Refleksi 2024: Bangkit dari Kehilangan
Tahun ini, menjadi tahun untuk kembali bangkit. Bangkit dari titik bawah dalam hidup, berjuang kembali ke jalan semula. Kalau dari judulnya, bangkit dari kehilangan, ya.. bangkit, bangun. Sebelumnya, maaf kalau hal ini terus dibahas. Tapi, izinkan untuk menoreh kata demi kata tentang ini.
“Selalu ada hal yang bisa dipelajari”. Bahasa sederhananya, hikmah. Kata yang bijak untuk sebuah kehilangan. Menghadapi kehilangan, setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk bertahan. Satu cara untuk bertahan adalah BANGKIT. “Membangunkan” jiwa dan raga dari “tepiannya”. Yang awalnya bersembunyi dari keramaian, lalu ia mencoba kembali muncul ke permukaan. Mencoba kembali ke aktivitas biasa, walau butuh waktu dan proses yang lama sekalipun.
Sekilas mengingat momen-momen yang dilalui setahun ini. Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, rasa kehilangan itu pelan-pelan bisa terobati. Tidak instan, tidak langsung sembuh 100 persen, tapi sedikit demi sedikit bisa dilalui. Proses akan menjawab dengan sendirinya, pernah suatu ketika salah seorang sahabat melontarkan kalimat ini. Benar juga. Dengan mau berproses, berarti kita mau untuk melangkah lebih jauh. Kalau bukan karena Allah, kalau bukan karena dorongan orang-orang di sekitar, mungkin sudah dari jauh-jauh hari stres dan rasa takut terus menghantui. Meratapi terus apa yang terjadi, tanpa berusaha untuk keluar dari kondisi itu.
Hikmah besar yang dirasakan dari kehilangan ini, adalah timbul keinginan untuk menulis dan menerbitkannya menjadi sebuah karya. Memberanikan diri ikut event menulis di @30haribercerita, sebuah platform di instagram dimana yang ikut event ini mengunggah cerita 1 day 1 story di feed instagramnya dalam satu bulan penuh di bulan Januari. Hasilnya, benar-benar belajar konsisten dan berani untuk menulis hingga dibaca oleh khalayak di dunia maya. Bahkan ada peserta event ini yang berhasil mengangkat cerita-cerita yang diunggahnya selama beberapa tahun menjadi buku dan diterbitkan. Kemudian, mengikuti event menulis antopologi “Puisi untuk Palestina” bersama puluhan author lainnya dari seluruh daerah di Indonesia, dan bukunya Alhamdulillah sudah terbit di Juni lalu. Walaupun baru di penerbit lokal, tapi ini sudah menjadi pencapaian luar biasa bagi diri sendiri. Semoga suatu saat bisa menerbitkan karya orisinil sendiri di penerbit nasional, bahkan kalau bisa menjangkau pasar internasional, Aamiin.
Dari ini, tersadar bahwa menulis rasanya bisa sedamai itu. Menulis, bisa menjadi jembatan bangkit dari rasa kehilangan. Menulis, bisa jadi kekuatan sendiri dalam proses menyembuhkan batin. Kita tak perlu merasa dihakimi, hanya perlu keberanian kuat untuk itu. Mengalir saja, tanpa perlu merasa terbebani. Lebih bersyukurnya lagi, tulisan kita bisa jadi penguat bagi orang lain yang mungkin sedang mengalami hal yang sama dengan kita.
Di luar daripada itu, mengoleksi buku bacaan lagi menjadi hikmah berikutnya. Menengok sebentar ke arah kumpulan buku bacaan. Tahun ini banyak juga koleksi bukunya, gumam si hati. Biasanya jarang beli buku, paling dalam setahun hanya 1-2 buku, atau bahkan tak ada yang dibeli. Tiap mampir, kalaupun ada buku yang diinginkan, hati menahan untuk tidak membelinya. Namun sejak momen itu, kebiasaan berkunjung ke toko buku balik lagi, meskipun sekadar menengok buku-buku yang sedang terpajang di sana. Kalau ketemu yang bagus, tanpa pikir panjang langsung membelinya. Teringat di masa kecil, alm ayah suka mengajak kami mampir ke toko buku, beliau mengizinkan kami membeli komik, yang digandrungi oleh anak-anak seusia kami kala itu. Bagi beliau, yang penting kami gemar membaca, baca buku apapun yang disukai.
Menjelang akhir tahun, ada tawaran mengajar privat untuk mahasiswa di kampus sini. Awalnya sempat ragu, takut, khawatir tak bisa maksimal, tapi akhirnya diambil juga kesempatan itu. Setelah menjalani dan menyelesaikan pembelajarannya, ternyata mengajar juga bisa jadi obat untuk menyembuhkan hati. Dengan kembali melakukan aktivitas yang menghadirkan atau dihadirkannya perasaan trauma, sedih, kehilangan, dan sebagainya, justru kita hendak mengembalikan perasaan itu dan berusaha menggantinya dengan syukur dan sabar. Jadi, kita tak kabur, sebaliknya kita hadapi situasi itu lagi.
Balik ke pernyataan di atas, “selalu ada yang bisa dipelajari”. Jika kita pandai mengambil hikmah dari setiap ujian, tantangan yang hadir, kita akan merasakan betapa besarnya nikmat dibalik semuanya. Kita tidak akan mudah terperosok ke lubang yang dalam. Kita akan tenang dalam mengambil sikap. Kita akan lebih bijak dalam menyoroti segala aspek yang ada dalam hidup kita. Kita akan lebih bisa mengeksplor diri kita lebih jauh lagi. Dari kacamata manusia biasa, tak bisa dipungkiri bahwa kepergian orang yang dicintai adalah kehilangan mendalam. Akan tetapi, yang harus selalu diingat, Allah akan selalu ada untuk kita. Rencana Allah itu pasti lebih baik, dan itu jadi misteri untuk kita telusuri dan hadapi. Kenangan, akan jadi penguat bagi kita untuk melangkah ke depan. Berkawan dengan diri sendiri, jadi teman paling nyata untuk mengarungi perjalanan berikutnya. Tapi.. jangan lupa juga, kita tidak sendirian. In sya Allah di luar sana masih banyak yang mau mendukung kita, menghargai proses yang sedang kita lalui, dan tidak mudah menghakimi keputusan apa yang kita ambil.
Terima kasih banyak 2024, telah menjadi kawan dalam bertumbuh, merasakan hadirnya perasaan itu, melepasnya pelan-pelan. Tidak apa-apa kalau lambat, tidak apa-apa kalau lama. Jangan terlalu mengikuti ekspektasi, sebab setiap individu punya waktunya masing-masing untuk berproses dalam hidupnya.
Hai, 2025. Kita berkawan ya, semoga banyak hal-hal baik yang datang, dimudahkan menggapai asa dan harapan yang belum terwujud di tahun-tahun sebelumnya, dimudahkan dalam menghadapi berbagai tantangan berikutnya, serta terus menjadi yang lebih baik setiap harinya.











