Kau yang kedatangannya selalu kunanti, Pasti memiliki sebuah arti, Yang mana merupakan tujuan mengapa takkan terganti, di hati.
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Argentina

seen from South Africa
seen from Sweden
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Poland

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Chile

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Chile
seen from United States

seen from United States
Kau yang kedatangannya selalu kunanti, Pasti memiliki sebuah arti, Yang mana merupakan tujuan mengapa takkan terganti, di hati.
Kadang ada hal-hal yg melintas dan membuat hati terasa sesak tak tertahankan.
Gerimis di Awal Januari
Apa yang paling kamu sukai dari antalogi rintik yang bernama gerimis? Suaranya yang gemerisik, butirannya yang memercik, atau basahnya yang menelisik? Kalau aku, paling suka dengan pesan yang disampaikannya. Pesan, yang kali ini berjodoh dengan bulan Januari. Pesan yang harus sampai kepada hati.
***
Awal memang permulaan yang seringkali tak mudah. Seperti yang harus dihadapi Januari pada tahun ini. Hari-harinya dihiasi dengan gerimis. Ada yang sebagian, ada yang seperempat, ada juga yang sepenuhnya. Ada yang hanya gerimis, ada yang menderas menjadi hujan, ada pula yang membadai bersama angin. Pun bagi sebagian besar orang; memulai adalah salah satu perkerjaan paling sulit yang pernah ada. Ada yang tak pernah bisa untuk melakukannya. Ada yang tak tahu bagaimana caranya. Sebagian orang harus menempuhnya dengan paksa, diantara sebagian itu ada yang bisa mengubah paksa menjadi suka. Sebagian yang lainnya sampai akhir tetap terpaksa. Dan adakah yang paling melelahkan, selain melakukan sesuatu dengan terpaksa?
Tak ada yang lebih setia menemani hujan selain gerimis. Ia ada di awal, tengah dan juga akhir. Hanya durasi dan volumenya saja yang tak sama. Tapi gerimis selalu ada dalam prosesi hujan. Entah memulai, mendampingi atau mengakhiri. Tak seperti kita, yang terkadang hanya bisa memulai tapi tak sampai menyelesaikan. Andaikata tak menyelesaikan apa yang sudah kita mulai adalah salah satu bentuk kejahatan, mungkin setiap kita sudah layak untuk dipenjarakan. Atau mungkin, kita sudah terlalu banyak ‘menyuap’ diri sendiri dengan berbagai rupa pembenaran, sampai menganggap kesalahan sebagai kewajaran? Atau kita lebih pilih aman untuk membebankan kesalahan itu secara sengaja atau tidak ke anak-cucu kita?
Memang adakalanya, kita harus berhenti di tengah jalan sebelum menyelesaikan tujuan. Karena bisa jadi, berhenti bisa berarti tanda selesai itu sendiri. Atau kita baru menyadari kalau jalan yang kita ambil ternyata salah, dan harus berbalik ke jalan yang benar. Tapi kalaupun harus demikian, berhentilah dengan penuh kesadaran, dengan penuh tanggungjawab. Bukan berhenti tanpa ketidakjelasan, bukan berhenti dengan ketidakpedulian. Seperti juga gerimis, yang sesekali menjeda satu hujan ke hujan berikutnya, atau berhenti sekian waktu untuk muncul kembali, atau berpindah dari satu tempat untuk menggerimisi tempat yang lainnya. Agar apa yang kita mulai, lebih banyak yang bisa kita selesaiakan. Karena hanya sedikit orang yang berani memulai, dan diantara sedikit yang berani itu, tidak semuanya kuat untuk menyelesaikan.
Tak ada yang pernah tahu pasti kapan gerimis datang, begitupun berapa lama durasinya. Karena konon katanya, ada beberapa hal yang Tuhan rahasiakan dari semua makhluk, termasuk dari setan dan malaikat; gerimis adalah salah satu diantaranya. Siapapun tak bisa mencegah datangnya gerimis. Kita hanya bisa basah karena menerobosnya, atau berteduh sampai gerimis itu berhenti jatuh, atau terserah pilihan lainnya yang kita punya dan kita suka. Hidup juga demikian. Penuh ketidakpastian, dan satu kepastian berupa kematian. Tak ada yang tahu pasti kapan kita terkena musibah, kapan kita mendapatkan nikmat. Seperti gerimis yang di suatu tempat menjadi musibah, tapi di tempat yang lain menjadi nikmat. Tapi apapun bentuknya, cara terbaik untuk menghadapi kepastian ataupun ketidakpastian adalah dengan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, bukan dengan menunggu. Seperti juga gerimis, yang tak terlalu menjadi masalah untuk orang-orang yang membawa payung. Barangkali kita juga harus memperbesar ‘payung’ sabar dan syukur kita, agar tidak terlalu berat menjalani ujian, yang pasti datang dalam kehidupan kita. Atau ‘payung-payung’ lainnya yang dibutuhkan untuk bekal kehidupan kita di masa mendatang, dengan banyak-banyak berbuat baik, misalkan.
