapkan ada pada pasangannya kelak?“
“Menjaga dan Terjaga”
Lelaki dan perempuan yang hebat dalam menjaga dirinya, pasti akan enggan menatap lawan jenis yang bukan mahramnya, dan juga enggan untuk ‘mengundang’ yang bukan mahram untuk memandangnya. Apalagi melakukan yang lebih dari itu.
Sebab rasa malunya jauh lebih besar kepada Allah Azza wa Jalla ketimbang mengikuti hawa nafsunya.
Untukmu yang Terjatuh
Tulisan ini untukmu, yang merasa bahwa dunia mengkhianati perjuanganmu. Barangkali saat ini kondisimu tidaklah baik, sedang berada pada posisi hancurnya impian dan retaknya hati. Pada tangisan yang hanya terdengar lirih oleh diri sendiri dan berharap orang lain tidak melihat lemahmu.
Tenanglah, sebentar lagi akan habis masa sulitmu dan datang masa mudahmu. Bukankah begitu janji-Nya padamu yang mampu bersabar meski ada tangisan? Bahkan itu sebuah kenikmatan saat kamu mampu mengalokasikan banyak dari waktumu untuk selalu berdoa dan mengadu? Sebab orang yang sedang bahagia dan merasa bangga dengan pencapaiannya belum tentu dekat dengan-Nya. Nikmatilah masa-masa sulitmu.
Aku tahu bagaimana sakitnya dikhianati dan merasa gagal, aku tahu bagaimana rasanya lelah menunggu dan sulitnya merangkak bangkit. Tapi begitulah cara Allah mengajarkan dan menjadikanmu lebih kuat, memberikanmu pencerahan bahwa harapan terbaik itu hanya pada Allah.
Kesuksesan dan keberhasilanmu bukanlah dijamin oleh manusia, ketenangan dan kenikmatan hidup juga bukan berasal dari manusia, sudah waktunya kamu sadar dan mengubah jalan pikiran. Bahagia dan sengsara itu milik Allah, maka biarkan Allah yang memberikan rasa itu pada setiap hamba-Nya. Tugasmu hanya mengabdi dan menjadikan setiap perjuanganmu itu ibadah. Niat dan ikhlas.
Untuk yang sedang mencoba merapihkan kaca yang pecah karena ujian perjalanan hidup, semoga Allah memberikanmu kekuatan untuk terus berprasangka baik dan selalu optimis, bahwa setelah kesukaran ini akan ada kemudahan dan kemenangan.
Dariku yang sedang menata jalan kehidupan.
@jndmmsyhd
Meyakinkan Diri
Apa yang lebih menenangkan daripada hati yang lapang dan kepasrahan pada keputusan Allah? Bahkan pada waktu yang terhimpit dan sangat mustahil untuk terjadi pun akan mudah untuk mengikhlaskan, jika menempatkan "Bismillah, insyaalloh apapun yang terjadi nanti itu yang terbaik dari Allah" pada urutan kalimat pertama yang keluar dari hati dan lisan.
Yang kurang darimu bukanlah orang dalam, tapi keyakinan bahwa Allah yang memberikan rezeki. Yang lemah darimu bukanlah kekuatan atau uang, tapi tawakkal yang maksimal. Kamu tidaklah sedang berlomba untuk mengumpulkan dunia ini, tapi kamu sedang berlomba untuk berbuat kebaikan. Mencari penghidupan agar bisa beribadah dengan baik dan agar bisa berbagi juga bagian dari kebaikan. Perbaiki lagi niatmu jika hanya untuk mengumpulkan dunia.
Kelak, kamu akan menyadari bahwa yang benar-benar akan menolongmu itu bukanlah harta dunia, tapi amal kebaikan yang selalu kamu utamakan. Sebab dunia akan selalu menipumu.
Atur kemmbali niat, jangan sampai menuhankan atau menjadikan dunia sebagai tujuan. Ia hanya perantara dan kendaraan saja yang kamu pun bisa memilihnya atau tidak.
Selamat berjuang dan memperbaiki hati.
@jndmmsyhd
Each heart has some pain. Only the way of expression is different. Some hide it in their eyes while some hide it in their smile.
