Belajar Menebar (lagi)
Menulis bukan hal yang susah, hanya perlu jari-jari lentik mu menari diantara huruf-huruf. Kamu tahu? Lalu, dimana yang sulit?
Komitmen. Komitmen pada diri sendiri. Komitmen yang bisa melawan segala rintangan yang menghadang.
Komitmen katanya yang membedakan the winner and the loser. Jika benar maka diri ini sendirilah yang menentukannya. Sudah pasti komitmen kita, kita yang melakukannya dan untuk kebaikan diri kita sendiri.
Jika tantangan ini bisa berlalu, maka akulah pemenang. Jika tidak, aku jugalah yang akan mendapatkan hukumannya, bukan?
Baiklah. Kenapa sih gabung di zona menulis daring? Karena menurutku ada hal-hal baik yang perlu dipaksakan. terkadang cukup tahu pun tak menjadi apa-apa. Yang perlu adalah tindakan. Namun kadang ada saja halangannya. Maka, paksa. Lewat diri sendiri ataupun orang lain, yang mampu memaksa diri ini melakukannya, demi kebaikan.
Beberapa bulan yang lalu saya turut andil dalam sebuah challenge menulis 30 hari dengan tagline pribadi "belajar menebar”. Menebar apa? Kasih sayang? Hehe.. bukan. Menebar benih. Benih-benih yang diharapkan menjadi sebuah kebaikan, yang bisa berakar manfaat. Setidaknya sedikit, pun tidak, semoga tidak menjadi mudhorat. Apakah berhasil? Berhasil. Setengah. Setengahnya lagi kehilangan semangat komitmen. Hehe.
Bahkan yang sengaja dipaksakan pun diri ini masih lalai, apalagi jika tidak memaksakan sebuah tindakan yang kita tahu bisa menjadi kebaikan. Nah, maka di zona ini saya coba memaksakan diri lagi untuk "belajar menebar".
Paragraf ini merupakan jawaban dari alinea 4. Iya, ada konsekuensinya jika tidak berkomitmen. Apa? Jika dalam 30 hari kedepan kehilangan satu hari tanpa sebuah karya maka pekerjaan rumah menghabiskan sebuah buku dalam maksimal 3 hari. Itu susah, beneran deh. Saya suka buku tapi jarang baca. Hehe. Semoga ini berhasil membentuk sebuah kebiasaan baik.
Semangat belajar, semangat menebar, semangat berubah dan semangat bermanfaat.
Salam juang ketik ketik Iffa NF
cc @nabilaghaida