Salah satu yang menarik dari gerimis adalah arahnya yang didiagonalkan angin. Tapi ia tetap jatuh membasahi bumi. Tujuannya jatuh ke bumi juga baik, karena pada dasarnya, gerimis dijatuhkan Tuhan sebagai rezeki bagi makhluk-Nya. Tinggal masalahnya, tergantung orang yang di bumi menganggapnya sebagai nikmat ataukah bencana. Begitu juga selayaknya kita, mempunyai tujuan dalam menjalani apapun proses kehidupan yang akan kita lewati. Mungkin sesekali tujuan itu akan terombang-ambingkan angin, tapi itulah yang akan menjadi alat untuk mengetahui apakah kita sudah sungguh-sungguh. Banyak diantara kita yang pandai membuat rencana, tapi malas untuk mengeksekusi. Padahal, sebaik-baiknya rencana, adalah rencana yang dijalankan. Mungkin ada yang lupa kita lakukan sebelum membuat rencana; memperkuat tekad. Karena seberapa hebatpun sebuah rencana, akan sulit untuk dijalankan, kalau kitanya tidak punya keinginan yang sungguh-sungguh. Tapi kalau kitanya sungguh-sungguh seperti gerimis, sebesar apapun angin yang menerpa, akan tetap membawa kita pada tujuan.
***
Jadi, apa kabar Januari kamu? Januariku masih gerimis. Seperti cuaca di luar sana. Belum sampai hujan, tapi cukup merepotkan. Ada beberapa hal tak terduga yang datang. Ada banyak rencana yang harus dirapihkan. Ada beberapa kerikil yang menyulitkan langkah. Ada beberapa keinginan yang perlu disesuaikan. Ada tekad yang masih perlu dibulatkan. Ada niat yang harus lebih diluruskan. But life must go on, right? Toh, gerimis akan selalu berlalu. Sama seperti waktu, sama seperti Januari.
[Kutipan Buku Menata Hati, Nazrul Anwar]
"Orang yang sholeh tak akan pernah menyakiti hatimu. Ia sangat khawatir melukai perasaanmu. Kalimatnya santun, petuturnya jadi nasihat, dan ketika ia berkata yang hadir dari lisannya adalah hikmah yang senantiasa menyejukkan hatimu.
(Bayem banget) "
-Surat Cinta untuk Kekasih Sejatiku, page 69-
Makasih atas pembelajaran selama 1,3 tahun yang telah kau beri. Tentang suka,duka,gundah,gelisah,galau,geget ga karuan,gemess,rindu yang sendu, serta penambah semangatt yang pernah kurasakan dalam memendam rasa. Makasih atas 480 hari yang menurutku berarti meski sebenarnya itu tak baik. Dan karena Ia lebih sayang padaku, jadi ku putuskan untuk mengikhlaskanmu sejenak. Karena katamu sendiri kan "Terkadang kita butuh merelakan cinta kita laksana matahari yang mencintai bumi. Mereka mencintai dari jauh. Tak pernah mendekat, tak perlu lekat. Justru jika mereka dekat,yang ada mereka akan hancur lebur. " . Maka dari itu kuputuskan tuk mencintai-Nya lebih dulu sebelum semuanya terlambat. Toh, kalau jodoh gaakan salah arah. Tetap semangatt dalam kebaikan bayem yang bikin adem. Aku ingin menjadi matahari dulu yaa.. Tetap jadi bumi :) ! Makasih 1152 jam nyaa... Makasih sudah mengisi hati ❤
Selama 40 Hari Menjelang Kematian, Manusia Akan Mengalami 5 Hal Ini, Tapi Banyak yang Tak Menyadarinya
Selama 40 Hari Menjelang Kematian, Manusia Akan Mengalami 5 Hal Ini, Tapi Banyak yang Tak Menyadarinya
Selama 40 Hari Menjelang Kematian– Kematian merupakan hal yang pasti dan akan menghampiri setiap mahluk yang bernyawa. Hal yang tak diketahui anyalah waktu datangnya, karena itu merupakan rahasia Allah SWT. Namun, walaupun kematian tak diketahui datangnya kapan, sebelum kematian itu datang akan ada tanda-tanda yang mungkin dapat kita ketahui. Hanya saja biasanya seseorang tidak dapat menyadarinya.
View On WordPress
Menata Hati
Saudaraku,tatkala urusan dunia sedang menghantui kita, urusan akhirat sering kali tertimbun oleh lapisan-lapisan kepentingan yang penuh fatamorgana. Saya teringat oleh sebuah taujih yang disampaikan oleh saudara kita. Semoga dengan nasihat yang kembali saya tulis ini,mampu menerangi hati kita agar senantiasa istiqomah menjalankan perintah-perintah-Nya
Saudaraku, saat sepeda motor mewah dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan. Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita? Nasihat ini selalu kusimpan,kubuka ketika hati sedang kalut dan bimbang oleh urusan dunia.
Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.
Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?
Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita.
Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman.
Wallahu a’lam bishshowaab.
Ujian Keikhlasan
Semua orang binasa kecuali yang berilmu. Semua yang berilmu binasa kecuali yang beramal. Semua yang beramal binasa kecuali yang ikhlas. (Imam al-Ghazali)