- Unknown
saat-saat perempuan kalah (dan menang)
sepanjang perjalananmu menikah kelak, akan ada banyak sekali yang harus kamu korbankan. itu sudah pasti. itu adalah keniscayaan. pada setiap pengorbanan yang kamu berikan, akan terbesit di hatimu bahwa kamu–kalah.
mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu harus mengganti cita-citamu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu tidak bisa bersinar sebagaimana kamu mampu, sebab sumber cahayamu harus kamu bagi kepada anak-anakmu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika pasanganmu bisa memenangkan dunianya, sedangkan kamu tidak. atau, ketika pasanganmu tidak lagi jatuh cinta kepadamu–meskipun dia masih menyayangimu.
percayalah, kami para perempuan sebelum kamu, sudah pernah mengalami perasaan-perasaan kalah itu. itu semua bukanlah “kekalahan” yang berarti. ada perasaan kalah yang sangat hebat–yang mungkin terjadi pada perempuan dan semoga tak pernah terjadi kepadamu–yaitu saat seorang perempuan, tak lagi menjadi yang satu-satunya.
sudah, tidak bisa kami ceritakan bagaimana rasa kalahnya. kami hanya bisa mengerti mengapa Rasul tak izinkan Ali menikah lagi. perasaan kalah itu tidak hanya akan menjadi milik sang perempuan sendiri.
kami tidak membenci poligami, kami hanya belum mampu untuk mengalaminya apalagi menjalaninya. pada semua jenis mengalah untuk menang, tidak menjadi satu-satunya tak ambil bagian. tidak menjadi satu-satunya seringkali adalah mengalah untuk benar-benar kalah.
sekiranya hampir semua perempuan sudah memahami bahwa ada dua cara baginya untuk menang: mengalah dan mengabdi. namun sekiranya semua laki-laki juga perlu memahami bahwa perempuan tak mampu menjadi yang pertama–perempuan hanya mampu menjadi yang satu-satunya.
ini adalah pesan untuk anak-anakmu kelak. kepada yang perempuan, mengalahlah untuk menang. sungguh semua yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah tangga-tangga menuju kemenangan–jika kamu sabar dan ikhlas menapakinya.
kepada yang laki-laki, jangan ada yang kedua, ketiga, keempat–hanya Rasul yang bisa dan boleh–jangan pernah ada meskipun hanya terbesit di benakmu saja. sebab bagimu, ada dua cara untuk menang: menjaga dan menghargai. menjaga pandangan, lisan, pendengaran, dan kemaluanmu. menghargai setiap “kekalahan” pasanganmu.
dari generasi sebelum kamu, agar kamu mendengarkan dan memahami.
setiap orang, punya caranya sendiri untuk membela Agama-Nya. . akan senantiasa ada yang fokus pada hafalan-hafalan kalamNya, sehingga Al-Quran tak akan bisa diubah sepanjang zaman. . pun juga ada yang merelakan dirinya melangkah dari satu Dauroh ke Dauroh lain, dari Syuro’ ke ngurus Kajian lanjut membundar, seperti itu terus ritmenya. . yang senantiasa membina dikala deadline akademik terus mengejar, dikala tesis dan skripsi melambai untuk dijamah, pun selalu ada. . atau yang berkontribusi pada ranah praktis seperti siyasi kampus, agar Islam tetap hidup dimanapun dan bagaimanapun kondisinya. . dan pula, yang senantiasa membuktikan kebesaran Allah pada setiap penelitian-penelitian yang menjuarai event Karya Ilmiah nasional maupun internasional. . ah indah sekali menyaksikan setiap orang berlomba untuk menjadi Pejuang-PejuangNya. . . يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
O you who have believed, if you support Allah , He will support you and plant firmly your feet. (QS Muhammad: 7) . . . i was nominated by @rg_pratama to post one ayat of Al Quran a day on my feed for the next seven days. . . next i nominate my best ideological sister @zulfa_km @izzadawy to post one Ayat a day on their feed and also nominate a new person everyday to do the same. #QuranChallange #oneayataday #quranchallenge2017 #challangeaccepted (at Ikadi Jatim)
“F (Fulana) : Nanti senggang kalau udah lengser S (Saya) : Gaak, nanti senggangnya kalau udah kebentuk struktur organisasi tahun depan. Kan kita masih formatur, pasti masih ikut syuro. Eh ga deng, ga akan lega karena kita masih jadi dewan pertimbangan. Leganya kalau udah balik Jakarta F : Di Jakarta juga masih harus ngurus LDS, Bil..”
