REFLEKSI DI PENGHUJUNG RAMADHAN 1447 H
Dua tahun yang lalu pernah menulis refleksi atau renungan akhir Ramadhan, kala itu bersambung dengan cerita Ramadhan sebulan penuh. Edisi ini, ingin sedikit membahas dari pengalaman pribadi.
Ramadhan tahun ini terasa lebih sunyi dan khidmat. Tidak banyak beraktivitas di luar rumah. Melaksanakan kurikulum Ramadhan dan pekerjaan rumah. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, kurikulum Ramadhan terlaksana dengan baik, walau ada yang tidak penuh setiap hari. Belajar dari sebelumnya, Ramadhan tahun ini mencoba menyusun kurikulum yang kira-kira bisa dilakukan, yang tidak dimampukan tidak masuk to-do-list.
Pekerjaan rumah, ini tidak bisa lepas. Mau di bulan Ramadhan maupun di luar itu, pekerjaan rumah setiap hari akan selalu menghampiri. Tidak ada habis-habisnya. Di samping itu, pertanyaan “kapan kerja?” sesekali masih menghantui, tapi dicoba menjawabnya dengan santai. Mungkin saat ini sedang menikmati ritme yang dijalani, sambil terus mendawamkan doa dan harapan.
Beberapa hal yang dirasakan berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, berbuka puasa secukupnya. Biasanya berbuka dengan menu apa saja yang common masyarakat kita konsumsi, sekarang memilih untuk berbuka dengan lebih sehat. Air putih hangat, kurma – dua menu ini wajib ada di hidangan – rebus-rebusan, buah, dan lain-lain.
Berikutnya, journaling sebelum tidur. Alhamdulillah tahun ini khususnya bulan Ramadhan ini mencoba menulis jurnal lagi. Apa-apa saja yang disyukuri, yang perlu diperbaiki, dan yang perlu dilakukan esok harinya. Ini menjadi catatan bahwa di hari itu kita sudah melakukan berbagai macam kebaikan, dan suatu saat bisa kita membacanya lagi untuk merefleksinya.
Membaca buku, ini sejujurnya masih jadi pe-er, belum dimampukan setiap hari. Tapi, diupayakan untuk meluangkan waktu terutama menjelang adzan maghrib, membaca walau 1-2 halaman.
Puasa gawai 30 menit sesudah bangun tidur dan sebelum tidur. Alhamdulillah setelah sebulan mencobanya, ada yang dua-duanya bisa, ada yang sesudah bangun tidur saja, ada yang sebelum tidur saja. Efeknya tidur lebih nyenyak dan mata tidak lelah, selain itu melatih disiplin waktu, tidak scroll gawai terlalu lama.
Hal lain yang spesial di bulan Ramadhan tahun ini, dikasih Allah nikmat sakit di awal dan di akhir puasa. Ma sya Allah walhamdulillah. Demam di permulaan, lalu flu dan batuk di penghujung, nikmat betul. Lebaran ini juga tidak bisa ikut sebab dikasih rukhsah, dan sudah dua tahun berturut-turut tidak bisa ikut shalat ‘Idul Fitri. Tahun ini tidak berkumpul langsung bersama keluarga, menikmati Idul Fitri di rumah saja. Sedih tapi tetap harus berbahagia menyambutnya.
Alhamdulillah, betapa Ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah. Mulai dari niat berpuasa, bangun di malam hari, sholat malam, sahur, berpuasa, tadarrus Al-Quran, ifthar, tarawih dan witir. Hingga zakat fitrah dan Idul Fitri, menjadi satu kesatuan utuh yang sangat dirindu-rindukan di bulan-bulan lain.
Ketika bulan ini akan pergi, rasa sedih tak pernah absen. Sedih karena belum bisa maksimal beribadah di bulan mulia ini. Sedih karena masih banyak beraktivitas ‘duniawi’ daripada ‘ukhrawi’. Bulan ini pasti akan hadir kembali, namun tidak ada jaminan kita bisa bertemu lagi dengannya atau tidak.
Tak henti-henti berterima kasih banyak wahai Ramadhan untuk segala pendidikan dan pembelajarannya. Maafkan atas segala khilaf dan kekurangan selama beribadah di bulanmu ini. Semoga amal ibadah selama sebulan penuh ini diterima Allah SWT. Dan selamat jalan, bulan kemuliaan. Semoga dimudahkan untuk terus menghidupkanmu di 11 bulan berikutnya, dan semoga Allah izinkan bertemu kembali denganmu di tahun depan dan di tahun-tahun berikutnya dengan kondisi dan pribadi yang lebih baik dan lebih siap untuk menyambutmu dengan penuh kebahagiaan.
Selamat datang bulan kebahagiaan, bulan Syawwal. Dan selamat menyambut Idul Fitri dengan penuh sukacita, sahabat semua. Taqabballallah minna wa minkum, kullu ‘am wa antum bikhair, wa ja’alanallah minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin...