— Pada hakikatnya, ga akan ada kata senggang bagi pejuang. Gak ada kata berhenti untuk berjuang. Istirahatnya kapan ? Nanti kalau kaki ini sudah menginjak syurga-Nya.
Sekolah Utama Keluarga
“Saya itu pengennya dari dulu bisa melahirkan generasi terbaik yang jadi tonggak kebangkitan umat”
Adalah Ibu Siti Soekiswati, seorang dokter, dosen, mahasiswa S3 sekaligus S1, single-parent, dan ibu dari 6 anak yang haafidz dan calon haafidzah. Tak ada kebetulan sepertinya ketika Allaah swt mempertemukan saya, Mbak Mutiara Ulfah, dan Mas Wiwid Santiko untuk bersilaturrahim ke rumah Ibu Siti Soekiswati dan mendengar kisah hidup beliau yang begitu menginspirasi. Beliau mungkin tidak memiliki jabatan mentereng di pemerintahan atau perusahaan tapi prestasinya yang jauh lebih baik daripada apapun dalam kodratnya sebagai perempuan, yakni menjadi Ibu yang berhasil. Anak-anaknya selain menguasai ilmu agama dan hafal Al-Quran, juga menguasai ilmu umum.
Dua anak pertamanya menempuh pendidikan dokter di UNS dan UGM. Anak ketiganya berkuliah di Farmasi UGM, anak keempat berkuliah di Transportasi Kelautan ITS, anak kelima masih duduk di bangku SMA, dan anak keenamnya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Keenam anaknya selain sering menyabet juara kelas, sering juga memenangkan berbagai kompetisi sehingga di ruang tamu rumahnya, penuh oleh trofi dan piala.
Ketika kami datang sore itu, Bu Siti sedang melayani pasien. Tidak lama setelah kami duduk mengobrol dengan anaknya, beliau datang dengan gelas berisi teh hangat, piring penuh roti, baskom berisi ubi rebus, dan nampan bertudung penuh pepaya. Beliau mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan seraya meminta maaf karena tidak menyuguh dengan lebih pantas. Suguhan sebanyak itu saja dibilang belum pantas, bagaimana pantasnya, pikir kami.
Rupanya, sore itu Bu Siti belum lama pulang dari kantor tempatnya mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sehari-hari, beliau memang mengajar di sana, sembari kuliah doktoral. Setelah menyelesaikan segala aktivitas akademik hingga sore hari, beliau masih menyempatkan diri untuk buka praktek dokter di rumah hingga Isya. Beruntung sekali sore itu kami dapat mengobrol panjang lebar dengan beliau sehingga mendapatkan banyak sekali ilmu tidak hanya tentang parenting, tapi juga hukum kesehatan.
*****
Bu Siti kecil lahir di Bojonegoro, hampir setengah abad yang lalu. Keluarganya boleh dibilang termasuk keluarga yang cukup berpendidikan, kendati masih tergolong abangan. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah SMK, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga tulen. Sejak kecil, beliau sudah terlihat memiliki bakat yang beragam dan cerdas, terbukti dengan prestasi hasil belajar dan kompetisi yang beliau menangkan. Akibatnya, orangtuanya jarang sekali menyuruh dan latihan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ibunya hanya menyuruhnya belajar supaya menjadi orang pintar.
Dengan kecerdasan yang dimiliki sekaligus lingkungan yang mendukung, Bu Siti menjadi begitu bersinar di sekolah. Rata-rata raport sekolahnya tidak pernah menyentuh angka di bawah 90, semuanya berkisar antara 90-100. Selain jadi bintang kelas, beliau juga sangat aktif. Ia pernah menjadi vokalis band, anggota tim voli, dll. Sampai pada akhir masa SMA-nya, beliau diterima di dua universitas dengan jurusan yang berbeda, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Setelah istikharah dan berpikir panjang, beliau akhirnya memilih meniti jalannya menjadi dokter.
Di UNS-lah, hidayah Allaah swt datang. Paparan dakwah kampus membuat Bu Siti berhijrah. Ia yang tadinya tidak berjilbab jadi menutup auratnya. Beliau sangat bersemangat untuk belajar agama. Saking semangatnya, berbagai harakah dia ikuti karena lugunya ia terhadap dunia Islam. Sampai pada masa co-ass, beliau memutuskan untuk segera menikah untuk menjaga dirinya.
Dari beberapa lamaran yang datang, setelah istikharah, Bu Siti memutuskan untuk menikah dengan Pak Noor Hadi. Hal ini didasarkan pada mimpi beliau yang dibonceng oleh seorang laki-laki naik sepeda. Laki-laki itu menggunakan baju koko putih dan peci hitam. Dan ketika Pak Noor Hadi datang melamar dengan pakaian persis seperti lelaki dalam mimpinya, maka beliau yakin bahwa itu adalah jodohnya sebagai jawaban atas istikharah yang dipanjatkannya.
Saat itu, prinsip Bu Siti sederhana, jika memilih jodoh pastikan agamanya lurus dan benar terlebih dahulu, selainnya tinggal taat pada suami. Maka, ketika tahu bahwa Pak Noor Hadi bukan hanya sekedar guru bahasa Inggris, namun juga seorang da’i, beliau semakin yakin dengan pilihannya. Walaupun harus menolak lamaran lainnya yang berasal dari seorang psikolog dan kepala sekolah yang notabene lebih mapan dan menjanjikan. Dan memang, menikah dengan Pak Noor Hadi membuat hidup beliau berubah 180°.
Di masa co-ass beliau yang sudah berumahtangga dan memiliki anak, Bu Siti harus berjuang untuk bertahan hidup. Beliau harus membuat donat dan makanan kecil lain untuk dijual sebagai tambahan pemasukan keluarga. Kegiatannya selalu sama, pagi co-ass di klinik atau puskesmas, sore menyiapkan bahan, malam memasak, subuh mengantarkan masakannya ke warung-warung. Di sela-sela itu, beliau masih harus mengurusi anak dan suami.
Setelah sumpah dokter pun, Pak Noor Hadi melarang Bu Siti untuk bekerja di luar rumah. Beliau hanya diperbolehkan untuk praktek di rumah dan mengurus anak dengan sebaik mungkin. Beliau yang notabene tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah pun jadi shock dan stress. Walaupun sering bertengkar, tapi beliau tetap menurut pada suami.
“Tugas istri itu ya nurut sama suami. Pokoknya nurut aja. Pegang dulu hikmahnya di awal, ikhlasin, baru dijalanin”, begitu ujarnya.
Jadilah kegiatan sehari-hari Bu Siti di rumah biasa, seperti memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, dll. Awalnya, beliau mengerjakan dengan berat hati. Tapi lama-kelamaan beliau mendapatkan hikmahnya. Beliau jadi tidak rela jika keluarganya makan makanan yang tidak ia masak.
“Karena kan memasak kalau sambil didzikirin itu masakannya jadi berkah. Lha kalo beli di luar kita ndak tau ditambahin apa, gimana akhlak yang jual”, kata beliau.
Perihal mencuci, Bu Siti juga mengutamakan tangannya sendiri untuk membersihkan baju suami dan anaknya karena pahalanya lebih utama. Selain pekerjaan rumah tangga, beliau rutin menemani anak-anaknya belajar jadi ia mengerti betul progress anak-anaknya di sekolah. Semua anaknya dekat dengan beliau, dan beliau paham seluk-beluk karakter dan kesukaan anaknya. Bahkan sebelum berangkat sekolah, Bu Siti rela memasak banyak menu hanya demi memenuhi kesukaan makanan masing-masing anaknya.
Bu Siti benar-benar memposisikan diri sebagai ibu terbaik untuk keluarga. Bahkan beliau sering menjahit sendiri baju seragam keluarga. Jarang sekali beliau berbelanja pakaian. Kalaupun beli baju paling di pasar atau di mall yang tergolong murah. Hatinya tidak tega jika uang yang dikeluarkan hanya membuat kaya orang kaya, dan memiskinkan orang miskin.
Sebagai pengatur keuangan keluarga, Bu Siti berhati-hati benar menggunakan uang. Dulu, beliau dan suaminya sempat berbisnis jati. Namun, hasil bisnis itu tidak pernah beliau gunakan untuk makan sehari-hari karena takut kurang berkah. Makanan sehari-sehari diupayakan dari penghasilan praktek dan gaji suami.
Pernah suatu kali Bu Siti menerima uang yang “abu-abu” dan sempat “dimakan” oleh anak keduanya. Anak yang bersih itu bereaksi hebat ketika ada harta haram masuk ke dalam mulutnya. Ia menderita muntah darah dan hampir saja maut merenggut. Dalam kedaan kritis itu, bukannya bersedih larut, Bu Siti hanya berdoa,
“Ya Allaah jika anak ini akan Kau ambil, maka ambillah. Tapi jika tidak, jadikan ia pemimpin yang akan menyejahterakan umat.”
Akhirnya si anak sembuh dan kini hampir lulus jenjang sarjana di FK UGM.
Saat melepas anak-anaknya sekolah di pesantren saat umur 6 tahun, Bu Siti juga merasa berat hati dan sering menangis. Tapi kemudian ia terbiasa juga apalagi mendengar anaknya berhasil menghafalkan 16 juz di kelas 1 SD. Bagi Bu Siti, keputusan memasukkan anak-anaknya ke pesantren adalah keputusan yang tak ternilai harganya. Karena dengan menjadi penghafal Al-Quran dan anak yang shalih-shalihah, itu menjadi aset akhirat paling berharga untuk orangtuanya. Meski begitu, beliau menyayangkan orang yang memasukkan anaknya ke pesantren tanpa pendidikan keluarga yang baik.
“Banyak orang mengira masukin anak ke pesantren itu yowes masukin aja tanpa pendidikan di keluarga yang baik. Padahal nggak kayak gitu. Pendidikan yang utama itu ya di keluarga. Lha ibu itu sekolah utama untuk anak-anaknya. Anak kalau dimasukin pesantren tapi orangtuanya sibuk nggak ngurusin yowes sama aja nanti hasilnya.”, ujar Bu Siti.
*****
Setelah terbiasa menjadi ibu rumah tangga selama sekitar 20 tahunan, kehidupan Bu Siti terpaksa harus berubah drastis kembali karena suatu hal. Pak Noor Hadi, suaminya, meninggal karena serangan jantung. Mau tidak mau, beliau harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Beruntung ia hanya menanggung separuh biaya pendidikan 2 anak, sedangkan keempat lainnya hanya menambah sebagian karena mendapat beasiswa. Dan karena pendidikan karakter yang kuat dari beliau, anak-anaknya sangat pandai dan mandiri mengatur keuangan masing-masing. Jadi meski sangat kecil pemasukan keluarga, dengan kebutuhan tujuh orang, masih bisa dinikmati dan dirasakan lebih dari cukup.
Untuk menunjang finansial, Bu Siti lalu mendaftar menjadi dosen di UMS sembari menjalani S2 Ilmu Hukum. Beliau memang tertarik sekali dengan hukum kesehatan karena belum banyak yang menekuni. Mendapati fakta-fakta yang miris di lapangan, beliau bertekad untuk menegakkan keadilan di dunia kesehatan. Hal ini mendorong untuk belajar dan meneliti dengan giat hingga akhirnya beliau berhasil lulus dalam 20 bulan dengan IPK 3,875. Dan itu diraih tanpa mengorbankan urusan dan kewajiban beliau sebagai ibu rumah tangga.
Berprestasi di bangku pascasarjana membuat Bu Siti ditawari profesor pembimbingnya untuk meneruskan studi doktoral. Meski khawatir akan biaya, akhirnya beliau mengambil juga S3 Ilmu Hukum di UMS atas saran khas suaminya sebelum meninggal,
“Kesempatan itu tidak hadir dua kali, kalo duit bisa dicari. Makanya lebih cepat diambil insyaallaah lebih baik”. Kata Pak Noor Hadi kala itu.
Supaya beliau bisa mendapat beasiswa, maka jenjang pendidikan yang beliau ambil harus linier. Beliau pun harus menempuh S3 sembari kuliah S1 di jurusan yang sama. Maka Bu Siti pun mengambil juga kuliah S1 Ilmu Hukum di Universitas Islam Batik Surakarta.
“Saya ndak tau ya, di Indonesia itu lucu tenan. Mosok ya ada dokter mau buka klinik nggak boleh tapi perawat sama bidan boleh. Padahal kan ndak boleh itu regulasinya. Terus masak bidan sama perawat ki bisa nangani penyakit dan kasih obat to. Belum lagi orang bisa periksa di apotek. Apotekernya Cuma nanya sakit apa langsung dikasih obatnya. Lha itu kan nggak ada proses diagnosis, Cuma apalan aja. Ya untung nek nggak mati pasiennya”, ujarnya mengeluhkan hukum kesehatan di Indonesia yang masih morat-marit.
Bu Siti juga menyebutkan lebih banyak kasus kebobrokan dunia kesehatan di Indonesia, dan di akhir beliau menyampaikan cita-citanya untuk dapat menegakkan hukum yang adil di dunia kesehatan.
“Perjuangannya masih panjang sekali untuk bisa benar-benar menegakkan hukum. Makanya yang muda-muda ini yang nanti meneruskan.” ujarnya.
Ada hal yang sedikit ganjil tapi mengagumkan kala menyelami kehidupan Bu Siti. Beliau bisa sangat berapi-api menceritakan seluk-beluk hukum kesehatan, padahal sebetulnya belum lama ia menekuninya. Hidupnya seperti dikurung di rumah selama puluhan tahun, tapi begitu keluar dan kembali belajar, beliau bisa melesat mengangkasa di bidang yang ditekuni. Kecerdasan yang dulu begitu melekat padanya tidak lantas pudar hanya karena menjadi ibu rumah tangga, bahkan meningkat pesat. Karena baginya, hidup itu ibarat lomba lari. Semakin dekat dengan garis finish, seharusnya semakin cepat berlari supaya tidak tersalip oleh yang muda. Semakin tua, seharusnya semakin banyak belajar dan berkontribusi, bukan malah menjadi lemah dan tak berdaya.
“Hidup itu ibarat lomba lari, semakin dekat garis finish harusnya larinya semakin kencang. Maka, saya harus semakin banyak belajar dan kontribusi biar ndak disalip sama yang lebih muda.” Kata Bu Siti.
Bu Siti begitu bersyukur lama menjadi ibu rumah tangga, karena selain anak-anaknya tumbuh dengan ketaqwaan, bekerja di lapangan justru membuat seseorang menjadi cepat tua dan sulit terhindar dari fitnah. Beliau menjadi bukti bahwa memang sekolah utama anak-anak memang ibunya. Al-ummu madrasatuluulaa li aulaadihii.
Satu prinsip lain yang terus dipegang oleh Bu Siti tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 9 yang artinya,
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”
Seorang ibu tidaklah pantas meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah sekedar untuk bekerja. Dan setelah itu, tugas selanjutnya adalah bertaqwa dan berkata benar. Menurut pada suami, memasak, mencuci, menjahit, bersih-bersih, adalah sedikit dari bentuk ketaqwaan Bu Siti sebagai seorang istri dan Ibu. Terlebih lagi prinsip kehati-hatian dan keadilan, menjadi manifestasi nyata kedekatan beliau dengan Allaah swt.
*****
Di akhir obrolan itu, tampak oleh saya matanya yang berkaca-kaca. Bercerita panjang lebar tentang seluk-beluk kehidupannya membuat beliau terharu rupanya. Sampai di satu statement terakhir yang membuat saya tertegun karena hal tersebut adalah cita-cita saya juga,
“Saya bersyukur sekali menikah dengan suami saya dan mengalami kehidupan yang seperti ini. Dari dulu cita-cita saya itu cuma supaya bisa melahirkan generasi terbaik yang menjadi tonggak kebangkitan umat.”
Ah, percakapan sore itu memberi kami begitu banyak pelajaran. Otak kami dipenuhi oleh berbagai inspirasi, sementara bibir kami memanjatkan do’a untuk beliau. Semoga Allaah swt senantiasa kuatkan ya, Bu.
=================================================
MasyaaAllah, tulisan yang dibuat oleh saudari asrama saya dan suaminya :”)
semoga banyak hikmah yang didapat bisa diteladani..
Author : Zahratul Iftikar Jadna Masyhida Editor : Khoirul Fahmi
Tulisan lama. And somehow, tidak pernah menyangka kini jadi menantunya :“”